Tak Gentar Menegakkan Khilafah, Tapi Takut Berdemokrasi

Banyak pandangan mengemuka bahwa demokrasi adalah produk Barat, digali dari kultur dan pemikiran filsafat Barat, dan tidak kompatibel bagi dunia Islam. Di sisi lain, lahir kelompok-kelompok ekstrim yang mengatasnamakan Islam melakukan perlawanan terhadap hal-hal yag berbau Barat, termasuk demokrasi. Apakah demokrasi sedemikian menakutkan? Bagaimana dengan umat Islam Indonesia, apakah benar seperti yang diberitakan bahwa Indonesia adalah bukti yang menunjukkan bahwa Islam, modernitas, demokrasi bisa bekerjasama untuk kemajuan peradaban.

Nilai-Nilai Keluarga Neo-Liberal dan Kriminalisasi LGBT

‘Nilai-nilai keluarga’ boleh jadi terdengar sebagai frasa usang yang kerap diulang-ulang. Namun Melinda Cooper dalam ceramahnya di sebuah lokakarya seputar bukunya Family Values, between Neo-Liberalism and Social Conservative, menjelaskan bagaimana nilai-nilai keluarga (yang normatif) akhirnya menjadi sentral dalam ekonomi neo-liberal yang anti-normatif. Tulisan ini mengeksplorasi lebih lanjut kaitannya antara nilai-nilai keluarga neo-liberal dan kriminalisasi lgbt.

Berdagang Emas Papua dengan Nyawa

Presiden Soeharto menandatangani kesepakatan dengan Freeport, dan salah satu prioritas utama di masa awal berdirinya rezim Orde Baru adalah untuk mendapatkan pengakuan dan dukungan politik internasional. Pada tahun 1967, Freeport menjadi perusahaan asing pertama yang menandatangani kontrak dengan rezim Orde Baru. Tak lama setelah penandatanganan kontrak, konflik antara perusahaan dan masyarakat asli Papua berkobar. Amungme, Komoro, Moni, dan Nduga adalah suku adat Papua yang telah menderita akibat penjajahan modern.

Mitos Awal-Mula Alam Semesta, Tuhan, dan Agama

Semua bangsa memiliki mitos asal-usul untuk menjelaskan dari mana mereka berasal. Mitos-mitos tersebut memang menyenangkan, dan kita semua suka mengulang-ulang kisahnya. Proses pengulangan yang dalam studi sosial-budaya disebut meme (dibaca ‘mim’), dari kata ‘mimesis’ atau imitate. Begitu juga mitos yang mengandaikan tentang keberadaan tokoh yang sudah ada sebelum semesta itu ada. Seperti halnya, Bumba, Brahma, Odin, Pan Gu, Zeus, Osiris, Abassie (di Nigeria), Unkulukulu (pada bangsa Zulu), petapa tua di langit (atau Salish di Kanada), dan juga YAHWEH, Elohim, Allah.

Agama dalam Cengkeraman Pemerintah

Sila pertama Pancasila “Ketuhanan yang Maha Esa” gembar-gembornya sudah berhasil menjaga keberagaman budaya dan kepercayaan di Indonesia. Benarkah demikian? Indonesia hanya mengakui enam agama. Keenam agama tersebut bisa dianggap “agama impor” Islam, Kristen, Katholik, Buddha, Hindu, dan Konghucu (Konfusius). Lantas, tepatkah Indonesia disebut sebagai negara “pluralis”?

Kisah Seekor Uang: Ekonomi Berdasarkan Utang

Orang-orang mengeluh soal utang negara, dan bagaimana melunasi utang Indonesia yang kian membengkak. Tampaknya orang-orang belum memahami di dunia macam apa mereka hidup saat ini. Membicarakan soal utang tentu tidak lepas dari perbincangan soal ekonomi. Tentu penjelasan ini adalah ekonomi dalam pendekatan ideal. Asumsinya dalam klausa ceteris paribus: tidak ada politik, geopolitik, perang, konflik, dsb. Artinya, semua manusia adalah homo economic, well informed, psikologinya sama, dan homogen.