4
Jul

Indonesia Tak Se-Bhinneka yang Dibayangkan (Bagian 3)

Mudheng dot com – Krisis eksistensi “bangsa Indonesia” bukan kejutan untuk orang Indonesia. Sejak zaman kemerdekaan hingga saat ini, dari Aceh hingga Papua Barat, persoalan sudah dirasakan dan tidak pernah ada penuntasan. Untuk “mengikat persatuan”, atau paling tidak membuat seolah-olah persatuan dalam bentuk NKRI tidak tampak sebagai persoalan, mantra “pancasila” dibunyikan berkali-kali sambil melulu menyelenggarakan kekuatan fisik tatkala diperlukan.

Menemukan Ulang Indonesia

Pertanyaan fundamentalnya adalah apa yang membentuk “bangsa Indonesia” sebagai bangsa Indonesia? Apa yang membuatnya identik dengan dirinya sendiri, dan tidak dengan yang lain. Apa yang persisten di dalam perubahan-perubahan properti-propertinya. Apa yang menghubungkan segala kultur yang ada di nusantara selain sekedar sebuah komunitas manusia yang meninggali suatu wilayah. Tulisan ini berargumen bahwa benang merah tersebut adalah sejarah manusia Nusantara itu sendiri.

Bicara lebih akurat, persisnya adalah sejarah perubahan manusia nusantara sejak migrasi pertama dan memilih untuk menetap, bertahan hidup, beradaptasi, mengembangan kultur, membangun perdagangan, dan mengembangkan keberagaman. Kemuasalan yang kita butuh lihat di sini bukan soal kesilsilahan, melainkan perjalanan perubahan sejak paling awal, dan bagaimana keberagaman tumbuh dan menghasilkan variasi kebudayaan.

Dari sejarah dunia kita tahu bahwa berakhirnya masa kegelapan (dark ages) peradaban manusia adalah sejak bangsa-bangsa mulai bertemu melalui perdagangan dan pertukaran gagasan. Saat Turki Ottoman menutup akses jalan darat Eropa pada abad 15, bangsa-bangsa Eropa memikirkan sumber-sumber baru dan akhirnya menemukan jalan laut ke Asia, termasuk Indonesia dan India. Perdagangan terjadi dan–meskipun dengan sejarah hitam kekerasan kolonialisme–era eksplorasi baru ini menumbuhkan kekayaan dan inovasi baru. Pertukaran gagasan yang terjadi akhirnya melahirkan revolusi Industri dan sejak saat itu peradaban manusia mengalami lompatan besar, dari mesin uap sampai penjelajahan luar angkasa.

Jadi dari sejarah kita tahu bahwa variasi budaya dan keberagaman–bukan rasisme dan konservatisme–yang justru adalah kekuatan perubah yang mengakselerasi perdaban manusia. Maka dengan memahami itu dan mengkajinya melalui perspektif kemuasalan keberagaman, Indonesia bisa menggali realitas keberagamannya untuk mendapatkan kekuatan yang sama sebagaimana komunitas manusia dunia dulu pernah melakukannya untuk memajukan peradaban hingga seperti sekarang.

Tapi sebelum Indonesia mulai merencanakan mengeksplorasi kuiper belt atau galaksi Andromeda, yang pertama harus dilakukan adalah menemukan ulang “bangsa Indonesia”, memahaminya dari sudut pandang sejarah perubahan nusantara kepada keberagaman, lalu menerjemahkan ulang sebuah identitas kebangsaan yang progresif dan inklusif.

Keberagaman yang Unik

Gagasan utama rangkaian notes ini adalah menunjukan alternatif cara pandang keragaman Indonesia, bahwa tidak semua keberagaman sama, dan Indonesia khususnya adalah sebuah diversitas yang unik. Indonesia bukan sebuah “melting pot” sebagaimana kerap disebut-sebut.

Teori melting pot berasal dari kenyataan sebuah hegemoni budaya dalam keberagaman Amerika Serikat oleh sebuah kultur yang secara informal disebut White Anglo-Saxon Protestant (WASP) dan gelombang arus imigran yang masuk diharapkan berasimilasi. Tapi WASP bukan hanya sekedar sebuah relasi budaya atau konsep sosiologi, melainkan juga ekonomi dan sosio-politik. Hingga abad 20, WASP adalah elite penguasa sosio-ekonomi di Amerika Serikat. Mereka menjadi kultur dominan karena sejarahnya sebagai kelompok yang mengakar kepada kolonis Amerika Serikat pertama di Jamestown yang membawa tradisi gereja Protestan Episcopalian. Mereka pernah membuat social register untuk menjaga identitasnya, dan dominasi mereka meliputi seluruh spektrum sosial ekonomi dan politik. Walaupun era social register ini telah berlalu–hingga kini pengaruh mereka masih kuat melalui institusi-institusi ekonomi dan pendidikan seperti Ivy League, Little Ivies dan Seven Sisters.

Ini bukan sejarah yang terjadi di Indonesia. Walaupun Jawa adalah penduduk mayoritas, tapi orang Jawa tidak bisa dikatakan membangun hegemoni kultur sebagaimana WASP Episcopalian di Amerika Serikat. Jawanisasi yang pernah terjadi dalam ingatan sejarah Indonesia adalah sepenuhnya produk sosio-politik Orde Baru, yang tidak terlihat dalam sejarah ekspansi Majapahit. Sehingga jelas bahwa Indonesia bukanlah melting pot sebagaimana di AS dan Eropa, melainkan sesuatu yang konsepnya masih pending.

Kemuasalan yang Ditinggalkan

Keberagaman adalah karakteristik indigenous nusantara, dengan kata lain, yang disebut “pribumi” di Indonesia adalah keberagaman itu sendiri. Tapi keberagaman ini punya sejarah dan prosesnya, dan kemuasalan keberagaman itu berujung pada kultur yang lebih homogen.

Sejak sekolah dasar masyarakat Indonesia sudah diberi informasi bahwa, nenek moyang bangsa Indonesia adalah animis, tapi edukasi ini menambahkan imbuhan (imbue) negatif pada informasi tersebut. Indonesia mengajar rakyatnya untuk memandang nenek moyang–berikut sejarah kemuasalan Indonesia–sebagai sesuatu yang buruk, patut dilecehkan atau ditertawakan. Animis digambarkan–secara salah–sebagai penyembah batu, atau pohon, atau roh nenek moyang, tanpa menjelaskan maknanya ataupun apresiasi, sehingga orang Indonesia cenderung tidak respek terhadap asal-muasalnya sendiri, dan memilih untuk tidak memikirkan atau bahkan melupakannya.

Animisme jauh lebih kompleks dari sekedar penyembahan benda atau nenek moyang. Pandangan “menyembah” ini mungkin saja justru adalah gagasan yang dibuat oleh orang Indonesia modern yang dalam Agamanya hanya mengenal spiritualitas sebagai hubungan antara yang menyembah dan yang disembah; yang berkuasa dan yang dikuasai. Animisme adalah sebuah sistem filosofi kuno yang memandang alam semesta secara pluralistik. Jika masyarakat “modern” memilih untuk menyembah Tuhan demi pembalasan di dunia paska kematian, maka Animis memikirkan untuk memahami alam semesta, bukan untuk menghindari hukuman atau mencari hadiah penguasa alam semesta tersebut.

Manusia Animis pada masa lalu cukup humble untuk tidak mengklaim pengetahuan atas segala sesuatu yang non-manusia di sekeliling mereka, sehingga yang mereka lakukan adalah pendekatan secara ontologis, dengan menganggap bahwa benda-benda di sekeliling mereka adalah substansi yang hidup dengan caranya masing-masing. Konsekuensinya adalah penghargaan terhadap alam. Binatang, tumbuhan, tanah, gunung, air dan cuaca dianggap sebagai entitas yang hidup, walau tidak seperti manusia. Mereka memahami bahwa hanya karena benda-benda tidak melakukan “hidup” (being) seperti manusia, tidak berarti benda-benda tersebut tidak hidup. Mereka belajar untuk tidak memaksakan definisi “hidup” ala manusia pada segala sesuatu; bahwa yang disebut “hidup” pasti harus melakukan–misalnya–bernafas, makan, kawin dan buang air. Konsekuensinya adalah bahwa segala sesuatu tersebut bukanlah obyek, melainkan subyek, dan karena itu tidak bisa diketahui secara obyektif, dan “pengetahuan” tentang segala sesuatu harus selalu ditunda, dan untuk “mengetahui” dan berinteraksi dengannya manusia harus “berkonsultasi” atau “bertanya” pada benda-benda itu sendiri.

Manifestasi pemahaman ini bisa dilihat bahkan dari sisa-sisanya dalam masyarakat Indonesia, seperti tradisi “minta izin” sebelum memasuki hutan atau area lain yang dikhususkan atau disucikan, pengeramatan situs-situs, dan sebagainya. Respon masyarakat Indonesia modern biasanya antara satu dari dua:

1. Menganggap lucu, aneh, terbelakang atau “musyrik” atau,

2. Merangkul karena anggapan klenik bisa digunakan untuk keuntungan, misalnya untuk mendapatkan harta atau keuntungan lainnya.

Keduanya adalah sikap mengobyektifikasi, melecehkan, dan adalah bentuk sesat-pikir, yang berasal dari ketidak-mampuan untuk mengapresiasi dan memahami pikiran dan gagasan nenek moyang yang seharusnya adalah suatu warisan kultural yang sangat berharga untuk memahami peradaban manusia pendahulu, dan dengan demikian, dapat memberikan wawasan ke dalam untuk memahami bagaimana manusia Indonesia berasal dan berubah.

Ras Melayu adalah Istilah yang Salah dan Diskriminatif

Seperti telah dibahas pada bagian tulisan terdahulu, bahwa istilah “ras Melayu” adalah sebuah konsep yang diajukan oleh Johann Friedrich Blumenbach (1752-1840) untuk mengklasifikasi orang-orang yang hidup di nusantara dan sekitarnya sebagai “ras Coklat” atau brown race, sebagai pandangan diskriminatif (rasis) untuk menggolongkan manusia melalui warna kulit.

Pandangan ini dikuatkan oleh Stamford Raffles yang mempromosikan gagasan ras Melayu untuk menyebut manusia “pribumi” di seluruh kepulauan Asia Tenggara, menganggapnya sebagai “bangsa berbasis bahasa”, dipengaruhi oleh era kesenian romantik (sastra, musik, etc) yang sedang tumbuh di Inggris pada saat itu. Dari sini, Raffles lebih jauh lagi mendorong istilah Melayu dari sebuah “bangsa” menjadi “ras”.

Istilah Melayu dilihat sebagai grup etnis tidak menjelaskan diversitas Indonesia. Catatan Wang Pu, petinggi kerajaan dinasti Song, mengatakan bahwa Melayu adalah sebuah kerajaan yang mengirim utusan pada tahun 645. Pendeta I Ching juga menyebut nama Melayu dalam jurnal perjalanannya ke India tahun 671. Dalam jurnal ini tampak bahkan Sriwijaya tidak dianggap sebuah polity dengan identitas Melayu.

“Ketika angin tenggara berhembus, kami berlayar meninggalkan Canton menuju selatan … Setelah berlayar selama duapuluh hari, kami tiba di tanah Srivijaya. Kami tinggal di sana sekitar 6 bulan untuk belajar tentang Sabdavidya. Rajanya baik sekali pada kami. Dia membantu mengirim kami ke tanah Melayu, dimana kami tinggal untuk dua bulan. Setealah itu kami mengunjungi Kedah …. Berlayar ke arah utara dari Kedah., kami tiba di tanah orang-orang telanjang (Pulau Nicobar) …. Dari sini kami berlayar ke barat sekitar setengah bulan, dan akhirnya mencapai Tamralipti. (Pantai Timur India).” – Pendeta I Ching.

Ketika founding fathers Indonesia (Soekarno dan M. Yamin) menggunakan konsep ini sebagai identitas bangsa Indonesia, jelas pengetahuan dalam bidang genetik, antropologi dan linguistik saat itu belum cukup untuk memahami dinamika peradaban manusia sedalam Sains dan Teknologi mengungkapnya sekarang.

Sudut Pandang Genetik

Sebuah bangsa sulit dipahami secara genetik, karena tidak ada bangsa yang terdiri dari satu “ras” tertentu. “Ras” lebih merupakan konstruksi sosial yang dibangun saat manusia masih belum memahami hubungan antara biologi dan identitas. Karena kawin silang dan migrasi, konsep “ras” tidak punya makna biologis yang serius, dan membicarakannya tidak memberi manfaat apa pun, kecuali untuk membicarakan garis keturunan dalam konteks kesehatan. Mengetahui “ras” seseorang membantu pekerja medis untuk mengetahui pola dan penanganannyaseperti perihal kebiasaan makan atau kebiasaan hidup lainnya, dan relasinya dengan kerentanan penyakit tertentu.

Antropologi menggunakan informasi genetik sebagai salah satu cara untuk memahami dinamika populasi manusia, tentang bagaimana manusia berpindah, bagaimana populasi suatu wilayah berubah,bagaimana kultur baru muncul, dan sebagainya. Hal ini membantu Antropolog untuk memahami bagaimana kultur muncul, lenyap, saling mempengaruhi, tapi tidak untuk membangun konsepsi tentang “ras”.

Secara genetik, wilayah nusantara mulai terpopulasi oleh manusia modern mengikuti migrasi besar manusia sejak paling tidak 60,000 tahun yang lalu. Penejelasan out of Africa, setelah Bumi mengalami depopulasi besar-besaran akibat letusan Toba Supervulcano 75,000 tahun lalu, pada epoch Pleistocence, nusantara mengalami repopulasi oleh manusia yang keluar dari Afrika. Manusia yang keluar dari Afrika ini juga mempopulasi seluruh dunia, dan adalah akar genetik dari seluruh manusia yang ada di dunia saat ini, yang ditandai dengan tanda genetika macrogroup L pada mitokondria sel tubuh manusia, yang adalah garis keturunan ibu (perempuan), sampai “ibu pertama” manusia (Most Recent Common Ancestor mtDNA) di Afrika Timur, yang disebut “Mithocondrial Eve”, yang hidup antara 152 s/d 234 ribu tahun lalu.

Bumi nusantara, 75000 tahun lalu, pada jaman es.

Saat itu permukaan air jauh lebih rendah dari sekarang, sehingga daratan Sundaland berada di atas permukaan laut dan kering, dengan hanya daerah-daerah rawa yang dangkal. Juga, saat itu Australia terhubung dengan New Guinea. Antara Timor dan Australia tidak terbentang laut yang luas, cukup sempit untuk dilintasi oleh perahu kecil, sehingga manusia berhasil mencapai daratan luas yang sekarang disebut Australia pada 50,000 tahun lalu.

Manusia yang melintasi Indonesia untuk mencapai Australia itu menjadi pribumi Australia (Australian Aborigin). Sebagian manusia yang keluar dari Afrika itu juga mencapai dan tinggal di Papua, dan paling tidak pada sekitar 25,000 tahun lalu, genetik Aborigin Australia dan Papua terpisah, sehingga menjadi dua phenotype yang berbeda.

Perubahan Iklim Memicu Agrikultur dan Gelombang Migrasi.

Saat itu, 50.000 tahun lalu, temperatur cukup dingin sehingga air laut terkumpul dalam bentuk es di kutub-kutub Bumi. Tidak banyak uap air, udara kering, sehingga tidak banyak kondensasi yang artinya tidak banyak terjadi hujan.

Nusantara adalah wilayah yang lebih kering dari sekarang, dan tanahnya–sebagaimana tanah di hampir seluruh Bumi–tidak punya kapasitas untuk agrikultur, sehingga tidak ada budaya agrikultur yang muncul di Bumi sampai terjadi perubahan iklim akibat siklus orbit dan goyangan rotasi aksis Bumi (Milankovitch Cycles) tiap 100,000 tahun (orbit) dan 40,000 tahun (tilt) yang membawa temperatur Bumi kembali naik dan es di kutub mencair.

Es kutub mencair sejak 14.000 tahun lalu, dan menyebabkan sebagian Bumi jadi memungkinkan untuk pertanian. Kondisi iklim ini mendorong pertumbuhan diversitas vegetasi sehingga muncul varian tanaman pertanian yang bisa dikultivasi oleh manusia. Kultivasi varian tanaman ini memunculkan agrikultur, dan agrikultur memicu tumbuhnya kultur dan peradaban, mulai dari Gobleki Tepe sampai Sumeria.

Namun perubahan iklim akibat siklus Bumi ini tidak berhenti, dan bagian-bagian Bumi yang sebelumnya subur berubah tandus, dan sebaliknya yang sebelumnya tandus menjadi subur. Orang Mesir tidak membangun Piramid di tengah gurun tandus, karena daerah tersebut dulu subur dan penuh populasi. Perubahan berlanjut yang kemudian membuat Sahara yang tadinya subur sejak jaman es berakhir sekitar 14,000 tahun lalu, menjadi tandus, sedangkan sebaliknya, daerah Asia yang sebelumnya kering menjadi basah, karena curah hujan akhirnya menjadi cukup, termasuk di Nusantara. Ini memicu tumbuhnya komunitas-komunitas manusia agrikultur di mainland Asia, dan naiknya air laut mendorong komunitas-komunitas manusia mainland Asia yang sebelumnya tinggal di daerah pantai ini berpindah, mencari tempat baru, memicu gelombang-gelombang migrasi masuk Nusantara, membawa teknologi agrikultur dan peradaban mereka.

Teori umum yang kuat saat ini adalah bahwa manusia yang masuk Nusantara setelah jaman es berakhir berasal dari Taiwan sejak 3500-2500 tahun lalu, yang disebut model “out-of-Taiwan”.

Penyebaran orang Austronesia dari Taiwan

Teori lain bahwa genetika manusia Austronesia (Haplogroup E) berasal dari Indonesia, dari suatu populasi yang sudah ada sejak 35,000 tahun lalu, dan kemudian mencapai Taiwan sekitar 8000 tahun lalu.

“We show that haplogroup E, an important component of mtDNA diversity in the region, evolved in situ over the last 35,000 years and expanded dramatically throughout ISEA around the beginning of the Holocene, at the time when the ancient continent of Sundaland was being broken up into the present-day archipelago by rising sea levels. It reached Taiwan and Near Oceania more recently, within the last ~8,000 years.” – Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia

Tapi, penelitian menggunakan metodologi yang lebih advanced dan sampel yang lebih besar mengkonfirmasi Out Of Taiwan adalah teori yang lebih menjelaskan populasi Asia Tenggara dengan baik.

“Here, we analyse genome-wide data from 56 populations using new methods for tracing ancestral gene flow, focusing primarily on Island Southeast Asia. We show that all sampled Austronesian groups harbour ancestry that is more closely related to aboriginal Taiwanese than to any present-day mainland population. Surprisingly, western Island Southeast Asian populations have also inherited ancestry from a source nested within the variation of present-day populations speaking Austro-Asiatic languages, which have historically been nearly exclusive to the mainland. Thus, either there was once a substantial Austro-Asiatic presence in Island Southeast Asia, or Austronesian speakers migrated to and through the mainland, admixing there before continuing to western Indonesia.” — Reconstructing Austronesian population history in Island Southeast Asia

Penjelasan-penjelasan di atas adalah sudut pandang genetik dari kemuasalan masyarakat nusanatara, namun seperti telah dibahas, bahwa hanya genetika saja tidak layak digunakan untuk menentukan “bangsa” atau identitas bangsa. Tapi hanya sudut pandang artefak-artefak kebudayaan pun juga tidak segera dapat menjutifikasi kebangsaan, karena–misalnya–walaupun kebudayaan Indonesia dianggap lebih dekat dengan Malaysia, namun secara genetik manusia Indonesia lebih dekat dengan orang Filipina daripada dengan orang Malaysia.

Genetika orang Indonesia lebih dekat dengan Filipina daripada Malaysia

Karena itu “kebangsaan” adalah sesuatu yang tidak sesederhana yang dipikirkan oleh para pendahulu. Semangat pencarian “kemurnian” dari kemuasalan oleh para pemikir era modern lalu justru akhirnya malah memuja kemuasalan seolah-olah bisa menjadi esensi dari identitas. Sudut pandang esensialis ini menjadi problem setelah sains mengungkap bahwa tidak ada kemurnian semacam itu, dan memang tidak pernah ada.

Tidak ada sepasang orang tua yang beranak-pinak kemudian menjadi sebuah bangsa. Tidak ada “manusia pertama” yang keluar dari suatu pohon ajaib dan menjadi bapak bangsa. Sebuah bangsa selalu adalah admixture, serba campur secara genetis, budaya, pandangan dan cara hidup serta cara untuk berbagi masa depan. A shared future. Dan tulisan ini beragumen bahwa shared future hanya bisa diperoleh dengan memelihara perbedaan bersama. Ini bukan jargon politis, melainkan realitas nyata dalam sejarah Nusantara; sesuatu yang selalu dirayakan dan dialami secara kreatif oleh manusia nusantara, tanpa maksud politis.

Sejak dari sini, tulisan ini akan memperlihatkan bagaimana manusia nusantara justru menciptakan keberagaman itu–bukan demi menciptakan perbedaan–tapi untuk membuat masa depan dengan menciptakan kesempatan-kesempatan baru. Asal-usul manusia nusantara sebenarnya tidak seberagam yang dikira bahkan oleh pendiri negeri ini. Sains telah menunjukkan bahwa orang Indonesia justru adalah yang menciptakan kebergaman itu sendiri, sehingga keberagaman bukan sesuatu yang seolah-olah “mau tidak mau harus diterima” sebagai sebuah takdir, sehingga membutuhkan “toleransi”.

Tidak se-bhinneka yang Digemborkan

Bangsa Indonesia, paling tidak muasalnya, tidak membutuhkan toleransi sederhananya karena memang tidak ada masalah yang perlu ditolerir. Implikasi ajaran bahwa orang Indonensia butuh toleransi adalah bahwa keragaman membawa masalah; perbedaan adalah masalah. Kenyataanya, sekali lagi, orang-orang yang hidup di nusantara adalah justru mereka yang menciptakan keberagaman dan perbedaan, perbedaan yang tidak bermasalah.

Australoid, Papuan.

Awalnya, sejak 50 ribu tahun silam, Nusantara dipopulasi oleh orang-orang Australoid dalam perjalanan mereka hingga mencapai Australia. Mereka, yang kemudian kita kenal sekarang dari konsentrasi populasinya sebagai orang Papua, adalah hunter-gather, karena memang pada saat itu adalah jaman es yang tidak menyokong kultivasi agrikultur. Perjalanan hunther-gather ini mengikuti garis pantai, sehingga mereka punya akses terhadap makanan berenergi tinggi dari produk-produk kelapa dan laut (kerang). Sekitar 33.000 tahun lalu, orang-orang Papua akhirnya mempopulasi pulau-pulau antara Sundaland dan Sahul.

Lalu ketika jaman es berakhir sekitar 12.000 tahun lalu, jaman Pleistocene berganti menjadi Holocene. Iklim membaik dan tumbuh sebuah kebudayaan batu yang lebih baru (Batu baru/Neolithic) sejak 10,000 tahun lalu. Teknologi batu ini dikenal dengan sebutan Hoabinh Technocomplex, dan kemudian Bacson culture, yang pusatnya ditemukan di Vietnam. Hoabinh secara genetis disokong oleh Australoid.

Kemudian orang-orang “baru” masuk ke Nusantara pada 4000 tahun sebelum Common Era (6000 tahun lalu), Orang-orang ini dikenal dari bahasanya, Austronesian. Mereka membawa teknologi Agrikultur dari Taiwan, dan budaya baru dari Vietnam (Sa Hyunh, dan kemudian Dong Son). Dan “ras” mereka adalah Mongoloid.

Pada saat inilah, keberagaman Indonesia mulai diciptakan oleh pertemuan dua ras ini, Australoid Papua yang sudah ada sejak 50.000 tahun lalu, dan pendatang Mongoloid dari Taiwan (Taiwan Aborigin) sejak 6000 tahun lalu. Selanjutnya, pertemuan dua ras ini melahirkan pilihan-pilihan kultural dan memulai lahirnya suatu diversitas kultur, bahasa dan adat, sampai akhirnya Nusantara menjadi begitu beragam dan kompleks.

Perempuan Austronesian Aborigin Taiwan

Sebelum adanya teknologi analisis genetik menggunakan “microsatelites”, yaitu pencirian tanda genetik melalui bagian-bagian DNA yang tidak berfungsi dalam struktur sel, khususnya yang disebut STR (Short Tandem Repeats), teori populasi di Indonesia adalah bahwa ras Astronesia “mengganti” ras Australoid yang sudah menetap lebih dahulu. Tapi teknik DNA baru ini menunjukan cerita lain yang lebih kompleks. Pemetaan populasi melalui genetik menunjukan bahwa wajah keberagaman yang terjadi di Indonesia adalah karena pola kawin silang, perpindahan dan sistem sosial lain yang akhirnya menghasilkan diversitas Admixture–campuran genetik–yang tidak sederhana karena proses penyampuran ini juga disertai pola-pola saling tukar dan asimilasi kultur di lingkungan dengan geografi yang berbeda-beda, di dalam pulau maupun antar pulau.

Contoh pada penelitian jaringan genetik yang dilakukan oleh Stephen Lansing di Sumba. Di pulau ini, haplogroup Austronesia terdisistribusi minimum dalam kelompok-kelompok kecil di seluruh Pulau, dan gen Papua mendominasi, dan distribusi ini tercerminkan juga secara linguistik. Haplotype O adalah tanda genetik yang dibawa oleh DNA Austronesia sedangkan D dan E adalah karakteristik bahasa Austronesia. Sebaliknya, Haplotype C, K dan M adalah tanda genetik tua yang lebih banyak ditemukan pada ras Australoid Papua, seperti Aborigin Australia, dan A, B dan C adalah karakteristik bahasa Papua.

Genetik Admixture Sumba Indonesia

Ketika pertama orang Austronesian (mongoloid) tiba di Sumba sekitar 6000 tahun lalu, pulau tersebut sudah didiami oleh Australoid Papua yang sudah lebih dulu di sana, sejak 50.000 tahun lalu. Orang Australoid Papua lebih banyak tinggal di daerah Barat, di Kodi, Lamboya, Loli dan Wanokaka, karena daerah tersebut lebih banyak curah hujan. Pendatang Austronesian tiba di Wunga, dan populasi mereka bertambah, dan kemudian membuat desa-desa baru di seluruh Sumba.

Desa-desa baru Austronesia yang ada di sebelah Barat pulau berdiri dikelilingi oleh pemukiman-pemukiman Australoid Papua yang berbicara dengan bahasa yang berbeda, dan ketika mereka saling kawin-silang, genetik dan bahasa Austronesia di daerah Barat ini turun oleh dominasi genetik dan bahasa Australoid Papua. Sedangkan desa-desa Austronesia yang ada di sebelah timur (yang tidak dikelilingi oleh pemukiman Australoid-Papua) lebih terisolasi secara genetik dan bahasa, sehingga genetik dan bahasa Austronesia bertahan. Hasilnya kita bisa saat ini bagaimana perebedaan geografis seperti curah hujan dapat menjadi pengaruh dalam terjadinya diversitas multi-ras, etnik, kultur, tradisi dan bahasa dalam satu pulau.

Stephen Lansing, dalam sebuah lecturenya, berkomentar bahwa pola keragaman seperti ini sudah biasa bila membicarakan suatu skala geografi yang luas seperti benua Eropa, tapi tidak biasa pada pulau sekecil Sumba. Dan komentar ini cukup menggamabr bagaimana densitas keberagaman diproduksi oleh manusia Nusantara dalam sejarahnya, dibandingkan dengan komunitas manusia lainnya di dunia.

Keragaman juga terjadi karea pola masyarakat yang menyebar, dimana banyak kelompok-kelompok kecil mendirikan pemukiman yang akhirnya menjadi desa-desa mandiri. Faktor jarak dan geografi kemudian bekerja, di mana kelompok-kelompok desa yang berdekatan cenderung menggunakan bahasa yang sama dibanding dengan desa yang lebih jauh. Akhirnya terjadi banyak variasi kelompok-kelompok bahasa, dan kemudian kelompok-kelompok kultur, dan hasilnya ada keragaman adat dan kultur yang kita lihat sekarang.

Selain itu, penelitian Stephen Lansing juga memeriksa bagaimana pola regenerasi berlangsung, karena keragaman juga dijelaskan oleh sikap manusia terhadap hak reproduksi. Ada dua model yang biasanya berlangsung, model pertumbuhan populasi dengan selection, dan yang netral. Evolusi terjadi karena adanya variasi genetik dan seleksi alam. Variasi genetik menciptakan keragaman genetik dan seleksi alam ‘mencukur’ variasi tersebut sehingga hanya tersisa variasi yang lebih sedikit. Ini akan terlihat dari bagaimana reproductive skew di dalam suatu masyarakat. Reproductive Skew memperlihatkan derajat bias reproduksi, derajat yang tinggi menunjukan masyarakat yang sangat “memilih” perkawinan. Penelitian Lansing memperlihatkan bahwa pertumbuhan masyarakat Nusantara bersifat netral, artinya, keragaman juga terjadi akibat masyarakat Nusantara bersifat egaliter, cenderung tidak pilah-pilih (bobot-bibit-bebet).

Kesimpulan lain dari analisis genetik ini adalah dengan banyaknya variasi patrilineal dalam data genetik, artinya tidak adanya sejumlah kecil patriline yang “memproteksi” garis keturunannya atau menjaga teritori dengan ketat, memperlihatkan nenek moyang nusantara sebagai sebuah masyarakat cair, terbuka, inklusif dan tidak diskriminatif, sehingga menghasilkan keberagaman yang kita lihat sekarang.

Punden Berundak Cipari, Kuningan

Kesamaan Nusantara Lebih Kuat Daripada Keberagamannya.

Kita sekarang bisa melihat nusantara dengan wajah yang lain, bila kita coba untuk berhenti terus-menerus menceritakan ulang bahwa Indonesia adalah berbeda-beda dan kenyataan itu harus ditambal-tambal dengan “toleransi”. Indonesia tidak “seberbeda” itu. Indonesia punya kemuasalan yang secara organik menciptakan peradaban yang beragam; keberagaman yang diciptakan, bukan diterima apalagi menjadi kutukan yang harus diselamatkan dengan “toleransi”. Kemuasalan Indonesia adalah pada nenek moyang yang sudah punya cara sendiri dalam menciptakan masyarakat yang egaliter, yang cair, yang inklusif, dan ini adalah warisan paling berharga yang seharusnya dipeluk oleh manusia Indonesia modern.

Para leluhur Indonesia meninggalkan pesan-pesan itu pada titik-titik kebudayaan megalitik di seluruh Indonesia, yang bisa dipahami melalui struktur-struktur seperti Punden Berundak, atau artefak seperti menhir, dolmen dan kubur batu; juga alat-alat spiritual atau utility seperti batu Dakon, yang semuanya tersebar di seluruh Indonesia. Kita tidak bisa melihat banyak perbedaan di situ.

Punden Berundak Pugung Rahardjo, Lampung

Bangsa yang memulai peradaban di nusantara ini punya cara hidup dan pikiran-pikiran yang sama tentang bagaimana mereka sama-sama menciptakan keberagaman, membangun masyarakat egaliter, menjalin harmoni dengan alam, dan mewariskan peradaban. Mereka masih sesuatu yang tunggal, sampai saat kultur-kultur “maju” masuk nusantara dari India dan dari timur tengah. Sebelum ada sistem-sistem feodal yang mulai membangun politik dan persaingan.

Lalu tiba-tiba masyarakat nusantara mengalami nukleasi (nucleation) demografi, dan nukleasi kepercayaan-kepercayaan baru, berupa ikatan-ikatan antara kekuasaan dan Agama-agama pendatang. Begitu nukleasi mengaglomerasi menjadi kekuatan-kekuatan politis berupa kerajaan-kerajaan, dan tiba-tiba ada daerah kekuasaan, teritori, negosiasi dan dominasi.

Bada Valey, Megalith. Sulawesi

Kemudian dimulailah Indonesia yang multi-kultur, yang menekankan perbedaan dan klasifikasi strata. Influks kebudayaan-kebudayaan “superior” ini, yang membawa masyarakat animis menjadi terpolarisasi kedalam inti-inti kekuasaan, berubah sebagaimana kekuatan-kekuatan di Eropa bersaing membangun hegemoni-hegemoni yang memisahkan masyarakat pagan dari spiritualitasnya. Dan sebagaimana yang terjadi dengan kaum pagan di Eropa, kaum animis Indonesia digambarkan buruk dan terbelakang, sebagaimana masih terjadi sekarang. Era feodalisme di Nusantara inilah yang akhirnya menekankan perbedaan sebagai sumber daya politik.

Dan Indonesia sekarang adalah nusantara yang terbagi ke dalam ratusan bahasa, kultur, tradisi serta sekian Agama dan kepercayaan. Kemudian saat identitas bangsa dibutuhkan, spiritualitas yang dulu pernah membentuk sebuah masyarakat nusantara yang egaliter, yang cair dan inklusif, sudah hilang terkubur di balik batu-batu menhir, yang kini telah berhenti berbicara pada manusia nusantara. Mereka tidak lagi mengatakan apa-apa, atau manusia nusantara telah berhenti mendengarkannya.

Batu Dakon

Tapi masih ada cara untuk menemukan kembali Indonesia.

Di suatu tempat di Banten, ada masyarakat Baduy yang masih punya Puun, pendeta adat, yang masih bekerja dengan Arca Domas-nya. Di Nias dan Sumba, masih ada tetua adat yang masih punya pengetahuan tentang bagaimana para leluhur “berbicara” dengan batu-batu mereka; pada alam semesta nusantara.

Orang Indonesia masih punya kesempatan untuk menemukan lagi rahasia-rahasia leluhur yang memahami manusia Indonesia. Untuk menemukan ulang Indonesia, kita bisa kembali pada kemuasalan bangsa ini. Mereka bisa menceritakan lagi apa yang sekarang sudah dilupakan; bagaimana cara menjadi bangsa Indonesia.

Lihat: Indonesia Tak Se-Bhinneka yang Dibayangkan (Bagian 1)

Lihat: Indonesia Tak Se-Bhinneka yang Dibayangkan (Bagian 2)


Referensi

1. http://www.worldlibrary.org/article…

2. http://www.sneps.net/OO/images/Kauf…

3. Privilege, Power, and Place: The Geography of the American Upper Class https://books.google.co.id/books?pr…

4. Understanding Melayu (Malay) as a Source of Diverse Modern Identities https://www.cambridge.org/core/jour…

5. Junjiro Takakusu, 1896, A record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago AD 671–695, by I-tsing, Oxford, London. https://archive.org/stream/recordof…

6. A genomic history of Aboriginal Australia. https://www.nature.com/nature/journ…

7. Traces of Archaic Mitochondrial Lineages Persist in Austronesian-Speaking Formosan Populations. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/ar…

8. Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia.

9. Reconstructing Austronesian population history in Island Southeast Asia. https://www.nature.com/articles/ncomms5689

 

Tag: , , , , , , , ,

There are no comments yet

Why not be the first

Tinggalkan Komentarmu

%d blogger menyukai ini: