24
Des

Kisah Seekor Uang: Ekonomi Berdasarkan Utang

Mudheng dot com – Orang-orang mengeluh soal utang negara, dan bagaimana melunasi utang Indonesia yang kian membengkak. Tampaknya orang-orang belum memahami di dunia macam apa mereka hidup saat ini. Membicarakan soal utang tentu tidak lepas dari perbincangan soal ekonomi. Tentu penjelasan ini adalah ekonomi dalam pendekatan ideal. Asumsinya dalam klausa ceteris paribus: tidak ada politik, geopolitik, perang, konflik, dsb. Artinya, semua manusia adalah homo economic, well informed, psikologinya sama, dan homogen.

Ekonomi yang (tidak) Anda pilih untuk hidup di dalamnya ini, sekarang, digerakkan di atas utang. Dan utang tersebut tidak akan pernah lunas, atau lenyap. Kalau tidak ada utang maka ekonomi ini tidak akan berjalan.

Untuk memahami ini kita harus kembali kepada economy 101: sumber daya untuk menyelenggarakan kehidupan tidak mencukupi untuk dimiliki semua orang. Istilah ekonominya adalah kelangkaan, atau tidak selalu tersedia. Dan solusi kapitalisme setelah menumbangkan feodalisme, adalah agar orang menggunakannya bergantian, dengan merepresentasikan barang-barang ekonomis dengan uang. Misalnya saat ini, beras 1 liter direpresentasikan dengan uang Rp 10.000. Artinya, orang harus bekerja dan mengakumulasi pekerjaannya (labor alias produktifitas) sampai senilai Rp 10.000 untuk bisa mendapatkan 1 liter beras. Rp 10.000 artinya adalah value yang diberikan pada 1 liter beras, yang dalam teori ekonomi kapitalistik, ditentukan melalui ekuilibrium supply-demand.

Sesuai perubahan peradaban, komunitas-komunitas manusia mulai menciptakan berbagai produk ekonomi yang tiap-tiapnya akan diberi value yang direpresentasikan oleh uang. Zaman dulu, antar komunitas manusia (negara) saling sepakat akan nilai uang, berdasarkan kelangkaan material uang itu sendiri.

Dulu dipakai emas, perak atau perunggu, karena sama langkanya dimanapun di muka Bumi. Sampai sini, nilai uang dikandung oleh material dimana uang itu dicetak. Artinya, walaupun sebuah koin dicetak oleh Yunani, orang Teuton tidak perlu khawatir menggunakannya, karena emas bisa dicairkan dan dicetak ulang menjadi uang Teuton. Tetap sama langkanya, dan nilainya tidak berubah.

Tapi problem kemudian muncul: tidak cukup jumlah emas, perak dan perunggu untuk dibagikan pada seluruh manusia yang bertransaksi. Jadi uang emas itu akhirnya disimpan saja, dan kemudian dicetaklah uang merepresentasikannya.

Sejak tahun 1792, nilai 1 dolar Amerika ditentukan setara dengan 28 gram perak melalui Coinage Act of 1792. Tapi sejak tahun 1971, presiden Richard Nixon mencabut hubungan antara 1 dolar dengan 28 gram perak ini. Nilai 1 dolar akhirnya setara dengan: 1 dolar. Sejak itu, uang tidak lagi representasi dari emas atau sumber daya tertentu, melainkan fiat alias ditentukan oleh kebijakan pemerintah yang menerbitkannya.

Nilai mata uang kemudian bergantung pada jaminan yang diberikan oleh penerbitnya (pemerintah), bahwa ia bernilai sesuai dengan nilai moneter dari produk domestik (GDP) di dalam suatu negara. Ini artinya, misalnya, GDP negara Indonesia menentukan nilai moneter. Jika Rupiah yang beredar lebih besar dari nilai moneternya, maka satuan rupiah menjadi turun nilainya. Oleh karena itu pemerintah Indonesia harus menjaga suatu pasokan (money supply) Rupiah yang stabil sesuai dengan nilai moneter.

Negara-negara berusaha membuat rakyatnya lebih sejahtera, yang pendeknya berarti, pemerintah berusaha membuat produktifitas meningkat. Produktifitas menaikan nilai moneter, yang berarti lebih banyak uang bisa dicetak untuk lebih memperbanyak transaksi, untuk menaikan produktifitas, untuk menaikan nilai moneter, dan seterusnya, dan seterusnya. Bila produktifitas meningkat, ini disebut pertumbuhan ekonomi.

Bila ekonomi Amerika Serikat tumbuh, maka Indonesia harus juga. Demikian juga dengan negara-negara lain. Kalau tidak ikut tumbuh, nilai produk Amerika Serikat, atau negara-negara lain, bisa jadi terlalu mahal untuk diimport, dan nilai produk Indonesia bisa terlalu murah untuk menggerakkan ekonomi. Karena itu, semua negara, termasuk Indonesia, harus menumbuhkan ekonominya untuk mensejahterakan rakyatnya, sambil mempertahankan produk dan uang Indonesia tetap kompetitif.

Masalahnya untuk mensejahterakan rakyat, uang harus disebarkan untuk menggerakkan ekonomi, karena total pergerakan ekonomi adalah total transaksi dalam suatu masyarakat. Dalam suatu negara bisa saja punya produksi yang tinggi, tapi kalau tidak ada yang beli (konsumsi), ya berarti tidak ada ekonomi. Jadi bagaimana meningkatkan konsumsi tanpa harus mencetak lebih banyak uang?

Di sini masuk Bank dengan sistem Fractional Reserve Lending, alias ekonomi berbasis utang. Di sini, uang diperlakukan sama dengan sumber daya yang dipakai bergantian. Caranya dengan mengganti uang dengan kredit, alias utang.

Setiap kali Anda menyimpan uang di Bank, katakanlah 10,000 rupiah, maka Bank diperbolehkan meminjamkan uang tersebut pada orang lain dengan catatan Bank menyimpan sebagian uang tersebut sebagai cadangan, alias base money. Rasio Bank Indonesia untuk cadangan minimum ini adalah 6.5%, tapi
untuk lebih mudah membicarakannya, anggap saja 10%.

Artinya, dengan aturan ini, Bank boleh meminjamkan Rp9.000 dari simpanan Anda yang Rp10.000 itu pada orang lain, dan menyimpan Rp. 1,000 dalam vault cash (brankas). Dan orang lain itu, misalnya, menggunakannya untuk membeli gado-gado lontong, dan penjual gado-gado tersebut kemudian menyimpannya di Bank.

Bank sekarang punya Rp 10.000 uang Anda + Rp 9.000 outstanding (utang belum lunas) simpanan tukang gado-gado, artinya total uang yang dipegang Bank Rp 19.000, walaupun uang yang sebenarnya dipegang oleh Bank, tetap hanya Rp 10.000. Dari uang tukang gado-gado yang Rp9.000 ini, Bank bisa meminjamkannya dengan syarat menyimpan 10%. Bank meminjamkannya pada orang lain lagi sebesar Rp8.100, dan seterusnya sampai tidak ada lagi uang cash yang bisa dipinjamkan.

Artinya, dengan Fractional Reserve Lending, ekonomi bergerak seperti ini:

Uang Anda: 10.000
Tk. Gado-gado: 9.000 (ots)
Tk. Kemiri: 8.100 (ots)
Tk. Somay: 7.290 (ots)
Tk. Sepatu: 6.561 (ots)
dst …
Sampai dengan: 90.000

Artinya dengan uang 10.000 Anda, tercipta suplai uang berupa utang sampai senilai 100.000, dan demikianlah utang bekerja sebagai building block dari kehidupan ekonomi yang kita semua jalankan sekarang, dengan syarat, bahwa tidak semua orang membutuhkan uang itu pada saat yang sama.

Bila semua orang membutuhkan (menarik) cash itu dari Bank pada saat yang sama, tentu saja uang yang Ada di Bank hanya Rp10.000.

Dengan uang Anda yang Rp 10.000 itu, ekonomi bisa bergerak sebesar Rp 100.000. Dan dengan demikian terjadilah pasar yang bekerja lebih besar dari jumlah uang yang dicetak oleh pemerintah. Produktifitas bertambah dan total GDP meningkat, dengan syarat masyarakatnya juga mengkonsumsi sebesar itu.Tapi semua itu tidak akan terjadi tanpa utang, atau Anda boleh membacanya: pengelolaan uang oleh Bank.

Semakin besar roda ekonomi berputar, semakin besar pajak bisa diambil oleh pemerintah, yang digunakan untuk membangun infrastruktur, menyediakan pelayanan publik, dan–terutama–membayar utang. Bila pemerintah membayar utang tepat waktu, dan performa produktifitas baik, maka pemerintah bisa lebih besar meminjam uang (berutang) pada negara lain melalui penerbitan Bonds (Surat Obligasi).

Kenapa pemerintah harus berutang? Karena untuk mendorong spending (belanja). Belanja negara meningkatkan money supply di dalam negeri. Semakin banyak orang punya uang untuk dibelanjakan, dan disimpan di dalam bank. Maka lebih banyak kredit bank yang bisa menggerakkan ekonomi. Uang yang disimpan oleh Anda, tukang gado-gado, tukang kemiri dan sebagainya tadi, dibelanjakan oleh orang lain, karena dengan kredit bank, belanja atau konsumsi meningkat. Makin banyak konsumsi memungkinkan pasar terbuka lebih besar untuk menerima lebih banyak produksi. Dan seterusnya ekonomi tumbuh berdasarkan utang.

Semuanya Indah kan? Sayangnya, tidak.

Dalam ekonomi tanpa utang, satu-satunya cara untuk tumbuh adalah dengan berproduksi lebih banyak, sehingga bisa mengkonsumsi lebih banyak. Pertumbuhan ekonomi oleh karena itu sulit terjadi karena terjadi situasi ayam-telur; orang harus berproduksi lebih banyak untuk mengkonsumsi lebih banyak, tapi tanpa konsumsi lebih banyak orang tidak mungkin berproduksi lebih banyak. Karena itulah masyarakat feodal cuma punya satu cara untuk tumbuh: menginvasi wilayah lain, menguasai tanah lebih luas, dan memperbanyak budak.

Dalam ekonomi utang, paling tidak Anda memperbudak diri Anda sendiri untuk meningkatkan konsumsi Anda dengan cara berutang. Ini mengakibatkan lebih banyak utang dibandingkan uang. Konsumsi berdasarkan utang dengan demikian memperbesar produksi dalam jangka pendek, tapi sebaliknya dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek orang bisa berutang untuk meningkatkan konsumsi, tapi mendekati jatuh tempo orang akan mengurangi konsumsi, karena harus bayar utang.

Ketika aktifitas ekonomi meningkat karena utang, terjadi ekspansi ekonomi karena lebih banyak konsumsi, dan ini membuat demand meningkat, sehingga harga-harga naik alias Inflasi. Inflasi ini disebabkan oleh utang. Bank Sentral tidak terlalu suka harga naik terlalu tinggi, dan kemudian menaikkan suku bunga, membuat utang menjadi lebih mahal, dan biaya angsuran utang jadi lebih mahal, sehingga orang-orang mengurangi berutang dan mengurangi konsumsi karena jatah belanja mereka berkurang.

Jadi ketika suku bunga naik, pemasukan berkurang, demand berkurang, dan harga-harga menurun. Tapi, aktifitas ekonomi juga berkurang. Ekonomi kemudian masuk kedalam “resesi”. Bila terjadi resesi dan inflasi berhenti, maka Bank Sentral akan menurunkan suku bunga lagi, sehingga orang kembali berutang, dan meningkatkan kembali konsumsi, dan seterusnya seperti di atas. Karena itu salah satu peran bank sentral adalah memainkan suku bunga agar ekonomi bergerak dalam pertumbuhan yang stabil.

Tapi kestabilan ini dapat membuat orang salah mengerti dengan posisi ekonomi: ekonomi yang bergerak lancar dianggap sebagai sesuatu yang nyata, padahal yang terjadi sebenarnya adalah gelembung ekonomi yang disokong oleh penumpukan utang. Pemasukan (gaji) yang meningkat menyebabkan harga-harga yang naik, investasi meningkat dan ekonomi tampak booming, membuat orang lupa bahwa peningkatan pemasukan itu diakibatkan oleh tingginya aktifitas ekonomi yang padahal digerakkan oleh utang.

Baik utang pribadi maupun utang perusahaan. Investasi berlebihan pada perumahan, misalnya, disebabkan oleh keyakinan atas gaji besar. Padahal, perumahan itu dibangun oleh perusahaan yang bisa membangunnya karena berutang, dan orang-orang berinvestasi dari utang berdasarkan keyakinan atas gaji dari perusahaan tempatnya bekerja yang padahal juga menggaji mereka menggunakan utang.

Ini mengakibatkan suatu konfiden berlebihan bahwa segala sesuatunya bisa dibayar pada waktunya. Nilai perumahan itu–dan barang-barang lainnya–melonjak karena utang, bukan karena kemampuan sesungguhnya, yang terjadi karena anggapan bahwa semuanya masih manageable. Semua bisa di atur.

Sampai Saatnya Gelembung itu Meletus

Ketika itu terjadi, semua orang tidak mampu membayar utang, dan ekonomi runtuh, alias “deleveraging”. Orang berhenti belanja, pemasukan menurun, Bank berhenti memberi utang, harga-harga aset jatuh, bank kehabisan likuiditas karena banyak orang ingin menarik dana, bursa saham runtuh, terjadi kerusuhan, dan sebagainya. Bank Sentral tidak bisa lagi menurunkan suku bunga, pertama karena suku bunga sudah begitu rendah, dan karena simply tidak ada uang untuk dipinjamkan. Di Indonesia ini terjadi tahun 1998. Di Amerika Serikat: Tahun 1940 dan 2008. Di Jepang: 1989. Dan sebagainya.

Cara untuk mengatasi ini adalah langkah “besar”: Dengan cara “deflasi”: pemerintah menyetop belanja, artinya memotong stimulus seperti subsidi energi dan bahan pokok. Utang-utang dipotong dan distruktur ulang. Melancarkan pemerataan dari yang kaya ke yang miskin, dengan cara meningkatkan pajak kekayaan. Lalu cara “inflasi”: pemerintah mencetak lebih banyak uang. Untuk mencetak lebih banyak uang, pemerintah harus lebih menerbitkan lebih banyak obligasi, dengan catatan ada negara / entitas di luar negara tersebut masih punya cukup konfiden untuk berinvestasi ke dalam ekonomi yang sedang lemah.

Ini terjadi di Amerika Serikat tahun 1930an. Inggris di tahun 1950an. Jepang di tahun 1990an. Spanyol dan Itali di tahun 2010an, yang sempat ramai dengan kerusuhan austerity pada zaman gerakan occupy pada saat itu.

Intinya, cara menggerakkan ekonomi utang, adalah dengan “mengendarai” gelombang siklus utang (bayar utang dengan cara-cara yang mulus). Secara umum, jumlah utang harus sesuai dengan pemasukan negara. Kalau suku bunga lebih besar dari pertumbuhan pemasukan, maka beban utang akan meningkat sampai taraf yang tak dapat dikendalikan. Tapi meningkatkan money supply juga membahayakan resiko
inflasi.

Utang dan Pola Konsumsi

Tentang persoalan keadilan akses terhadap siklus ekonomi bagi orang-orang dengan kesempatan terbatas, pemiskinan, korupsi, kolusi dan sebagainya sudah sering dibahas orang dan oleh karena itu tidak saya tulis di sini. Yang saya mau tulis adalah bagaimana pola konsumsi itu sendiri dibiayai menggunakan utang.

Katakanlah ada seorang bernama pak Gugu, yang bekerja di sebuah perusahaan Swasta dengan gaji sebesar 10 juta rupiah. Pak Gugu sudah punya rumah dan kendaraan. Pak Gugu membutuhkan sebuah smartphone dan berkunjung ke toko. Ada dua pilihan di situ, smartphone merek X dan Y sama-sama menyediakan semua kapabilitas yang ia butuhkan; bersosmed-ria, ikut layanan ojek online, online banking, peta GPS, dan sebagainya. Harga smartphone X hanya 2 juta rupiah. Harga smartphone Y 20 juta rupiah.

Kelebihan smartphone Y adalah layarnya 4 milimeter lebih besar X. Layar smartphone Y melengkung dipinggir sedangkan smartphone X kotak biasa. Dan ada logo Y yang menurut orang-orang, dianggap lebih elegan. Pak Gugu kemudian memilih smartphone Y.

Dengan gaji pak Gugu, setelah dikurangi kewajiban dan pengeluaran bulanan, dia punya spendable income sebesar 2 juta. Oleh karena itu pak Gugu berkomitmen membiayai pembelian smartphone Y selama 10 bulan. (Kita berasumsi pak Gugu mendapat fasilitas bunga 0%).

Sekarang kita lihat keseharian pak Gugu. Tiap hari dia bangun pagi pukul 05:00 untuk siap-siap dan berangkat melalui jalan macet untuk tiba di kantor jam 09:00. Pak Gugu pulang kantor jam 17:00 dan sampai dirumah melalui jalan macet jam 20:00. Dia makan malam sampai jam 21:00 lalu nonton televisi
sampai jam 22:00, lalu tidur menghimpun energi untuk bangun jam 05:00, meneruskan aktifitas hari berikut.

Setiap hari seperti itu, pak Gugu hanya punya waktu 1 jam untuk dirinya sendiri, setiap hari, kecuali hari Jumat dan Sabtu dia habiskan untuk mengunjungi mertua dan keluarga.

25 hari kerja dalam satu bulan, dia hanya punya waktu 25 jam untuk dirinya sendiri. Dia makan untuk memasok energi agar tubuh dan mentalnya sehat, untuk pekerjaan di perusahaan. Dia tidur untuk meregenerasi energi tubuh dan mentalnya, untuk pekerjaan di perusahaan. Dan ia melakukan itu selama 10 bulan untuk memiliki 4 milimeter layar lebih lebar, pinggiran kaca yang melengkung dan logo Y yang dianggap bernilai tersebut.

Hal ini, oleh Marx, disebut “fetisisme komoditas”. Tidak ada kelebihan produk Y yang dapat lebih berguna bagi pak Gugu selain anggapan bahwa produk Y lebih bagus. Dalam hal ini, pak Gugu membeli “user experience” atas produk Y. Suatu obyek tidak nyata, yang tiba-tiba dianggap nyata, hanya karena dianggap demikian.

Marx menyebutnya verdinglichung, alias reifikasi. Gagasan yang dituangkan perancang bentuk dan “user experience” produk Y menjadi benda yang seolah-olah nyata, dan mendapat imbuhan nilai lebih yang berasal bukan dari nilai atau fungsi ekonomis benda itu sendiri, melainkan dari nilai yang ditambahkan dari kepercayaan (belief) pak Gugu bahwa sesuatu yang tidak nyata tersebut (user experience), punya cukup nilai yang layak untuk pengorbanan waktu hidupnya selama 10 bulan.

Selama 10 bulan itu juga, carbon footprint dari makanan yang dimakan pak Gugu, bensin yang ia pakai untuk pulang-pergi ke kantor, limbah sabun bekas cuci pakaian yang ia buang ke laut melalui selokan, dilepaskannya untuk ditanggung oleh lingkungan, hanya untuk mendapatkan hal-hal tak nyata yang ditawarkan oleh produk Y.

Produk Y tidak mungkin menjadi “ekonomis” bila tidak ada sistem utang yang memungkinkan pak Gugu dan milyaran orang sepertinya untuk melakukan pembelian terhadap sekian banyak model produk komoditas fetisisme seperti itu.

Dan begitulah kehidupan berlangsung, mengendarai gelombang utang.


Verdi Adhantapengamat amatiran yang hobi audio visual.

Tag: , , , , , , ,

There are no comments yet

Why not be the first

Tinggalkan Komentarmu

%d blogger menyukai ini: