31
Jul

Mitos Banyak Anak Banyak Rezeki yang Sulit Dihilangkan

Mudheng dot com – Pada tahun 1945, jumlah penduduk Indonesia sekitar 40-60 juta orang. Kemudian pada sensus pertama tahun 1971 beranjak menjadi 119 juta orang. Sekarang sudah mau 72 tahun Indonesia merdeka hampir 260 juta menurut badan statistik pemerintah. Jadi, 72 tahun orang Indonesia beranak pinak seperti kelinci. Namun masih saja penduduk negeri ini tidak sadar dengan kepadatan penduduk? Tiap manusia Indonesia lahir, butuh sumber daya alam yang diserap berapa banyak? Butuh kendaraan berapa banyak? Butuh makan berapa banyak? Masih berpikir Indonesia kaya sumber daya alamnya? Masih berpikir banyak anak banyak rezeki?

Faktor Budaya dan Tuntutan Memiliki Banyak Anak

Banyak orang Indonesia memiliki persepsi bahwa, banyak manfaat yang akan diperoleh orang tua apabila memiliki banyak anak. Persepsi tentang kehadiran banyak anak tersebut akan menjadi penerus keturunan keluarga dan dapat membuktikan bahwa, seseorang tersebut dalam keadaan subur. Selain itu, dengan kehadiran anak yang banyak dinilai dapat mendatangkan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi orang tuanya kemudian dapat menghilangkan rasa sepi apabila anak pertama dan keduanya telah beranjak dewasa.

Terdapat persepsi lain bahwa, kegunaan anak dapat dimanfaatkan oleh orang tua dari segi ekonomi. Dengan banyaknya jumlah anak yang dimiliki dinilai akan mendatangkan banyak rezeki pula, yakni anak kelak anak akan melakukan suatu pekerjaaan tertentu yang menambah pendapatan keluarga. Seperti anak dapat dimanfaatkan untuk bekerja di sawah milik keluarga tanpa upah atau memberikan sebagian penghasilannya kepada orang tua ataupun membantu keluarga.

Hal lainnya adalah keegoisan orang tua sendiri, yang apabila banyak anak maka anak-anak itu diharapkan taat beragama sehingga dapat mendoakan orang tuanya kelak setelah meninggal dunia agar mendapat tambahan pahala, dan sebagainya (Orang tua tidak ingin kehilangan investasinya dunia-akhiratnya kan).

Pengendalian Populasi dan Kontrol Kelahiran yang Tidak Jalan

Ambil contoh adalah negara China yang penduduknya mencapai 1,2 Milyar. Pemerintah China telah menggunakan beberapa metode untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk. Pada tahun 1979, Cina menerapkan kebijakan One child per family policy. Kebijakan ini menyatakan bahwa warga negara harus mendapatkan akta kelahiran sebelum kelahiran anak mereka. Warga akan ditawari manfaat khusus jika mereka sepakat untuk memiliki hanya satu anak.

Warga negara yang memiliki lebih dari satu anak dikenai pajak sebesar sampai lima puluh persen dari pendapatan mereka, atau dihukum karena kehilangan pekerjaan atau penghasilan lainnya. Selanjutnya, kehamilan atau kelahiran yang tidak direncanakan tanpa otorisasi yang tepat harus dihentikan. Pada tahun 1980, sistem kuota kelahiran dibentuk untuk memantau pertumbuhan populasi. Di bawah sistem ini, pemerintah menetapkan target sasaran untuk masing-masing daerah. Pejabat lokal terutama bertanggung jawab untuk memastikan bahwa total pertumbuhan penduduk tidak melebihi sasaran sasaran. Jika sasaran sasaran tidak dipenuhi, pejabat setempat dihukum oleh undang-undang atau kehilangan hak dan tunjangannya.

Program tersebut cukup sukses di China daratan (tidak termasuk di Hongkong dan Macau). Akan tetapi, masalah baru muncul di masyarakat. Masyarakat China adalah masyarakat patriarkat. Keberadaan anak lelaki lebih didambakan ketimbang anak perempuan. Dilemanya adalah bila keluarga hanya memiliki satu orang anak, tapi perempuan, akan timbul persoalan baru. Angka aborsi juga meningkat di China lantaran banyak pasangan yang memilih untuk mengaborsi ketika ketahuan jenis kelamin janin mereka adalah perempuan. Kebijakan tersebut melunak di kemudian hari, anak kedua diizinkan apabila anak pertama adalah perempuan, atau menyandang disabilitas.

Adapun di Indonesia, program pengendalian pertumbuhan penduduk telah dirintis sejak tahun 50-an. Dari jargon ‘Dua Anak Cukup’, kemudian ‘Anak Ideal’ sampai sekarang ‘Dua Anak Lebih Baik’ terus didengungkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Namun kebijakan ini terus-menerus mendapat penolakan sporadis di kalangan masyarakat. Ada banyak alasan, terutama yang bawa-bawa dalil agama. Artinya, rakyat negeri ini memang tidak bisa berpikir makro. Belum sadar tentang overpopulasi dan bahayanya. Sementara cara berpikir ‘banyak anak banyak rezeki’ terus diglorifikasi dan melekat pada bukti keimanan serta berserah diri kepada Tuhan. Absurditas ini juga diakibatkan oleh paradigma dan sistem patriarchy yang kadung menjadi fondasi berkeluarga dan berwarganegara.

Delusi Kekayaan Sumber Daya Alam dan Nihil Energi Terbarukan

Kekeliruan persepsi lain adalah orang Indonesia mengaitkan persoalan kepadatan penduduk dengan ‘lebih penting mana antara kuantitas atau kualitas’, yang kemudian dicarikan perbandingannya dengan berkaca kepada Amerika Serikat yang notabene juga memiliki jumlah penduduk yang besar. Ternyata, dalam bingkai paradigma ini, jumlah penduduk yang besar dianggap tidak terlalu menjadi masalah asalkan berkualitas.

Namun, sudut pandang tersebut menafikan faktor energi dan sumber daya alam. Padahal, secara makro penduduk dunia saat ini sekitar 8 Milyar. Bujet energi (Energy Budget) terhadap jumlah manusia Bumi sekarang sudah melebihi kapasitas Bumi, dan bahkan membutuhkan dua planet seukuran Bumi untuk memenuhinya.

Sekarang, kebutuhan energi 8 milyar manusia ini dipenuhi cadangan energi yang tersimpan dalam fossil fuel (yang dikumpulkan Bumi selama milyaran tahun, lewat tubuh biota dan fauna yang memfosil). Jadi, bukan berasal dari energi utama dan langsung, yaitu dari Matahari.

Cadangan energi pasti habis. Dan sumber energi satu-satunya untuk kehidupan di Bumi ya cuma Matahari (selain geothermal dan nuklir). Dan bujet energi Matahari tidak cukup untuk 7 milyar orang. (Apalagi diprediksi secara eksponensial nanti bisa mencapai 9 milyar). Lantas bagaimana dengan energi terbarukan?

Belakangan, energi terbarukan menjadi kata magis untuk solusi kelangkaan energi. Sebetulnya dalam konteks ini, tidak akan pernah ada namanya “sumber energi terbarukan”. Karena sumber energi sebetulnya cuma tiga: Matahari, Geothermal dan Nuklir. Tidak ada lagi yang lain. Jadi, semua “sumber energi terbarukan” itu sebetulnya berasal dari Matahari juga.

Energi PLT-Angin itu datang dari Matahari. Energi PLT-Air itu datang dari Matahari. Energi PLT-Nuklir itu datang dari Nuklir. Tapi karena Nuklir diprotes berbahaya dan tidak “bersih”, maka bisa diabaikan. Geothermal pun terbatas pada lokasi, jadi juga bisa diabaikan.

Satu-satunya sumber energi yang live, hanya dari Matahari. Itu satu-satunya budget energi maksimum yang dapat digunakan oleh populasi makhluk hidup. Dan budget energi ini ditentukan oleh 1. Jumlah manusia. 2. Gaya hidup manusia.

Berikut ini merupakan ilustrasi dan kalkulasi berapa banyak jumlah planet yang dibutuhkan umat manusia bila semua umat manusia di Bumi punya gaya hidup seperti salah satu dari beberapa negara ini:

– kalau seluruh umat manusia hidup seperti orang Nepal, maka 8 milyar manusia membutuhkan total energi dari 2 planet seukuran Bumi. (1.9).

– kalau seluruh umat manusia hidup seperti orang Arab Saudi, maka 8 milyar manusia membutuhkan total energi dari 6 planet seukuran Bumi. (5.4)

Contoh selanjutnya dapat dilihat dalam tulisan How many Earths do we need? ini. Artinya, manusia di Bumi saking padat dan bergaya hidup boros energi, justru menyebabkan kelangkaan demi kelangkaan. Solusinya adalah berkoloni ke planet lain, seperti program antariksa yang baru-baru ini dicanangkan oleh negara maupun perusahaan swasta di Eropa, atau mengurangi populasi manusia, atau berubah gaya hidup menjadi hemat energi.

Kita di Indonesia yang notabene selalu berpikiran ‘banyak anak banyak rezeki’ sudah seharusnya bangkit dari delusi ini. Bagaimana kalau 100 tahun Indonesia merdeka, dan penduduk di Indonesia saja mencapai 400 juta orang? Akan semakin terkuras sumber energi kita. Overpopulasi sangat jelas kian melebarkan jarak antara miskin dan kaya. Juga semakin mengalienasi warga. Jika demikian, mungkin generasi sekarang siap-siap menyerah-terima masalah yang tak kunjung bersolusi kepada generasi selanjutnya. Ya, selamat berkompetisi, berebut, dan perang atas sumber daya alam serta mata pencaharian.


K. El-Kazhiem, penulis kelas ‘siapa elu’, penerima jasa sunting naskah, dan soliter.

Tag: , , , , , , ,

There are no comments yet

Why not be the first

Tinggalkan Komentarmu

%d blogger menyukai ini: