28
Jan

Homo Sapiens, Manusia dari Zaman Batu Sampai Zaman Silikon

Mudheng dot com – Sekitar 13,5 miliar tahun lalu, zat, energi, waktu, dan ruang tercipta setelah peristiwa yang dikenal sebagai Ledakan Besar (Big Bang). Kisah tentang fitur-fitur fundamental alam raya kita ini dinamai fisika. Sekitar 300.000 tahun setelah kemunculannya, zat dan energi mulai menyatu menjadi struktur-struktur rumit yang dinamai atom-atom; yang kemudian bergabung menjadi molekul-molekul. Kisah tentang atom-atom, molekul-molekul, dan interaksinya disebut kimia. Sekitar 3,8 miliar tahun lalu, di sebuah planet bernama Bumi, molekul-molekul tertentu bergabung membentuk struktur-struktur yang cukup besar dan rumit yang disebut organisme. Kisah tentang organisme ini dinamai biologi. Sekitar 70.000 tahun lalu, organisme dari spesies Homo Sapiens mulai membentuk struktur-struktur yang lebih rumit lagi bernama budaya. Perkembangan selanjutnya dari budaya-budaya manusia ini disebut sejarah.

Tiga revolusi penting membentuk jalannya sejarah: Revolusi kognitif mengawali sejarah sekitar 70.000 tahun lalu. Revolusi Agrikultur mempercepatnya sekitar 12.000 tahun lalu. Revolusi Saintifik, yang baru mulai berjalan 500 tahun lalu, kemungkinan akan mengakhiri sejarah dan memulai sesuatu yang benar-benar berbeda.

Tujuh puluh ribu tahun lalu, Homo sapiens adalah binatang yang tak signifikan, yang mengurusi urusannya sendiri di suatu sudut Afrika. Dalam milenium-milenium berikutnya, bertransformasi menjadi penguasa Bumi dan meneror ekosistem. Rezim Sapiens di Bumi sejauh ini menghasilkan sedikit yang bisa kita banggakan. Kita telah menguasai alam sekitar, meningkatkan produksi makanan, membangun kota-kota, mendirikan imperium-imperium, dan menciptakan jaringna-jaringan perdagangan. Namun, apakah manusia menurunkan jumlah penderitaan di dunia? Dari waktu ke waktu, peningkatan masif kekuatan manusia tidak dengan sendirinya memperbaiki kesejahteraan individual Sapiens, dan biasanya malah menyebabkan penderitaan besar bagi binatang-binatang lain.

Manusia sudah ada jauh sebelum ada sejarah. Binatang-binatang yang sangat mirip manusia modern ada sekitar 2,5 juta tahun lalu. Namun sepanjang banyak generasi yang tak terhitung jumlahnya, mereka tidak mampu mengungguli kedigdayaan organisme-organisme lain yang berbagi habitat dengan mereka.

Di atas ketinggian di Afrika Timur, 2 juta tahun lalu, sekumpulan sosok lazimnya manusia; ibu-ibu yang gelisah tengah membuai bayi-bayi mereka dan kecipak riang anak-anak bermain di lumpur; pemuda-pemuda temperamental yang dongkol menentang aturan masyarakat dan para tetua yang lelah minta ditinggalkan dalam suasana tenang; kaum jagoan dengan dada berdebar-debar yang berusaha memikat gadis-gadis cantik lokal dan para nyonya rumah yang menyaksikan semua itu. Manusia-manusia kuno ini bercinta, bermain, membentuk pertemanan akrab, dan bersaing untuk status dan kekuasaan—tetapi begitu juga simpanse, babon, dan gajah. Tak ada yang istimewa tentang semua itu. Tak ada satu pun, sekurang-kurangnya manusia-manusia itu sendiri, yang punya firasat keturunan mereka suatu hari kelak akan berjalan di Bulan, membelah atom, menyibak kode genetik, dan menulis buku-buku sejarah. Hal paling penting untuk diketahui tentang manusia prasejarah adalah bahwa mereka makhluk yang tidak signifikan, tidak memiliki pengaruh lebih besar terhadap lingkungan dibandingkan gorila, kunang-kunang, atau ubur-ubur.

Para ahli biologi mengklasifikasikan organisme menjadi spesies-spesies. Binatang-binatang tertentu dikatakan masuk spesies yang sama jika cenderung cocok satu dengan yang lainnya. Kuda dan keledai memiliki kesamaan leluhur dekat dan punya banyak kesamaan sifaat bawaan fisik. Namun kedua spesies itu menunjukkan ketertarikan seksual satu sama lain. Keduanya akan berpasangan jika dipaksa melakukannya—tetapi keturunannya, yang disebut bagal, akan mandul. Oleh karena itu, mutasi-mutasi dalam DNA keledai tidak pernah bisa menyeberang ke kuda atau sebaliknya. Dengan demikian, kedua jenis spesies binatang itu dianggap sebagai dua spesies yang terpisah, melintasi jalur-jalur evolusi yang terpisah. Sama halnya buldog dan spaniel, mungkin tampak sangat berbeda, tetapi keduanya adalah anggota spesies yang sama, punya kesamaan sifat-sifat bawaraan DNA. Mereka bisa berpasangan dan keturunan mereka akan tumbuh untuk berpasangan dengan anjing-anjing lain dan menghasilkan anak-anak anjing.

Spesies-spesies yang berevolusi dari satu leluhur yang sama dikelompokkan di bawah nama “genus” (jamak: genera). Singa, harimau, macan tutul, dan jaguar adalah spesies-spesies yang berbeda dalam genus Panthera. Para ahli biologi melabeli organisme-organisme dengan nama Latin yang terdiri dari dua kata, genus diikuti spesies. Singa, misalnya, disebut Panthera leo, spesies Leo dari genus Panthera. Demikian halnya manusia modern yang berhasil menyintas dalam proses evolusi—disebut Homo Sapiens, adalah spesies sapiens dari genus Homo.

Selanjutnya genera dikelompokkan dalam famili, seperti famili kucing (singa, cheetah, kucing piaraan); famili anjing (serigala, rubah, anjing hutan) dan famili gajah (mamut, mastodon, gajah modern). Semua anggota satu famili memiliki garis keturunan dari satu moyang yang sama. Semua kucing, misalnya, punya kesamaan nenek moyang hidup sekitar 2,5 juta tahun lalu.

Homo sapiens juga anggota sebuah famili. Fakta yang terang-benderang ini biasanya menjadi salah satu rahasia sejarah yang paling ketat disimpan. Homo sapiens sejak lama memilih untuk memandang diri mereka terpisah dari binatang. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Suka atau tidak suka, kita adalah anggota dari satu famili besar dan sangat berisik yang disebut kera besar (Apes). Kerabat terdekat kita yang masih hidup antara lain simpanse, gorila, dan orangutan. Simpanse adalah yang terdekat. Hanya enam juta tahun lalu, satu kera betina tunggal punya dua anak perempuan. Satu menjadi leluhur simpanse, dan satu lagi adalah leluhur manusia.

Akan tetapi, ada satu masa di mana Homo sapiens memiliki saudara dari genus yang sama. Manusia pertama kali berevolusi di Afrika Timur sekitar 2,5 juta tahun lalu dari satu genus kera lebih awal yang dinamakan Austalopithecus, yang berarti “Kera Selatan”. Sekitar dua juta tahun lalu, sebagian dari manusia kuno laki-laki dan perempuan ini meninggalkan tanah air mereka dalam perjalanan melintasi dan menetap di area luas Afrika Utara, Eropa, dan Asia. Karena untuk menyintas seleksi alam dan bertahan dalam hutan-hutan bersalju di Eropa utara memerlukan kemampuan-kemampuan berbeda dari yang diperlukan untuk tinggal di belantara Indonesia yang hangat. Populasi manusia berevolusi ke arah yang berebeda pula. Hasilnya adalah beberapa spesies berbeda.

Manusia di Eropa dan Asia Barat berevolusi menjadi Homo neanderthalensis (Manusia dari lembah Neander), yang secara populer dirujuk begitu saja sebagai “Neanderthal”. Fakta fosil bahwa Neanderthal bertubuh lebih gempal dan berotot daripada kita, sapiens, menunjukkan proses adaptasi yang baik dengan iklim dingin Eurasia Barat pada zaman Es. Semakin ke Timur, wilayah Asia dihuni oleh Homo erectus (Manusia tegak), yang bertahan mendekati dua juta tahun, menjadikannya spesies manusia paling awet. Di Pulau Jawa, Indonesia, hidup Homo solensis, “Manusia dari Lembah Solo”, yang cocok dengan kehidupan tropis. Di pulau lain di Indonesia—pulau kecil Flores—hidup manusia kuno yang tampaknya mengalami proses pengerdilan fisik. Kemungkinan manusia pertama yang mencapai Flores ketika permukaan air laut sangat surut dan pulau itu mudah diakses dari daratan utama. Ketika laut pasang, sebagian orang terperangkap di pulau, yang miskin sumber daya. Orang-orang besar yang membutuhkan lebih banyak makanan, matu lebih dahulu. Sedangkan yang bertubuh kecil lebih bisa bertahan. Selama beberapa generasi melewati proses evolusi mereka menjadi kerdil. Spesies unik ini, yang dikenal sebagai Homo floresiensis, mencapai tinggi maksimum hanya satu meter. Meskipun demikian, mereka mampu menghasilkan peralatan dari batu untuk bertahan hidup.

Kemudian ada pula spesies Homo denisova, yang pada 2010 fosilnya ditemukan di Gua Denisova, Siberia. Atau Homo rudolfensi (Manusia dari Danau Rudolf), Homo ergaster, dan siapa yang tahu berapa banyak kerabat kita, sapiens, yang hilang sesungguhnya sedang menunggu ditemukan di gua-gua lain, di pulau-pulau lain, di benua-benua di seluruh permukaan Bumi. Para anggota dari spesies tersebut berbadan besar dan yang lainnya kerdil. Sebagian adalah para pemburu yang menakutkan dan yang lain adalah penjelajah, atau pengumpul biji-bijian. Sebagian tinggal di sebuah pulau, sedangkan lainnya berkelana melintasi batas-batas benua. Namun semua itu, tetap anggota genus Homo. Mereka semua manusia.

Homo Sapiens mungkin bisa dibilang genus Homo yang paling bisa bertahan dan beradaptasi melewati seleksi alam. Bahkan dalam beberapa dekade terakhir, kita akhirnya membuat sejumlah kemajuan riil dalam hal kondisi manusia, dengan pengurangan kelaparan, wabah, dan perang. Namun, situasi binatang-binatang lain memburuk lebih cepat ketimbang sebelum-sebelumnya, dan perbaikan di banyak hal juga terlalu baru dan ringkih untuk dipastikan. Lebih parah lagi, manusia tampaknya menjadi semakin tidak bertanggung jawab dari sebelum-sebelumnya. Kita adalah hewan paling maju dan paling merusak yang pernah ada. Suatu saat nanti kita pun akan tiba di gerbang kepunahan.


Artikel ini disadur dari buku berjudul Sapiens, karya Yuval Noah Harari

Tag: ,

There are no comments yet

Why not be the first

Tinggalkan Komentarmu

%d blogger menyukai ini: