Hipokrisi Habib Rizieq Shihab dan Pengultusan Individu ala FPI

Mudheng dot com – Tak sedikit kalangan masyarakat menyesalkan kepolisian yang menggunakan urusan selangkangan untuk menjerat Habib Rizieq Shihab (HRS). Lantaran polisi memfokuskan pada kasus perbincangan mesum maka masyarakat ikut-ikutan merayakannya, dan menuntut kepolisian bersikap konsisten sebagaimana dalam kasus Ariel-Cut Tari-Luna Maya. Lagi-lagi urusan selangkangan, seksual, perempuan, dan moral dikait-kaitkan. Tubuh perempuan, dalam hal ini Firza Husein (FH), terus menjadi obyek seksisme.

Terlepas dari persoalan hukum, figur HRS sebagai pendakwah dan tokoh agama juga mengundang perhatian luar biasa ketika percakapan berbau pornografinya terbongkar di ruang publik. Pihak HRS menyatakan dengan tegas kalau itu adalah fitnah dan penuh rekayasa. Namun menurut penyidik kepolisian yang menangani kasus ini adalah asli. Ahli informasi dan teknologi yang diminta menguji bukti percakapan HRS dan FH di media sosial, juga menyatakan bukti itu asli dan bukan rekayasa.

Reaksi masyarakat pun bermunculan, terutama di kalangan orang-orang yang gerah terhadap aksi HRS yang dinilai rasis dan intoleran. Mereka melihat ini sebagai fakta bahwa, atribut dan jubah keagamaan sering dijadikan topeng penyelubung kebusukan. Namun, HRS sudah lebih dulu ‘melarikan diri’ ke luar negeri. Ada spekulasi yang mengatakan ia berada di Arab Saudi, tapi di mana saja ia bisa berada kini. Polisi baru bisa menetapkannya sebagai tersangka dan resmi buron saja.

Mekanisme Pertahanan Diri Habib Rizieq Shihab

Pihak HRS mengatakan ia diteror mau dibunuh, tapi tentu alasan seperti itu kedengaran seperti membual lantaran HRS juga tengah menghadapi sejumlah kasus. Bahkan yang lebih serius daripada soal selangkangan. Ada tuduhan menghina Pancasila, menghina agama lain, menghasut, ujaran kebencian, dan lain sebagainya. Tentu dalam keadaan demikian, sadar atau tidak sadar, pasti akan melakukan mekanisme pertahanan diri.

habib menghina KomnasHAMSigmund Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan diri (Defence Mechanism) untuk menunjukkan proses yang melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikkan kenyataan. Artinya, mekanisme pertahanan diri ini merupakan bentuk penipuan diri. Tiba-tiba HRS mengadu ke KomnasHAM dan meminta perlindungan. Kontan ia lupa pernah menyebut KomnasHAM hanya membela Hak Asasi Monyet. Kemudian HRS juga diberitakan telah bertemu komisioner HAM PBB. Padahal, aksinya yang menuding Ahok sebagai penista agama (beserta ujaran kebencian dan rasisnya) selama masa kampanye juga melanggar HAM.

HRS juga mengancam akan melakukan revolusi yang ia sebut ‘revolusi putih’ apabila kasusnya tetap dilanjutkan. Seseorang yang berada di tempat persembunyian, merasa diteror, lupa akan kelakuannya sendiri selama di negara asal, lalu menyerukan revolusi. Bukankah itu sangat kekanak-kanakan dan sekadar merupakan upaya untuk membuktikan bahwa perilakunya masuk akal (rasional), dapat disetujui, dapat dibenarkan, dan dapat diterima oleh dirinya sendiri dan masyarakat?

Seksualitas dan Hipokrisi Demagog Moral

Sebelum beralih ke HRS, ada sejumlah nama di Barat seperti; Randy Boehning, Steve Wiles, George Rekers, Pastor Eddie Long, Troy King, dan sebagainya, adalah sejumlah politisi dan/atau pemuka agama dari banyak orang-oraang yang selama karirnya berteriak-teriak anti-Gay, dan akhirnya ketahuan ternyata mereka adalah Gay. Kemudian daftar nama lain; Jimmy Swaggart, Laura Schlessinger, Newt Gingrich, David Vitter, Rush Limbaugh, Larry Craig, Ted Haggard, adalah sekian politisi dan pemuka agama yang sepanjang karirnya berteriak-teriak anti-hubungan seks luar nikah, yang kemudian terungkap sebagai pelaku seks  di luar nikah.

Kita kenal mereka dengan suatu istilah: Hiprokrit. Mereka yang memalsukan kenyataan pribadi demi mencapai social standing demi posisi politis. Kita segera melihat kepalsuan itu menjadi tema yang berulang-ulang, bahwa mereka yang ngotot dengan nilai nilai ‘moral’ itu ternyata adalah pelanggar nilai-nilai moral yang mereka bawa-bawa kemana-mana; dan ini bukan cuma sekali dua kali; peristiwa ini berulang-ulang kali terjadi, hingga secara umum kita bisa menebak dan menyimpulkan setiap kali orang2 seperti ini muncul: paling munafik saja dia.

Tentu kita bisa mengatakan bahwa para politisi dan pemuka Agama di atas melakukan itu dalam kerangka politik kepentingan. Tapi sebenarnya, ada situasi sosial-budaya di balik fenomena tersebut yang berkaitan langsung dengan pertumbuhan jiwa manusia dalam sebuah lingkungan yang tidak mengizinkan keutuhan, atau pemenuhan identitas, terjadi.

Bagi invidu yang punya dorongan seks yang kuat, yang hidup dalam masyarakat yang menganggap seks sebagai sesuatu yang tabu, maka individu tersebut akan secara instinctive menolak aspek dorongan seks dalam dirinya; dia malu atas dorongan seks yang dinggap tabu tersebut, dia menyangkalnya dan berusaha memutus asosiasinya dengan dorongans seks secara mental. Menyangkalnya dalam jiwanya.

Tapi tentu saja dorongan seks itu tidak lenyap; dia hanya tidak terekspresikan, dan kemudian disangkal dari kesadaran, lalu pindah ke dalam alam bawah sadar. Dia bisa saja tidak menyadari bahwa, dorongan seks itu tetap ada dalam bawah sadar dan malah menguasai dirinya dari balik kesadaran. Jadi ketika ia disebut orang sebagai makhluk seksual, maka ia tidak merasakan itu.

Hasilnya adalah rasa kosong yang berlebihan, karena ada bagian dari dirinya yang ia tak sadar; lenyap. Dan di balik kesadaran itu, ia membenci bagian yang lenyap tersebut sehingga ketika ada sesuatu di luar dirinya yang menunjukkan itu; misalnya ada tindakan seks yang terekspos di publik, maka itu justru menjadi gravitasi bagi dirinya, dan ia secara tak sadar justru terokupasi pada hal tersebut dan merasakan kebencian pada bagian dirinya sendiri yang hilang itu, lalu kebencian itu muncul sebagai ekspresi yang ia lontarkan pada obyek (yang dalam hal ini, kasus tindakan seks) ke mana ia proyeksikan sesuatu dalam dirinya yang hilang itu.

FPI yang Mengultuskan Imam Besar Habib Rizieq Shihab

Beredar informasi bahwa bandara akan ‘lumpuh’ ketika HRS pulang dari ‘pelariannya’. Kuasa hukum HRS menyebut akan ada pengerahan massa Front Pembela Islam (FPI) saat kliennya pulang dari Arab Saudi. Ia berharap massa yang menjemput bisa datang sebanyak-banyaknya sehingga bisa melumpuhkan bandara.

Apa yang ditampilkan oleh pendukung HRS selama ini tak ubahnya sebuah pengultusan. Hal ini muncul saat seseorang menggunakan media massa, propaganda, atau metode lain untuk menciptakan citra yang ideal, heroik, saleh, dan lain sebagainya sehingga aneka sanjungan dan pujian terus dijejalkan agar menepis keraguan kepada sosok tersebut. Dalam konteks sistem pemerintahan, kultus individu berhubungan dengan upaya mengubah atau mentransformasikan masyarakat sesuai dengan gagasan radikal. Seringkali, seorang pemimpin tunggal dikaitkan dengan transformasi revolusioner ini, dan kemudian diperlakukan sebagai panutan absolut bagi masyarakat banyak.

Melihat sikap FPI terhadap imam besar mereka, tampak adanya dorongan untuk konformitas, untuk seragam dan untuk memiliki identitas kelompok. Mereka sering merasa teralienasi; Mereka mengalami semua ketidakberdayaan dan merasa diperlakukan tidak adil oleh negara. Mereka bisa merasakan semakin terisolasi ketika gagap terhadap perubahan dan arus kebudayaan global yang demikian cepat, dan mereka tidak bisa mengikutinya. Padahal, mereka ingin melestarikan (conserve) nilai-nilai lama yang sudah obsolete dan oleh masyarakat dunia telah disimpan sebagai arkais di museum-museum peradaban.

Ketidakpuasan dan keputusasaan membutuhkan pelampiasan jalan keluar. Kemudian datanglah elite politik (atau militer, atau siapa saja) yang secara teknis menawarkan bantuan sembari mengipasi bahwa, yang arkais dan sudah ditinggalkan umat manusia itu bisa kembali kontemporer, yang tentu saja, mimpi basah di siang bolong.


K. El-Kazhiem, penulis kelas ‘siapa elu’, penerima jasa sunting naskah, dan soliter.

, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Komentarmu