Ormas Intoleran dan Tafsir Otoriter dalam Beragama

Kita tidak bisa menutup mata dan telinga kita bahwa saat ini masyarakat mulai resah terhadap ormas-ormas intoleran yang melakukan aksi-aksi kekerasan atas nama agama. Mereka telah mencederai nilai-nilai toleransi di negeri ini. Mustahil jika mereka merepresentasikan nilai-nilai kedamaian dalam agama. Justru sikap mereka disebabkan oleh penasiran otoriter dalam beragama.

Pernyataan Lengkap Komisi Tingkat Tinggi Hak Asasi Manusia PBB

Pernyataan KTTHAM PBB dalam misi kunjungannya ke Indonesia menyoroti pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi di Indonesia, yang merupakan langkah mundur pada era demokrasi dan keterbukaan seperti saat ini. Demikian pula dengan pembahasan RKUHP yang menurutnya sangat rentang mendiskriminasi kelompok minoritas, seperti LGBTQ yang semakin terancam dan distigma oleh pelbagai kalangan.

Nilai-Nilai Keluarga Neo-Liberal dan Kriminalisasi LGBT

‘Nilai-nilai keluarga’ boleh jadi terdengar sebagai frasa usang yang kerap diulang-ulang. Namun Melinda Cooper dalam ceramahnya di sebuah lokakarya seputar bukunya Family Values, between Neo-Liberalism and Social Conservative, menjelaskan bagaimana nilai-nilai keluarga (yang normatif) akhirnya menjadi sentral dalam ekonomi neo-liberal yang anti-normatif. Tulisan ini mengeksplorasi lebih lanjut kaitannya antara nilai-nilai keluarga neo-liberal dan kriminalisasi lgbt.

Kisah Seekor Uang: Ekonomi Berdasarkan Utang

Orang-orang mengeluh soal utang negara, dan bagaimana melunasi utang Indonesia yang kian membengkak. Tampaknya orang-orang belum memahami di dunia macam apa mereka hidup saat ini. Membicarakan soal utang tentu tidak lepas dari perbincangan soal ekonomi. Tentu penjelasan ini adalah ekonomi dalam pendekatan ideal. Asumsinya dalam klausa ceteris paribus: tidak ada politik, geopolitik, perang, konflik, dsb. Artinya, semua manusia adalah homo economic, well informed, psikologinya sama, dan homogen. 

Generasi yang Melestarikan Kekerasan Massal

Ingatan kolektif tentang G30S hanyalah mengenai pembunuhan tujuh perwira yang lebih diingat daripada pembunuhan keji berjuta manusia yang dituduh komunis. Genosida komunis dianggap layak dan wajar karena ingatan dialihkan kepada rasa nasionalisme dalam menjunjung pahlawan yang berkorban demi negara. Justifikasi demikian menyangkal tindakan pembunuhan – karena yang dikorbankan adalah manusia yang berlawanan dengan moral.

Diskriminasi LGBT Pertanda Pluralisme Abal-Abal ala Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika merupakan imajinasi sebagai bangsa dan negara yang plural, yang majemuk. Falsafah ini yang kemudian mendasari Indonesia sebagai negara kesatuan. Namun untuk menguji pandangan tentang kebhinekaan tersebut, salah satu cara yang termudah adalah dengan menghadapkan mereka pada orang-orang LGBT. Kita akan segera lihat apakah orang itu benar-benar pro-keberagaman atau tidak.

Mitos Banyak Anak Banyak Rezeki yang Sulit Dihilangkan

Pada tahun 1945, jumlah penduduk Indonesia sekitar 40-60 juta orang. Kemudian pada sensus pertama tahun 1971 beranjak menjadi 119 juta orang. Sekarang sudah mau 72 tahun Indonesia merdeka hampir 260 juta menurut badan statistik pemerintah. Jadi, 72 tahun orang Indonesia beranak pinak seperti kelinci. Namun masih saja penduduk negeri ini tidak sadar dengan kepadatan penduduk? Masih berpikir banyak anak banyak rezeki?

Cuma Boikot Starbucks? Masih Ada 379 Perusahaan Lain Pendukung LGBT

Barangkali cukup satu kata ketika seruan boikot terhadap Starbucks lantaran dianggap mendukung (suppport) LGBT, yaitu HIPOKRIT. Perusahaan-perusahaan dunia yang sebagian besar mendukung infrastruktur peradaban manusia saat ini–dari perusahaan listrik, internet, komputer, e-commerce, keuangan, industri makanan, dan segala hal-ihwal lainnya–tegas menyatakan dukungan mereka terhadap hak asasi manusia bagi LGBT.