Lelucon Buruk Duterte Tentang Tentara Boleh Memerkosa

Mudheng dot com – Di berbagai belahan dunia setidaknya satu dari tiga orang perempuan menjadi korban pemukulan, pemaksaan seksual atau menjadi korban kekerasan seumur hidupnya. Pelaku kekerasan yang paling sering adalah anggota keluarga mereka sendiri. Dan ketika sebuah konflik bersenjata terjadi, kedudukan perempuan yang pada masa damai sudah dianggap sebagai obyek semakin tersudutkan dengan adanya tindak pemerkosaan.

Pemerkosaan adalah suatu bentuk pernyataan akan adanya dominasi, kekuatan dan penghinaan. Kekerasan seksual terhadap perempuan di waktu perang terkadang semakin parah ketika kekerasan yang terjadi tersebut didukung oleh institusi negara dan dalam beberapa kasus dilakukan dengan maksud memusnahkan entitas etnis dan/atau budaya tertentu.

Kisah Budak Seks ISIS

Ketika sekelompok militan memproklamirkan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), banyak kisah mengenai perempuan-perempuan yang diculik untuk dijadikan budak seks. Mereka juga diperlakukan bak binatang. Kebanyakan yang menjadi korban adalah warga Yazidi (sebuah komunitas agama di kalangan etnis Kurdi, yang menggabungkan aspek keyakinan Islam, Kristen, Yahudi, dan Zoroastrianisme).

Karena itu, mereka dilihat sebagai bidaah di mata pejuang radikal ISIS, yang merasa layak untuk membunuh, menangkap, dan memperbudak kaum Yazidi. Seorang perempuan Yazidi bernama Waheda bercerita ia tinggal di sebuah kota dekat Sinjar, Ninive, Irak utara ketika ditangkap dengan anaknya, Matu, pada tahun 2014. Semua pria di kota itu dibunuh, perempuan dan anak-anak diculik.

Perempuan muda dan cantik dijadikan budak seks, yang tua dibunuh, dan anak laki-laki dijadikan tameng di medan perang atau dijadikan pengebom bunuh diri. Menurut Waheda, ia sempat dijual kepada banyak orang dengan cara memamerkan dirinya di pasar, seperti di pasar ternak.

“Orang pertama yang membeli saya adalah laki-laki dari Arab Saudi, kemudian pejuang Jordania,” kata Waheda dengan nada sendu. Waheda katanya berhasil menarik perhatian dari tetangganya, seorang pejuang perempuan Tunisia yang datang secara sukarela ke Irak.

“Aku bercerita kepadanya dan ia telah melakukan segalanya untuk saya, ia membayar untuk lalu lintas saya keluar dari daerah tersebut,” katanya. “Saya hampir tak percaya, bahwa anak saya dan saya benar-benar masih hidup,” lanjutnya.

Diperkirakan saat ini ada sekitar 3.000 perempuan Yazidi masih berada dalam penyekapan militan ISIS di kota yang kini sedang terkepung, yakni kota Mosul. Tidak ada yang mengetahui secara pasti berapa banyak lagi perempuan dan anak-anak Yazidi yang masih berada di Mosul atau juga ke kota-kota lain di Suriah. Namun, di tengah pertempuran untuk merebut kota itu sedang berlangsung, yang didominasi pasukan Irak, banyak warga Yazidi sekarang bisa melarikan diri dari para bandit ISIS.

Pemerkosaan yang Dilakukan oleh Militer Negara

Bukan hanya pihak ISIS, kekerasan seksual juga dilakukan oleh negara. Belum lama ini pemerintah Irak menyelidiki salah satu pasukan elite mereka yang diduga melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Kota Mosul. Pelanggaran yang dimaksud berupa kasus penyiksaan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Proses penyelidikan dilakukan setelah adanya laporan dari majalah Jerman Der Spiegel. Media itu menerbitkan laporan dari wartawan foto asal Irak, yaitu Ali Arkady. Laporan itu menunjukkan adanya dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan salah satu anggota Divisi Tanggap Darurat Kementerian Dalam Negeri Irak.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana jika pemimpin negaranya sendiri yang membolehkan tentaranya melakukan pemerkosaan?

Saat ini Filipina sedang dalam keadaan genting, terkait dengan kelompok teror ISIS yang merebut sejumlah permukiman di Marawi, kota yang berada di bagian selatan Filipina. Masalah ini bermula ketika pasukan pemerintah Filipina gagal menangkap Isnilon Hapilon, tokoh pemimpin ISIS di Asia Tenggara.

Hapilon adalah salah satu buron paling dicari Biro Investigasi Federal Amerika Serikat. FBI menjanjikan imbalan sebesar US$5 juta bagi pihak yang berhasil menangkapnya. Menyusul upaya penggerebekan yang gagal itu, para militan di sekitar Hapilon mengamuk. Mereka membajak rumah sakit, sekolah dan membebaskan puluhan narapidana dari penjara. Sebagai respons, Presiden Rodrigo Duterte menetapkan darurat militer di seluruh Mindanao, provinsi tempat Marawi berada.

Duterte Kerap Menjadikan Pemerkosaan Sebagai Lelucon

Duterte dalam pidatonya di Mindanao, mengatakan ia akan menanggung seluruh konsekuensi yang ada dari pemberlakuan status darurat militer di wilayah tersebut, termasuk jika tentara militer melakukan pemerkosaan terhadap perempuan.

“Saya akan mengambil seluruh risiko yang ada, termasuk jika Anda memperkosa. Tapi saya tidak akan menoleransi apabila Anda melakukan pelanggaran. Saya Sendiri yang akan memenjarakan Anda,” ucapnya.

Ucapan Duterte kerap mengundang kontoversi. Ini bukan pertama kalinya ia bercanda tentang pemerkosaan. Bahkan, jelang pemilihan presiden tahun lalu, ia dikecam banyak pihak karena menyinggung soal pelaku kerusuhan yang boleh diperkosa.

Dalam pidatonya itu, Duterte menyebut korban pemerkosaan yang merupakan misionaris adalah seorang yang cantik. Bahkan, dia yang waktu itu menjabat sebagai Wali Kota Davao menyatakan ingin mengantre paling depan untuk memerkosa warga Australia tersebut.

Pidatonya tersebut langsung mengundang kemarahan di kalangan aktivis perempuan. Partai Gabriela yang menyerukan gerakan politik perempuan Filipina mengecam keras Duterte;

“Pemerkosaan bukanlah lelucon. Upaya untuk menyenangkan kekuatan militer yang menggunakan perempuan untuk memberi makan mentalitas macho fascist … mendorong kekuatan militer untuk secara sistematis menggunakan pemerkosaan sebagai alat perang. “

Pemerkosaan Kerap Dijadikan Bagian dari Strategi Perang

Margaret A. Schuler menunjukkan bagaimana kekerasan seksual terhadap perempuan yang pada waktu perang digunakan oleh militer sebagai bagian dari strategi perang;

A. Perkosaan telah digunakan dengan tujuan-tujuan berikut:

1. Menteror atau melakukan teror terhadap penduduk sipil dan sebagai dampak ikutannya mendorong penduduk sipil untuk meninggalkan rumah dan desa mereka.

2. Merendahkan musuh dengan cara menaklukkan kaum perempuannya.

3. Merupakan “bonus” bagi para tentara serta untuk meningkatkan keberanian mereka di medan perang.

B. Pelacuran paksa telah digunakan untuk tujuan-tujuan berikut:

1. Meningkatkan moral para tentara dan pegawai dan;

2. Merupakan cara untuk membuat atau menjadikan kaum perempuan merasa ikut bertanggung jawab terhadap pelanggaran yang terjadi.

C. Penghamilan dan kehamilan paksa telah digunakan untuk tujuan-tujuan berikut:

1. Memperdalam penghinaan terhadap korban perkosaan.

2. Melahirkan bayi-bayi dengan etnis yang sama dengan pemerkosaannya.

Berdasarkan alasan-alasan yang dikemukakan oleh Margaret A. Schuler terlihat bahwa perempuan acapkali hanya dianggap sebagai obyek yang digunakan untuk memenangkan perang atau sebagai alat mencapai tujuan ketika suatu konflik bersenjata terjadi. Kedudukan perempuan sebagai korban tidak selesai ketika perkosaan tersebut selesai. Selain penderitaan fisik dan mental yang dihadapi karena diperkosa. Para korban perkosaan juga seringkali mengalami ‘penyiksaan mental’ dalam bentuk lain ketika ia diharuskan berhadapan dengan keluarga dan masyarakat disekitarnya.

Tentu saja seorang pemimpin negara tidak pantas dan tidak seharusnya berseloroh menjadikan pemerkosaan sebagai lelucon. Dalam konteks situasi yang tengah terjadi Filipina tentu sangat ironis ketika mereka menghadapi ISIS yang suka menjadikan perempuan sebagai budak seks, tapi menggunakan cara-cara serupa dengan ISIS. Tidak ada bedanya sama sekali. Mengapa tidak sekaligus bergabung saja dengan kelompok yang tengah mereka perangi.


K. El-Kazhiem, penulis kelas ‘siapa elu’, penerima jasa sunting naskah, dan soliter.

, , , , , , , , ,

Tinggalkan Komentarmu