Kemerdekaan Indonesia Versi PKS dan Mengapa Dunia Menggunakan Kalender Matahari

Mudheng dot comPartai Keadilan Sejahtera (PKS) menggelar tasyakuran 74 tahun Hijriah proklamasi kemerdekaan Indonesia. PKS berpatokan pada kalender Hijriah untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan. Sehingga PKS sangat concern terhadap hari itu. Acara peringatan ini diselenggarakan di Kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Minggu (4/6/2017). Karena gembar-gembor PKS ini maka ada baiknya kita mengetahui seperti apa sistem kalender Matahari dan Bulan?

Perbedaan Solar Calendar dan Lunar Calendar

Solar Calendar, atau kalender Matahari, seperti penanggalan yang kita pakai sehari-hari, digunakan karena ia berkaitan dengan siklus Bumi terhadap Matahari, yang mengemudikan perubahan musim, dan dengan demikian lebih akurat secara saintifik. Terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari khatulistiwa, kalender matahari membantu ketahanan hidup. Sedangkan Lunar Calendar, atau kalender Bulan, seperti penanggalan Islam dan penanggalan-penanggalan tradisional lainnya, adalah penanggalan yang menghitung posisi siklus bulan, dan ini tidak banyak berarti dalam menghitung perubahan musim, apalagi sains.

Selain Solar Calendar dan lunar calendar, ada pula masyarakat yang menggunakan penanggalan luni-solar, seperti kalender Cina. Kalender suryacandra atau kalender lunisolar adalah sebuah kalender yang menggunakan fase bulan sebagai acuan utama namun juga menambahkan pergantian musim di dalam perhitungan tiap tahunnya. Kalender ini biasanya ditandai dengan adanya bulan-bulan kabisat beberapa tahun sekali ataupun berturut-turut. Dengan demikian, jumlah bulan dalam satu tahun dapat mencapai 12 sampai 13 bulan. Ketiga, kalender lunisolar, yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Oleh karena kalender lunar dalam setahun 11 hari lebih cepat dari kalender solar, maka kalender lunisolar memiliki bulan interkalasi (bulan tambahan, bulan ke-13) setiap tiga tahun, agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari.

Kalender Matahari Bukan Kalender Kristiani

Lapisan-lapisan dalam lingkaran pohon (tree ring), lapisan-lapisan geologi (Bumi), peristiwa-peristiwa angkasa (aurora, metereologi, etc), semua berkorespondensi dengan penanggalan Matahari, karena putaran Bumi terhadap Matahari-lah yang mempengaruhi siklus alam yang tercatat di sana. Karena itulah kalender matahari dipakai, bukan karena alasan agama.

Kalender Julian, ke mana standar kalender Matahari yang dipakai secara global saat ini, bukan “kalender Kristen”, karena dia ada sebelum era Kristen.

Mēnsis Iānuārius, bulan “Janus”, dewa gerbang, awal dan akhir.

Mēnsis Februārius, “Month of the Februa”, Penyucian.

Mēnsis Mārtius, “Month of Mars”, dewa perang Roma.

Mēnsis Aprīlis, “to open”.

Mēnsis Māius, “Month of Maia”, dewi tumbuhan.

Mēnsis Iūnius, “Month of Juno”, dewi perkawinan Roma.

Mēnsis Iūlius, “Month of Julius Caesar.

Mēnsis Augustus, “Month of Augustus”.

Mēnsis September, bulan ke-tujuh dari kalender Roma kuno.

Mēnsis Octōber, bulan kedelapan dari kalender Roma kuno.

Mēnsis November, bulan kesembilan dari kalender Roma kuno.

Mēnsis December, bulan kesepuluh dari kalender Roma kuno.

Adapun Kristen punya penanggalan sendiri yang, seperti kalender Islam, menggunakan siklus tradisional, dalam hal ini berupa kalender luni-solar, yaitu kalender Yahudi, untuk menghitung jatuhnya waktu Paskah (Easter). Paus Gregory ke-13 kemudian mengintegrasikan itu ke dalam kalender Matahari supaya bisa sesuai dengan kalender yang digunakan oleh sipil. Jadi, kalender yang digunakan pada saat itu justru kalender sekular peninggalan Roma pre-Kristen.

Notasi tanggal saat ini juga salah kaprah disebut AD atau BC (Anno Domini/Before Christ), karena notasi AD dan BC tidak punya tahun 0 (nol), adanya AD 1 dan BC 1. Notasi yang digunakan sekarang adalah CE (Common/Current Era) dan BCE (Before Common/Current Era), yang sekali lagi, sifatnya sepenuhnya sekular, dan tak ada kaitannya dengan Agama (Kristen).

PKS dan Ambisi Membumikan Islam-Arab

PKS adalah partai yang berpandangan bahwa Islam dan politik tidak dapat dipisahkan. Dalam konteks perayaan hari kemerdekaan, mungkin PKS tidak berniat mengganti tanggal 17 Agustus, dan tetap selalu merayakan hari kemerdekaan RI mengikuti apa yang dilaksanakan pemerintah. Akan tetapi, tasyakur hari kemerdekaan dengan menggunakan penanggalan Hijriah 9 Ramadhan (yang pada dasarnya adalah penanggalan bulan) maka itu bentuk ambisi mereka agar ‘kebudayaan Islam’  eksis secara sosio-politik.

Ingin ‘memaksa’ bahwa, ‘kebudayaan Islam’ relevan dan bisa bekerja dalam landscape kultur modern, dalam hal ini sistem penanggalan. Padahal, sistem peninggalan Lunar itu adalah sistem penanggalan yang digunakan manusia pada saat manusia belum tahu apa-apa soal astronomi, dan bahkan masih belum punya sistem agrikultur yang mapan. Makanya cara menghitung tahun itu kurang penting, atau tidak perlu. Yang dipakai adalah cara paling sederhana untuk melihat waktu dengan melihat bulan, melihat fasa-nya. Makanya penanggalan paling kuno dan paling sederhana ya dengan menghitung bulan.

Tapi untuk kebudayaan yang lebih sophisticated, yang melibatkan sistem agraris, sistem kalender bulan tidak bisa dijadikan patokan karena siklus tanam lebih dari satu bulan. Yang dihitung adalah tahun, karena untuk menentukan waktu tanam yang benar.


K. El-Kazhiem, penulis kelas ‘siapa elu’, penerima jasa sunting naskah, dan soliter.

, , , , , , , , ,

Tinggalkan Komentarmu