Komersialisasi Ayat dalam Tayangan Televisi di Bulan Ramadhan

Mudheng dot com – Selama sebulan lebih tayangan-tayangan yang bernuansa agamis akan mengedar dalam tayangan-tayangan televisi. Pernah melihat perempuan cantik menampilkan paha atau bahu telanjang hanya sekedar untuk mengiklankan sabun mandi, obat nyamuk, salep kulit, bahkan sampai pompa air? Mungkin di antara kita sering protes sendiri kalau melihat hal tersebut berikut dalih macam-macam. Tetapi bagaimana reaksi kita ketika melihat seorang pendakwah menjual brand aneka produk disertai petuah-petuah holistik nan relijius di bulan Ramadhan, apakah kita memprotes?

Stasiun televisi seperti halnya supermarket. Tema yang dipasang tergantung momen. Sudah tentu pada masa puasa akan mengumbar ragam tayangan bernuansa keislaman. Sama saja seperti mal atau pusat perbelanjaan yang ketika natal memasang pohon atau meminta pekerjanya mengenakan topi santa. Ironisnya, kalau di bulan Desember akan banyak bermunculan protes topi merah berjambul bulu tersebut dengan alasan agama, sementara di bulan Ramadhan justru para tukang protes itu akan melakukan pelarangan terhadap tempat makan buka siang hari. Tirani mayoritas benar-benar terjadi di republik ini, dan toleransi adalah basa-basi.

Tayangan-tayangan relijius di televisi itu sangat menggelikan. Namun, biasanya dijadikan alasan katarsis ketika selama 11 bulan penuh dengan tayangan bernuansa sekuler mewarnai acara-acara televisi. Akan tetapi, ketika dengan sekejap semua berubah sok agamis, tentu akan memaksa sepet mata. Mau menyetel televisi tayangannya begitu semua, belum lagi ditambah saban hari pengeras suara masjid-masjid menyiarkan orang mengaji.

Surplus Prestise dan Ekonomi Bermodalkan Simbol Keagamaan

Mari kita lihat seperti apa komersialisasi dan kapitalisasi simbol-simbol agama di bulan ramadhan yang kentara jelas dipertontonkan oleh televisi. Apa yang disebut komersialisasi ayat atau simbol agama ibarat komersialisasi simbol-simbol anarkisme dan pemberontakan yang dipakai anak-anak remaja. Misalnya, pemakaian atribut peace kaum hippie, atau tatto gambar Che Guevara untuk menunjukkan identitas ke-aku-an atau sekedar bergaya mengikuti tren doang. Begitulah apa yang sesungguhnya terjadi dalam tayangan-tayangan agamis di bulan Ramadhan.

Pertama, soal iklan, hampir semua iklan dikaitkan dengan situasi puasa dan bulan ramadhan. Mau pulsa, jok mobil, helm, minuman dan makanan cemilan yang biasanya nampilin penari-penari abg labil, sampai jualan rumah pun menggunakan “dalam rangka puasa dan bulan ramadhan” atau kalau misalnya hampir dekat idul fitri ditambah “merayakan kemenangan, kembali fitrah, dan bla bla bla lainnya.”

komersialisasi agamaReaksi kita mungkin menganggap bahwa, sah-sah saja pendakwah jadi bintang iklan juga. Sama halnya dengan model-model perempuan yang seharusnya mendapatkan kesempatan yang sama untuk memasarkan suatu produk, apalagi jika memang profesi utamanya adalah model. Yang sekarang sedang marak adalah jualan sertifikasi halal di sebuah produk. Dengan mengangkat label halal maka diharapkan dapat menjadi nilai tambah. Namun terkadang, ketika sebagian dari kita melancarkan kritik terhadap praktik arus komersialisasi semacam itu, lantas dijawablah dengan dalil apologetis pragmatis seperti, “ya sudahlah ngapain dipersoalkan, ambil baiknya saja.” atau “yang penting niatnya berdakwah, soal duit itu cuma efek samping.”

Memang sih cuma efek samping, tetapi bagaimana jika efek samping itu ternyata bisa dikalkulasi. Katakan saja jika tiap satu episode di masa permulaan sebelum popularitas menanjak, dihargai sebesar 1 juta rupiah, berapa kemudian hitung-hitungannya kalau sampai 10 episode atau lebih? Apa kemudian lagi-lagi kita dibungkam dengan ucapan, “itu kan sudah rezeki dari Tuhan, yang penting niatnya berdakwah.”

Kedua, tayangan menjelang berbuka yang dipenuhi ustaz-ustaz televisi dari yang sedang panen uang dan gencar besar-besaran menjejali ide-ide sok suci itu bagi para pemirsa. Ustaz-ustaz televisi itu biasanya 11 bulan raib, namun ketika bulan Ramadhan serentak keluar dari sarang langsung menyerang bertubi-tubi dari pagi sampai pagi lagi mempromosikan ‘dagangannya’.

Ketiga, tayangan humor di televisi-televisi menjelang berbuka atau ketika sahur yang tambah ora nggenah. Dipenuhi boneka-boneka yang menyangka dirinya publik figur, selebritis, dan semacamnya. Mereka berpakaian asal-asalan, menari, dan bernyanyi seolah sedang menghibur meski apa yang dicelotehkan dari mulut mereka demikian kabur. Terkadang acara-acara semacam ini diselingi segmen bagi-bagi duit untuk menarik minat penonton dan menaikkan rating.

Keempat, sinetron-sinetron religi yang sebenarnya isinya tidak jauh dari tema percintaan pada sinetron-sinetron biasanya, namun bedanya dibalut simbol-simbol agama sehingga tampak lebih agamis, islamis, diridhai Tuhan, dan semacamnya.

Ada sinetron religi yang berusaha menjual cara-cara berpoligami, hanya didasarkan pemahaman teks keagamaan bahwa poligami itu satu-satunya jalan keluar dari praktik perzinahan dan merepresentasikan model romantika percintaan yang diklaim paling benar karena dibungkus kerangka agama. Tapi itu semua tak terlepas dari nilai tambah yang didapatkan para pelaku sebagai distributor, dan korporasi media sebagai produsen. Perkara laku dan tidaknya tetap diserahkan kepada pasar dan biar pasar yang menentukan, walaupun terkadang isi sinetron religi sering mengkritisi praktik-praktik kebebasan pasar. Namun kebebasan pasar yang dikritik adalah hal-hal yang non religi atau dipandang tidak agamis.

Kelima, yakni tayangan infotainment yang mengulas kebiasaan boneka (baca: selebritis) selama bulan Ramadhan. Ada yang umroh, ada yang buka puasa bareng, ada yang tarawih, ada yang begini-begitu dan lain sebagainya. Lalu apa? Pentingkah kehidupan privat mereka diberitakan atas dasar alasan klise memuaskan keingintahuan penggemar tentang aktivitas keseharian mereka selama bulan Ramadhan?

Meningkatnya Tarif Pendakwah Selama Bulan Ramadhan

Tidak jauh beda seperti tukang obat di jalan atau SPG di pameran-pameran. Fenomena ini banyak terjadi di bulan Ramadhan. Lantaran mentang-mentang bulan Ramadhan, lantas aktor/aktris dan tampilannya diganti dengan kostum atau atribut yang mencirikan simbol keagamaan. Seperti acara kuis sms yang biasanya selain bulan Ramadhan menampilkan belahan dada, ujug-ujug jadi memakai jilbab. Mungkin takut dirazia sama ormas-ormas urakan sehingga begitu, tapi trik marketing demikian yang telah menjadi komoditas pasar memang sangat jitu digunakan. Hubungan timbal baliknya bagi si aktor/aktris adalah meningkatnya surplus mereka, baik prestise maupun ekonomi.

Bagaimana dengan para ustaz atau pendakwah yang berseliweran di televisi selama bulan Ramadhan? Namanya ekonomi, ada suply dan demand, dan bulan Ramadhan tentu permintaan petuah agama meningkat. Bahkan, bisa jadi bukan cuma di televisi, tapi di mimbar-mimbar masjid. Tentu saja naiknya permintaan diiringi dengan kenaikan tarif para ustaz dan pendakwah.

Banyak orang berteriak lantang menyuarakan ketidaksetujuan sewaktu ada isu para ustaz yang memasang tarif. Namun banyak pula yang tidak menyadari bahwa fenomena ustaz memasang tarif sesungguhnya adalah suatu kewajaran. Semestinya masyarakat bisa menerima hal itu. Mengapa? Misalkan saja Anda masuk kuliah di fakultas yang berbau agama, seperti misalnya fakultas Hukum Islam, Tafsir Hadis, Ekonomi Syariah, dll. Lalu di dalamnya Anda akan menerima transmisi pengetahuan dari seorang professor yang jelas ilmunya lebih mumpuni ketimbang ustaz-ustaz yang nangkring di televisi, lantas salahkah para professor itu menerima bayaran dari Anda? Tidak salah, tapi bedanya jika professor-professor itu berada di lingkungan institusi formal sedangkan ustaz-ustaz yang berdakwah itu berada pada sektor informal.

Mengapa kita tidak suka dan tidak mau mengakui bahwa agama adalah komoditas, sering dipakai sebagai komoditas politik dan juga komoditas keagamaan itu sendiri. Anda bisa lihat sendiri ketika bulan Ramadhan contohnya, banyak sekali komoditas agama diangkut ke layar kaca. Apa yang salah ketika agama menjadi komoditas stasiun televisi untuk meningkatkan rating, dan pada momen demikian memang selera pasar atas komoditas agama sedang meninggi. So what! Itulah mekanisme pasar, beradaptasilah dengan kehidupan di era industrialisasi seperti saat ini. Apapun jadi industri termasuk agama.

Persoalan ustadz memasang tarif ketika berdakwah tidak jauh bedanya dengan musisi, penyanyi, grup band yang konser dan orang-orang membayar tiket untuk mendengarkan mereka. Jika Anda suka maka bayar saja, masuki venue-nya dan dengarkan “nyanyian” mereka. Tak ubahnya pula seperti seorang motivator di televisi atau seminar-seminar, mereka mengoceh dan dibayar. Oleh karena itu, seorang ustadz semestinya diakomodir sebagai profesi, sebut saja profesi mereka ketika berdakwah yaitu menjadi pendakwah.

Jika ada yang mencibir bahwa ustadz yang memasang tarif ketika berdakwah ibarat memperjualbelikan surga dan neraka maka kita bisa mengatakan bahwa di negara yang mana aroma agama masih kental dalam praktik kehidupan keseharian warganya, wajar jika agama atau kredo-kredo agama diperjualbelikan. Jadi, hentikanlah berdebat soal ustadz yang memasang tarif. Justru jika Anda bisa melihat peluang maka bisa dijadikan lahan usaha. Anggap saja Anda seorang motivator yang dikemas dengan dalil-dalil dan ayat agama lalu pasang tarif Anda untuk memasarkan jasa komoditas yang Anda tawarkan. Untuk pemula tak perlu tinggi-tinggi, kecuali sudah masuk televisi beberapa kali. Namun jangan lupa bahwa pendakwah, penyanyi, motivator adalah profesi yang sama. Mereka harus dikenakan pajak oleh pemerintah.

Surplus non-materi berangkat dari modal sosial atau modal simbolik yang berupa surplus prestise. Surplus prestise dapat diraih pula melalui modal materi atau modal ekonomi, akan tetapi yang lebih berpengaruh ternyata sisi modal simboliknya dan modal sosial kulturalnya seperti, keturunan darah, hubungan kekerabatan, modal teologis, modal akademis, dan sebagainya yang bersifat non-material. Kadang kala dua modal ini (simbolis dan non-simbolis, sosial kultural dan ekonomi) saling berkaitan satu sama lain dalam mengonstruk surplus prestise seseorang. Sebaliknya surplus prestise juga turut meningkatkan surplus ekonomi si aktor, agen, atau pelaku tersebut.

Semakin meningkat surplus prestise, semakin sering kita dengar istilah asal caplok seperti public figure. Makanya kalau ada yang menyinggung mengapa jampi-jampi agama laku di momen bulan Ramadhan. Itu dikarenakan momen atau kondisinya memang sangat sesuai untuk memasarkan produk ekonomi dengan bermodalkan simbol-simbol keagamaan.  Selain itu patut dilihat pula kondisi sosial masyarakat yang memang masih menggandrungi hal-hal semacam itu. Kondisi sosial ini bisa saja dikonstruk melalui jejaring kuasa di luar manusia dan komunitasnya, seperti media cetak maupun elektronik, ataupun secara internal berasal dari dalam diri manusianya dan komunitasnya sendiri. Seperti misalnya adanya tuntutan dari beberapa komunitas keagamaan untuk ditayangkan sinetron-sinetron religi untuk menyaingi sinetron-sinetron non religi yang sering dipandang tidak agamis. Namun lagi-lagi mekanismenya melalui industrialisasi yang ditempelkan dalil apologetis pragmatis, makanya tak jarang isi sinetron-sinetron religi isinya adalah menggurui para penonton.

Produk-produk simbolik semacam ini laku dipasaran, lantas bagaimana standardisasi yang diberlakukan untuk memprediksikan sebuah produk bisa laku dipasaran?

Konsep awal yang dibangun adalah dengan kesimpulan mentah bahwa sebuah produk bisa laku jika produk itu baik dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan, selama itu baik maka lanjutkan. Konsep kedua ialah dengan menempatkan faktor-faktor yang dianggap otoritatif atau bisa melegitimasi produk tersebut sebagai yang baik, misalnya dengan menaruh agen pemasaran berupa seorang pendakwah. Konsep ketiga dengan menjadikan sebuah produk sebagai alat untuk mereproduksi modal sosial kultural. Produsen membuat produk yang dapat mereproduksi, contohnya sinetron-sinetron religi yang menggurui dan menjual dalil agama agar kondisi masyarakat dengan sendirinya terkonstruk. Bahasa halusnya sih edukasi masyarakat.

Ketika sebuah produk benar-benar dikonsumsi oleh masyarakat, alias masyarakat konsumerisme telah tercipta sedemikian kompleks. Maka dengan sendirinya surplus-surplus prestise dan ekonomi akan balik modal, yang kembali memberikan nilai tambah kepada si distributor para agen dan juga korporasi besar para produsen. Namun terlepas dari pelbagai pandangan itu, suatu yang pasti adalah bahwa, masyarakat konsumerisme lebih memilih apologetis. Itu saja.


K. El-Kazhiem, penulis kelas ‘siapa elu’, penerima jasa sunting naskah, dan soliter.

, , , , , ,

Tinggalkan Komentarmu