Meme dan Fosil Budaya

Mudheng dot com – Apa itu meme? Meme pertama kali muncul di buku pertama Richard Dawkins, The Selfish Gene (1976), dan merupakan usaha untuk memahami (dari perspektif evolusi), mengapa beberapa perilaku tampaknya tidak masuk akal tapi, entah bagaimana, ditemukan sangat umum di masyarakat. Dawkins menggunakan istilah ‘Mimeme’ berasal dari akar kata Yunani, yang berarti ‘mengimitasi’. Tapi kemudian ia menyingkat mimeme untuk meme, dan bisa dianggap sebagai alternatif terkait dengan ‘memori’, atau kata meme dalam bahasa Prancis. Contoh meme adalah lagu-lagu, ide-ide, frasa, gaya busana, cara pembuatan pot, atau bangunan lengkungan.

Meme dapat mereplikasi dengan sendirinya (dalam bentuk peniruan) dan membentuk suatu budaya, cara seperti ini mirip dengan penyebaran virus (tetapi dalam hal ini terjadi di ranah budaya). Sebagai unit terkecil dari evolusi budaya, dalam beberapa sudut pandang meme serupa dengan gen. Dalam bukunya itu, Dawkins menceritakan bagaimana ia menggunakan istilah meme untuk menjelaskan penyebaran ide ataupun fenomena budaya dalam perspektif Darwinisme.

Seberapa Dekat Antara Ilmu Biologi dan Humaniora?

Beberapa pembaca yang kebetulan tahu konsep meme, barangkali akan menjawab “sangat dekat” dan mereferensikan buku Richard Dawkins.

Biasanya di bidang biologi, untuk menelusuri jejak makhluk hidup, para ilmuwan menggunakan rekaman fosil. Misalnya fosil mammoth; dia memiliki kesamaan bentuk tubuh dengan gajah (sama-sama punya gading; kaki datar dsb). Oleh karena itu, diperkirakan bahwa mammoth memiliki kekerabatan genetik dengan gajah. Mengapa begitu, sebab yang namanya penampakan tubuh (fenotip) ditentukan oleh DNA. Bentuk tulang ditentukan oleh DNA; struktur morfologi juga demikian. Maka apabila fosil makhluk terlihat identik—ada kemungkinan mereka berdua kerabat dekat.

Prasasti Linear B (via Wikimedia Commons)

Akan tetapi, tahukah Anda bahwa prinsip yang sama juga berlaku di bidang arkeologi? Bukan saja dalam menganalisis budaya kuno terdapat “fosil”, melainkan juga “DNA”, “mutasi”, dan “seleksi alam”. Kasar-kasarnya kalau boleh dibilang: ternyata ilmu humaniora benar-benar mirip dengan biologi! Seperti apakah detailnya?

Berawal dari Biologi: Analogi DNA Manusia

Dalam bukunya yang terkenal, The Selfish Gene, Dawkins memulai dengan bercerita tentang DNA yang mempunyai tiga karakteristik utama, yaitu:

  1. Selalu menyebar dan memperbanyak diri (replikasi dan reproduksi)
  2. Dari waktu ke waktu mengalami mutasi, dan
  3. Penyebarannya amat tergantung pada kemampuan makhluk hidup untuk survive.

Contoh yang mewakili di sini misalnya DNA manusia. Semenjak Homo sapiens pertama muncul di Afrika 200.000 tahun silam, manusia selalu berusaha menyebarkan keturunan (reproduksi). Kemudian mereka berangkat menyebar di muka bumi. Akan tetapi, dari sumber DNA yang sama itu, seiring waktu mengalami mutasi. Sedemikian hingga manusia ada yang berkulit putih bermata biru (Kaukasus); berkulit merah mata coklat (Indian); hingga yang kulit coklat dan bermata hitam (Mongoloid).

Penyebaran Manusia dari Afrika

(courtesy of National Geographic Magazine)

Nah, keragaman data genetik itu kemudian dapat menyebar—atau menghilang—tergantung survival makhluk hidupnya. Apabila satu kelompok masyarakat terkena bencana, atau tewas dalam perang maka informasi genetiknya akan hilang.

Sebagai contoh di masa kini hanya sedikit orang mempunyai DNA suku Aztec. Itu karena sebagian besar (90% populasi) terbunuh dalam perang melawan Spanyol. Demikian juga dengan suku Inca; nyaris seluruh populasinya disapu oleh penyakit sifilis dan cacar. Peristiwa macam ini mengakibatkan data genetik mereka gagal tersarikan (Diamond, 1997).

Menghubungkan Genetik dengan Budaya: Meme

Setelah menjelaskan seluk-beluk DNA, Dawkins kemudian mengetengahkan sebuah konsep bernama meme. Dalam pengertian Dawkins, meme adalah sebuah unit budaya—bisa diibaratkan gen di tubuh manusia.

Menurut Dawkins, sama halnya dengan genetika, kebudayaan manusia menyebar mengikuti tiga aturan utama. Tiga aturan tersebut adalah:

  1. Kebudayaan selalu berupaya untuk menyebar (replikasi)
  2. Namanya kebudayaan tidak pernah tetap, dari waktu ke waktu akan mengalami evolusi (mutasi)
  3. Penyebaran budaya amat tergantung pada kemampuan masyarakatnya untuk survive.

Sepintas lalu terlihat kemiripan mencolok dengan dalil DNA di atas. Akan tetapi, kalau sekadar teori, tentu saja akan kering. Oleh karena itu, segera kita lanjutkan dengan contoh. Berhubung di bagian sebelumnya kita menyebut contoh suku asli Amerika, ada baiknya kita kembali ke analogi tersebut.

Ketika bangsa Spanyol mendarat di Amerika Latin, mereka bukan saja datang untuk menguasai wilayah, melainkan juga untuk menyebarkan kebudayaan. Di pelajaran sekolah dulu kita ingat mendengar semboyan Gold, Gospel, Glory. Dengan menyebarkan budaya Spanyol—termasuk di dalamnya agama Kristen—maka akan timbul suatu kejayaan (Glory). Ini adalah semangat meluaskan pengaruh di muka bumi (poin 1 — meme berusaha melakukan replikasi).

Meskipun begitu, budaya Spanyol yang hendak menyebar itu adalah budaya Spanyol yang sudah ber-evolusi. Agama Kristen yang dianut aslinya berasal dari Timur Tengah. Teknologi perkapalan dan navigasi sedikit-banyak dipengaruhi peradaban Cina. Bahkan, bahasa mereka pun warisan peradaban Islam Andalusia. Seiring jalannya waktu, budaya Spanyol mengalami perubahan terus-menerus (poin 2 — meme mengalami mutasi).

Kemudian budaya Spanyol ini datang ke Amerika Latin. Tanpa disangka ternyata di Amerika Latin terdapat kerajaan-kerajaan besar dengan budayanya sendiri. Di antaranya adalah Inca, Aztec, dan Maya. Semua punya bangunan hebat dan mampu melakukan baca-tulis. Di sini meme Spanyol berhadapan dengan meme asli Amerika Latin.

Sayangnya malang tak dapat ditolak. Sebagaimana telah disebut budaya asli Amerika akhirnya takluk. Masyarakatnya hampir musnah disapu kedigdayaan Spanyol. Produk budaya seperti manuskrip dan bangunan dihancurkan, sebab dinilai tak sesuai ajaran Kristen. Sedemikian hingga akhirnya cuma sedikit orang tersisa yang paham kebudayaan Aztec/Maya/Inca (poin 3 — meme tergantung pada kemampuan masyarakatnya untuk survive).

Singkat cerita, demikianlah ilustrasi keselarasan prinsip genetika dan meme. Memang benar terlihat bahwa persebaran genetik amat paralel dengan kebudayaan. Di satu sisi harus diakui bahwa contohnya tidak indah — akan tetapi di sisi lain, rangkaian peristiwa di atas amat cocok menjelaskan ide meme yang diutarakan Dawkins.

Sang Penyelamat Meme: Fosil Budaya

Untungnya, sebagaimana halnya di bidang biologi, kepunahan suatu kultur bukan berarti mereka benar-benar hilang. Masih ada data sekunder yang bisa diraih untuk mempelajari kultur tersebut. Kalau di bidang biologi, para ilmuwan mempelajari fosil hewan untuk menganalisis kehidupannya. Apakah suatu makhluk itu pemakan daging atau rumput? Apakah makhluk laut, darat, atau amfibi? Apabila fosilnya lengkap maka sifat-sifatnya dapat diperkirakan. Gigi pemakan rumput, misalnya, beda dengan gigi pemakan daging. Begitu pula alat gerak makhluk darat berbeda dengan makhluk perairan.

Nah, demikian juga halnya dengan meme. Biarpun suatu kebudayaan sudah punah, bukan berarti mereka tak bisa dipelajari. Asalkan terdapat “fosil” budayanya maka kita dapat melakukan penelitian. Fosil ini bisa berupa peninggalan arsitektur, batu bertulisan, atau barang remeh seperti koin tembaga, dan artefak lainnya.

Di masa kini orang belajar tentang peradaban kuno lewat peninggalannya. Mulai dari Yunani Kuno, Norse, Cina Kuno, Maya, Inca … Biarpun masyarakatnya sudah punah, tetapi masih banyak yang bisa digali. Itu karena kita punya “fosil” budaya mereka. Perlahan tapi pasti, peninggalan seperti bangunan, senjata, dan barang pecah-belah menunjukkan identitas kultur yang pernah eksis.

Salah satu bentuk fosil tersebut misalnya bahasa tertulis sebagai alat rekam budaya yang luar biasa. Serangkaian huruf ditulis di atas berbagai media—tanah liat, kayu, daun papirus. Kemudian ribuan tahun kemudian, orang menyingkapkan makna dari tulisan tersebut. Berkat “fosil” itulah sejarah kerajaan, catatan perang, dan cerita legenda dapat tersampaikan ke masa kini.

Penutup: Fosil Budaya ada di Mana-mana

Sebagaimana sudah diceritakan di atas, terdapat paralel yang menarik antara bidang ilmu biologi dan kebudayaan. Akan tetapi terdapat perbedaan yang mencolok: apabila ahli biologi dapat melakukan analisis genetik di lab kimia, tidak demikian halnya dengan meme. Penyebabnya karena meme itu bersifat abstrak. Dia cuma bisa mewujud kalau ada medianya. Misalnya begini, sebuah nada lagu adalah meme. Akan tetapi kalau tidak dimainkan, nada itu tidak ada yang tahu. Oleh karena itu meme nada lagu perlu media alat musik untuk memainkannya, seperti lewat gitar atau piano.

Demikian pula dengan meme lain pada umumnya. Cerita legenda seperti Epik Gilgamesh adalah meme, tetapi kalau tidak diceritakan orang tak akan tahu. Maka cerita itupun disebarkan lewat berbagai cara. Di antaranya lewat tulisan tanah liat. Ribuan tahun kemudian, catatan itu ditemukan dan dianalisis oleh ahli arkeologi … dan tanpa disadari, catatan itu telah menjadi fosil. Di masa kini, tulisan bangsa Sumeria menjadi jendela kita melongok kehidupan mereka.

Hal yang sama terjadi kalau kita jalan-jalan di kota tua. Kadang suka terlihat ada bangunan yang bergaya Belanda. Nah, itu adalah fosil budaya dari era kolonial. Terlihat dari arsitektur dan bentuk kusennya. Dalam sekejap kita tahu bahwa itu berasal dari zaman silam.

Dan masih banyak contoh lainnya. Piringan hitam The Beatles, misalnya, juga bisa dianggap fosil budaya. Novel kuno terbitan Balai Pustaka—yang ejaannya masih pakai ‘oe’, ‘dj’ dan ‘tj’—juga termasuk fosil budaya. Itu karena mereka merekam sebuah kultur dari masa yang telah lewat. Kultur yang, apabila orang menghendaki di masa depan, bisa dinikmati lagi dengan mudah. Persis seperti Epik Gilgamesh yang disebut di atas.

Sebagaimana sebuah fosil makhluk hidup bercerita tentang kehidupannya, begitu pula sebuah peninggalan budaya bercerita tentang masyarakatnya. Barangkali kelak di masa depan, buku-buku kita yang sekarang juga akan dianalisis dengan cara yang sama. Atau jangan-jangan, internet dan chat room kitalah yang akan dibegitukan. Siapa yang tahu?


Sora9n Hakim, tukang baca yang hobi menulis dan pendukung libre knowledge. 


Referensi:

  • ^ Dawkins, R. The Selfish Gene, 30th Anniversary Edition. Oxford University Press, Oxford, 2006
  • ^ Brodie, R. Virus of The Mind. Hay House, London, 2004
  • ^ Gnanadesikan, A.E. The Writing Revolution: Cuneiform to The Internet. Wiley-Blackwell, Sussex, 2009
  • ^ Diamond J. Guns, Germs, and Steel. W. W. Norton & Co., New York, 1997
, , ,

Tinggalkan Komentarmu