Beginilah Cara Melawan Gerakan Intoleransi

Mudheng dot com – Ada kemauan pasti ada jalan, demikianlah yang sering kita dengar. Banyak orang bilang bahwa, saat ini Indonesia darurat intoleransi. Maraknya ormas-ormas intoleran (seperti FPI, FUI, GNPF MUI, dll) disambut gagap oleh masyarakat umum. Ada yang ikut-ikutan, ada yang bingung, ada pula yang melawan setengah hati. Sedangkan elite-elite politik cuma bisa koar-koar tumbuhkan toleransi selagi faktanya di lapangan justru berbanding terbalik. Apakah situasi ini membuat kita patah arang? Jawabannya adalah jangan. Gampang kok melawan gerakan intoleran. Mau tahu caranya?

1. Jangan takut.

Indonesia dari awalnya adalah masyarakat pluralis, jangan percaya kampanye-kampanye yang mencoba menampakkan sebaliknya. Mereka ingin Anda percaya itu, dan begitu Anda percaya, selesai sudah semuanya.

Begitulah cara narasi politik bekerja. Ia bisa dipakai untuk membuat Anda percaya bahwa Anda lemah, anda terpecah, lalu kepercayaan itu akan mengalami internalisasi dalam diri Anda, dan Anda sendiri yang mewujudkan apa yang mereka inginkan.

2. Rebut kembali domain publik.

Kembalikan kehadiran dalam ruang-ruang publik yang telah lama kalian tinggalkan. Buat kegiatan-kegiatan yang inklusif dan dilakukan bersama-sama, lepas dari ras, agama dan golongan; kaya atau miskin. Lomba badminton, lomba sepak bola, lari atau jalan sehat bersama, balap karung, kerja bakti, festival seni, pertunjukan musik, lomba dalang cilik terbaik, lomba baca puisi, dan lain sebagainya.

Isi kembali ruang publik dengan kehadiran kalian yang personal. Tidak perlu bawa lambang-lambang pluralisme, bhinneka tunggal ika atau sebagainya, karena itu justru menunjukan bahwa kalian tidak yakin.

3. Desak pemerintah untuk membantu Anda dalam mewujudkan ruang publik yang pluralis.

TAPI INGAT! Pluralisme harus terus dikedepankan. Ia harus bekerja untuk semua ras, agama dan golongan. Kaya maupun miskin. Buktikan bahwa, pluralisme juga memberikan keadilan ruang; karena ruang diokupasi oleh banyak orang, termasuk yang miskin. Jika Anda gagal menjaganya menjadi kekuatan yang adil, maka seketika itulah terbukti bahwa pluralisme gagal dan mengecewakan bagi si miskin, dan juga semua kelas sosial-ekonomi dalam tatanan masyarakat.

Gampang bukan?

Betul, sebetulnya gampang. Tapi kehidupan kita semua telah membuatnya menjadi susah. Susah bagi Anda untuk meninggalkan kenyamanan-kenyamanan praktis yang membunuh praksis-praksis kemanusiaan secara nyata. Kita semua sudah tercerabut dari kemanusiaan. Akibat mimpi bahwa, seolah-olah kehidupan nyata dapat bekerja sendiri memperbaiki diri walaupun Anda tinggalkan.

Kabar buruk bagi Anda: Ia tidak bekerja seperti itu. Hal-hal yang Anda abaikan akan basi, membusuk, mencari taraf ekuilibrium yang lebih rendah; jauh lebih rendah dari yang Anda kira, dan inginkan.

Jadi gampang susahnya ya tergantung apakah kita mau peduli atau tidak. Cukup peduli untuk sungguh-sungguh berbuat sesuatu, bukannya mewakili perasaan-perasaan pada bunga-bunga atau apa pun atribut dan simbolnya.


Verdi Adhanta, pengamat amatiran yang hobi audio visual.

, , , , , ,

Tinggalkan Komentarmu