Bisnis Teror di Abad 21

Mudheng dot com – Teror adalah bisnis modern ketika manusia sudah punya kendali atas arus informasi dan demokrasi. Secara umum, teror menciptakan suasana takut. Ketakutan adalah gol dari teror. Namun dia tidak lagi berfungsi sebagaimana awalnya dulu; tindakan teror dilakukan di suatu tempat, dan kemudian suatu kelompok teroris akan mengklaim mereka yang melakukannya. Setidaknya begitu di mancanegara. Tapi tidak demikian yang terjadi di Indonesia; bom meledak, tidak ada kelompok yang langsung dengan antusias mengklaim perbuatannya sambil mengeluarkan pernyatan yang spesifik. Pendeknya; tidak jelas. Terorisnya bersembunyi, tidak ingin diakui.

Bom Bunuh diri
Ini adalah formulir reqruitment Al-Qaeda (Foto dari Associated Press) yang sudah diterjemahkan. Untuk mendaftar menjadi martir.

Apakah tujuan dari teror tanpa pernyataan?

Teror konvensional bertujuan untuk menciptakan perubahan sosial politik yang diinginkan pelaku teror. Tapi tampaknya tidak sejelas itu lagi, sekarang.

Kita lihat kasus Fauzi Hasbi. Setelah ditangkap oleh Safrie Samsudin, dia kemudian jadi dekat dengan intelijen Indonesia.

Menurut John Mempi, analis keamanan dan pengamat intelijen Indonesia, Fauzi Hasbi menjadi tokoh penting dalam pembentukan JI, Jamaah Islamiyah. Fauzi Hasbi yang memfasilitasi kongres Jamaah Islamiyah pertama di Bogor, setelah Abu Bakar Ba’asyir pulang dari Malaysia. Padahal, saat itu Fauzi Hasbi sudah menjadi “agen” Intelijen Indonesia. Artinya, Intelijen Indonesia memfasilitasi gerakan radikal di Indonesia, secara langsung maupun tidak.

Begitu Fauzi Hasbi terekspos sebagai agen Intelijen, tiba-tiba ia terbunuh di awal tahun 2003. Dan anaknya, Lamkaruna Putra, yang juga aktif dalam gerakan Islam radikal dan tahu banyak soal ayahnya, tiba-tiba tewas dalam kecelakaan pesawat tahun 2005.

Tempo juga pernah menerbitkan laporan investigasi “Intel – Ghost of Christmas Past“, yang menunjukan hubungan Fauzi Hasbi dengan kampanye teror berupa pemboman masal pada malam Natal tahun 2000: Bom meledak hampir bersamaan di 18 titik di 6 propinsi Indonesia, kebanyakan di antaranya gereja, yang kemudian disalahkan pada Jamaah Islamiyah.

Dalam investigasi Tempo tersebut, Fauzi Hasbi ditunjukan berhubungan langsung dengan Edi Sugiarto, sang pembuat bom, serta Jacob Tanwijaya yang berhubungan dengan Iwan Prilianto dari Intelijen Kodam 1 Bukit Barisan.

Penyelidikan ini kemudian berhenti karena Edi Sugiarto ditahan, dan sebagaimana kasus lain di Indonesia, akhirnya masuk peti es.

Jadi apa yang bisa kita simpulkan dari terorisme; ketakutan, dan ledakan-ledakan yang telah membunuh ratusan bahkan ribuan orang di Indonesia?

Terorisme adalah bisnis. Sumber dayanya adalah kebodohan, ketidak-tahuan, ketakutan. Banyak uang menjadi modal untuk terorisme, dan uang tidak dikeluarkan hanya untuk bersenang-senang.

Tapi bussines model ini sudah banyak operatornya. Banyak pemodalnya. Luar dan dalam negeri, ramai-ramai jualan waralaba terorisme. Bisa jadi mereka saingan; bisa jadi bekerjasama.

Yang jelas, yang jadi korban adalah rakyat biasa.

Bagaimana menghentikan teror?

Posisikan “pelaku” teror (atau yang rentan menjadi pelaku terror) sebagai korban bisnis teror. Salah satunya, dengan mensosialisasikan pengetahuan atas bisnisnya. Argumen-argumen keagamaan sulit digunakan karena akan berakhir pada debat tak kunjung akhir. Lebih baik tunjukan bahwa, teror itu bukan soal agama, tapi masalah ekonomi-politik.

Kerahkan akademi dan ilmuwan social science untuk meneliti operator jaringan teror dan jadikan mata pelajaran sejak SMA, kalau perlu masukan dalam pelajaran Agama; agar rakyat, terutama kalangan target rentan, paham betul bagaimana para pengusaha bisnis teror mendulang kapital dan keuntungan-keuntungan ekonomi politik dari situ. Bagaimanapun, bisnis terror bergantung pada supply SDM, karena bom bunuh diri hanya sekali pakai. Dengan memperkenalkan ini pada lingkungan rentan, mereka akan paham betul apa yang sebenarnya terjadi, dan menghindari menjadi korban.


Verdi Adhanta, pengamat amatiran yang hobi audio visual.

, , , , ,

Tinggalkan Komentarmu