13
Jun

Indoktrinasi Hijab dan Politik Tubuh Perempuan

Mudheng dot com – Seorang Ustaz berkata kepada jama’ahnya, “Kalau di KFC saja paha dan dada ayam ada harganya, tetapi justru perempuan-perempuan zaman sekarang yang notabene manusia, seperti sudah tidak ada harganya. Paha dan dada diumbar gratisan.” Pernyataan itu membuat saya terus berpikir sampai sekarang. Apakah takaran bahwa perempuan shalihah itu adalah menutup aurat? Dan apakah setiap perempuan yang tidak menutup kepalanya dan tubuhnya berarti sedang menjajakan seksualitas kepada publik? Andaikan memang benar jawabannya demikian, tak heran banyak lelaki yang berpendapat apabila ada peristiwa pemerkosaan menimpa perempuan yang tidak menutup aurat maka perempuan itu dinilai pantas mendapatkannya. Justru yang terjadi di sini adalah proses represi kepada perempuan untuk menjadi wanita; wani ditata. Siapa aparatur yang menata perempuan? Ialah laki-laki yang seolah otoritasnya didelegasi dan dilegitimasi oleh Tuhan.

Kuasa Patriarkat dan Sublimasi Hijab

Saya rasa di dunia ini tidak ada orang yang sudi dilecehkan, baik secara verbal, fisik, dan sebagainya. Bahkan seorang perempuan yang dibilang pelacur pun sama sekali tidak menginginkannya. Namun, tekanan sosial-lah yang seringkali melumrahkan atau mungkin mengabsahkan tindakan-tindakan seperti itu. Entah mengapa membandingkan perempuan dan ayam itu menjadi semacam kewajaran, apalagi terlontar dari mulut seorang pendakwah. Malah jama’ah yang mendengar dan mayoritas pria tertawa seolah mendapatkan pembenaran bahwa perempuan adalah makhluk kurang akal, sementara laki-laki adalah superior, berakal, rasional, plus paling beriman.

menutup aurat konsep patriarkatOke, katakan bahwa manusia adalah bagian dari spesies mamalia yang berada pada tingkat teratas piramida makanan. Tanpa agama, manusia diibaratkan tak jauh berbeda dengan primata atau hewan lainnya. Tetapi manusia juga punya kehendak bebas. Mau beragama atau tidak beragama, mau menutup aurat atau tidak, semua itu dikembalikan kepada kehendak masing-masing individu. Lantas mengapa pijakan tersebut (bahwa manusia tanpa agama sama saja dengan hewan) kerap dijadikan standar ukuran untuk menilai orang lain selain diri kita. Apakah karena “Ego” ke-Aku-an manusia yang sedemikian besar dan berlebihan, sehingga tiap individu merasa berhak untuk mengatur dan mengendalikan orang lain?

Namun pada intinya, pihak yang paling banyak surplus perangkatnya maka dialah yang paling bisa mengendalikan manusia lainnya. Pantaslah jika kemudian terjadi kategorisasi dan pemilahan. Dan perempuan seringkali menjadi objeknya, alias ditentukan mana perempuan “baik” dan “tidak baik” oleh pihak lelaki. Karena dalam hal ini, lelaki mempunyai kelebihan surplus melimpah; baik itu dari ekonomi, status sosial, dan juga bekingan dari Tuhan. Para pria dalam keluarga mempunyai otoritas berlebih untuk menentukan bagaimana anggota-anggota perempuan dalam keluarganya berpakaian, belajar, bertingkah laku dan sebagainya.

Dalam doktrin agama, banyak konsep patriarkat yang menjadikan seluruh anatomi tubuh perempuan adalah simbol seks. Dan hal itu justru diamini sebagai sebuah kebenaran. Mau tidak mau, kehidupan perempuan ibarat berada dalam selasar yang dihimpit dinding-dinding seksualitas. Namun, yang menentukan rambu-rambu seksualitas itu justru para pria. Maka, analogi paha dan dada perempuan dengan paha dan dada ayam akan dianggap bukan suatu pelecehan seksual. Justru seringkali dipaksakan agar perempuan menyerapnya sebagai titah pagar moral dan kesusilaan. Ya, perempuan tidak bisa menentukan seksualitas-nya sendiri.

Perempuan yang ingin keluar dari sistem 3UR (Kasur, dapur, sumur) ini bersiaplah terkucil dalam sistem. Bukan terkucil dalam arti harfiah. Tetapi lihat saja perempuan-perempuan yang ingin tampil menjadi pendobrak di zaman sekarang. Banyak dari mereka kerap dicibir sebagai Pecinta Kebebasan, Kebablasan, sampai distigmatisasi sebagai perempuan yang tidak laku dan tidak layak diperistri. Karena mereka tidak mungkin menjadi ibu. Kalau dalam bahasa agama bukan dianggap sebagai perempuan shalihah. Sementara perempuan shalihah itu adalah yang nurut, yang mau diatur suami, yang tidak boleh membantah suami. Karena di dalam keluarga suami adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Makanya munafiklah orang-orang yang di ranah publik teriak koar-koar tentang kesetaraan gender, kebebasan, dan hak asasi manusia tetapi tetap menjadikan istrinya sebagai warga kelas dua.

Politik Identitas Hijab dan Indoktrinasi Turun Temurun

Sederhananya, pengejawantahan apa yang disebut hijab adalah jilbab yang melekat pada tubuh perempuan. Di Indonesia, jilbab pernah menjadi korban dari kecurigaan rezim terhadap kelompok Islam Politik. Jilbab oleh Orba diartikan secara sederhana sebagai representasi kelompok Islam ekstrimis yang bisa mengganggu keamanan negara. Jilbab bukan lagi dianggap sebagai pilihan religius individu, tapi sejenis bentuk pemberontakan sehingga setiap Muslimah yang menggunakan jilbab dicurigai idiologinya dan kesetiaannya kepada Negara. Pada tingkat inilah Jilbab yang merupakan sebuah pilihan dan hak individu dalam mengartikan agamanya kemudian ditarik ke ranah politik oleh Orba.

Orang-orang lebih suka diam atau tidak mempersoalkan jika sudah masuk ke dalam isu pakaian muslim. Kritik atau mempersoalkan sesuatu yang dianggap sebagai identitas Islam bisa mengundang kemarahan. Ada beragam jenis pakaian yang diinterpretasikan sebagai busana muslim: cadar atau burqa yang biasa dipakai kelompok Salafi dan hanya memperlihatkan mata. Ada pula jilbab panjang dan longgar yang hanya memperlihatkan wajah. Khusus di Indonesia, ada banyak perempuan muslim yang hanya menyampirkan kerudung di kepala dan masih memperlihatkan bagian rambut: sesuatu yang dianggap aurat dan tidak boleh diperlihatkan di muka umum bagi kelompok fanatik.

Pakaian muslim mulai menjadi trend di Indonesia pasca Revolusi Iran. Saat itu jilbab atau cadar dipakai sebagai simbol perlawanan terhadap rezim orde baru yang otoriter. Rezim diktator militer Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, berkuasa di Indonesia sejak 1966 hingga 1998. Terutama setelah revolusi Iran pada tahun 1979, kelompok militer yang berkuasa di Indonesia melihat Islam sebagai sebuah ancaman politik. Hasilnya: larangan atas penggunaan jilbab di sekolah atau kantor pemerintah. Secara umum, ekspresi politik kelompok Islamis ditindas selama orde baru.

Sami Zubaida menulis tentang hal tersebut dalam bukunya Law and Power in the Islamic World. Pada tahun 1928, Permaisuri dari Reza Khan (1877-1944, Reza Khan adalah Syah Iran, ayah Reza Pahlevi yang dilengserkan oleh Ayatullah Khomeini) mengunjungi tempat ziarah di kota suci Qum di Iran. Sewaktu doa-doa dan zikir sedang dilantunkan, permaisuri tampak tetap tidak memakai jilbab. Dia berpakaian seperti pakaian perempuan modern Eropa pada waktu itu. Hal ini mengusik pikiran seorang ayatullah, namanya Ayatullah Bafqi, ia lalu mengutus seseorang untuk menyampaikan pesan kepada sang permaisuri: “jika Anda bukan seorang Muslimah, kenapa Anda datang ke tempat suci ini? Jika Anda seorang muslimah kenapa Anda tidak memakai jilbab?” Tapi sang permaisuri cuek bebek saja. Ayatullah Bafqi tampak kesal.

Ketika Ayatullah Bafqi menyampaikan khutbahnya, ia mulai mengkritik Syah Iran, dan memprovokasi para hadirin. Syah Iran akhirnya mengetahui insiden ini. Syah Iran pun marah. Ia lalu datang ke kota Qum. Bersama pengawalnya ia masuk ke tempat ziarah dengan tidak membuka sepatu boot. Ia mencari Ayatullah Bafqi, sewaktu ketemu, sang ayatullah pun dihajar habis, dan kemudian dipenjarakan. Selang beberapa lama kemudian, Syah Iran menerapkan hukum uniformitas busana yang melarang perempuan memakai jilbab, dan laki-laki memakai surban (dispensasi hanya diberikan untuk para ayatullah). Polisi pun dikerahkan untuk menerapkan hukum ini. Jika ada yang memakai jilbab di jalan-jalan, atau ada yang pakai surban tapi yang bersangkutan bukan ayatullah, maka polisi berhak untuk membuka pakaian itu secara paksa.

Memang mungkin banyak orang mendasarkan, khususnya kaum perempuan, jika ditanya mereka akan menjawab bahwa alasan mereka yang memakai jilbab adalah karena perintah agama menutup aurat. Hingga tahun 1990-an, fenomena jilbab sudah tidak terbendung lagi. Dengan dibolehkannya anak perempuan memakai jilbab di sekolah umum, maka lengkap sudah popularitas jilbab di kalangan perempuan Indonesia. Semakin sering pejabat publik, bahkan waktu itu termasuk Mbak Tutut, anak perempuan tertua Presiden Soeharto, sering terlihat tampil di media dan ruang publik dengan kerudungnya yang khas. Pada tahun-tahun ini pula, istilah cadar dan penggunaannya mulai terekspose dengan sedikit lebih gencar. Hal ini sejalan dengan keterbukaan politik bagi umat Islam, dan dinamika keislaman yang semakin subur di Indonesia.

Fetisisme Gagasan dan Kapitalisasi Doktrin Agama

Rumah tangga adalah sarang domestik para suami melampiaskan ego mereka. Saya yakin banyak perempuan di negara ini yang tanpa sadar senang dianggap sebagai perempuan shalihah, perhiasan dunia, istri yang baik, mengabdi kepada keluarga, walaupun sejatinya ditindas kaum lelaki. Dan perempuan shalihah, tentu dicirikan yang paling utama adalah dengan berhijab.

Fenomena ini juga dialami tidak hanya di dalam keluarga yang kelas ekonominya menengah ke bawah, tapi juga yang bisa dikatakan berkecukupan. Mereka mempraktikkan sistem 3UR kepada anggota perempuan di keluarga. Karena keluarga berarti satu, yaitu suami atau ayah. Sosok inilah yang jadi superman-nya. Semua orang berhak menjalankan peran apa saja di dunia ini. Namun peran pun melahirkan perang. Ya, perang stigma yang terjadi di negara ini dan latah dilontarkan oleh siapa saja.

Perang stigma bahwa perempuan yang baik dan pantas diperistri adalah yang shalihah; ribuan kriteria dicantumkan tetapi paling atas adalah patuh dan penurut kepada suami. Sebaliknya, perempuan tidak baik adalah bla bla bla. Bukan cuma soal kegemaran, pun merembet ke mana-mana. Bisa  soal fisik maupun asal suku bangsa, ras, agama dan sebagainya. Inilah sistem sosial kita. Sistem sosial di negara ini yang kian jengah dari hari ke hari. Ironisnya, hijab juga dijadikan sebagai penanda awal kategori perempuan baik-baik, shalihah, dsb (Mungkin karena itu Indonesia menjadi surganya bakul hijab). Tetapi untuk apa mengubah atau menggelontorkan konsep mendidik masyarakat. Toh, bahagia atau tidak adalah masing-masing individu yang menjalaninya. Hancur atau tidak juga tak ada yang peduli.

Ada banyak cara yang dilakukan dalam memberlakukan kebijakan politik anatomi tubuh terhadap perempuan; ada rangkaian praktik sublimasi dan indoktrinasi, terutama yang berbungkus agama. Isinya cuma rangkaian sistem pendisiplinan yang ditutup dengan tumpukan dalil dan pewacanaan yang katanya bersumber dari Tuhan. Banyak orang yang berlomba menjadi wakil Tuhan. Misalnya, dalam perda Aceh. Razia jilbab yang dilakukan pada 5 Februari 2014 kembali terjadi diskriminasi terhadap perempuan non-muslim di Aceh. Pasalnya dalam razia tersebut, perempuan non-muslim diminta untuk memakan jilbab. Permintaan tersebut jelas mengabaikan dan menghilangkan makna keberagaman dan toleransi di Aceh. Lahirnya perda-perda syariah di tiap daerah yang meregulasi tubuh, utamanya perempuan, dengan jilbab, maka tubuh yang merupakan hak individu berubah menjadi tubuh sosial. Jika di Barat, mekanisme dan manajemen regulasi tubuh didasarkan pada definisi medis, direpresentasikan dengan pengetahuan medis. Sedangkan di Indonesia, atau di dunia Islam, dengan pengetahuan yang bersumber dari dogma agama.

Ada relasi antara kebutuhan akan bentuk karakteristik dari produksi-kapitalisme. Agar produksi industri dan komoditas efektif, tubuh harus terpercaya ditempatkan dalam proses produksi. Tubuh yang terbungkus hijab atau jilbab, divisualkan memiliki kehidupan yang baik dan bahagia. Sekalipun ada fenomena seperti pada kasus-kasus korupsi yang menimpa perempuan-perempuan berhijab, produk ‘penutupan aurat’ itu akan dipisahkan dan disakralkan lebih dulu. Sementara itu, gambaran hijab yang ‘suci’ kedudukannya terus diproduksi membanjiri pasar, mengiklankannya di mana-mana agar orang-orang berbondong membeli dan memilikinya.

Narsisisme ini tidak hanya menghasilkan begitu banyak jenis pakaian dipajang dan dijual di toko-toko sehingga kita tinggal memilih mode mana yang ingin dipakai, yang sesuai dengan setiap musim. Para ahli agama bekerja menjalankan aturan-aturan tentang norma menutup aurat dan pelanggaran, dan menakut-nakuti dengan siksa neraka bila meninggalkannya. Resep-resep dakwah ini dikhotbahkan di mimbar. Pengaturan wacana demikian itu berjalan seiring dengan komersialisasi. Perubahan model beragama dan perubahan bentuk produksi komoditas itu semakin tidak terbendung, menjadikan fenomena jilbab seperti sekarang ini. Pada saat yang sama, jilbab tidak lagi melulu soal ketaatan, kesalehan, kepatutan, kesopanan, ataupun resistensi. Jilbab masuk ranah industri (busana). Jilbab menjadi komoditas dan dikonsumsi oleh masyarakat.


K. El-Kazhiem, penulis kelas ‘siapa elu’, penerima jasa sunting naskah, dan soliter.

Tag: , , , , , , , , , , ,

There are no comments yet

Why not be the first

Tinggalkan Komentarmu

%d blogger menyukai ini: