Mudik: Napak Tilas Jejak Penjajahan

Mudheng dot com – Saya baru saja membaca sebuah buku Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang berjudul, Tiada Ojek di Paris. Ada salah satu bab yang membicarakan soal mudik. ‘Teater Absurd Permudikan’, begitu judulnya. Tulisan ini cukup menyentil warga Jakarta yang SGA sebut ‘Homo Jakartensis’. Kehidupan warga Jakarta sehari-hari adalah sebuah rutinitas yang absurd, interaksi yang artifisial, simulacra keakraban yang gersang, dll. Tiba-tiba sekali dalam setahun mereka mudik ke kampung hanya untuk menjadi ‘waras’, atau mencari-cari hal ihwal yang otentik.

Apakah mudik Lebaran bagian dari tradisi? Barangkali iya. Namun, kita bisa mengatakannya tidak: tepatnya, tradisi mudik sebetulnya telah menjadi bagian kehidupan pascamodernisme di Jakarta. Kenapa tidak? Dalam pascamodernisme, yang modern dan yang tradisional hidup bersama … saya tidak bicara tentang ketupat, opor, dan sungkeman. Saya bicara tentang rush permudikan yang jutaan manusia dan kendaraan menumpuk seketika memburu ‘target’ Lebaran, yakni tiba di kampung asa-muasal sebelum Idul Fitri.

Gubernur Belanda, Daendels, adalah mungkin orang pertama yang membangun jalur lintas provinsi, dan jalur Anyer-Panarukan itu dibangun dengan harga nyawa para pekerja rodi. Setelah merdeka, pembangunan bertambah pesat. Tapi napak tilas ‘jalur penyiksaan’ itu malah semakin kentara dalam teater permudikan.

Homo Jakartensis juga seakan malu-malu mencanangkan bahwa ‘mudik’ telah menjadi tradisi kemodernan. Bahwa kerelaan berjibaku di jalan disertai afeksi kampung halaman sanggup menjeda bursa saham, niaga, perseteruan politik, basa-basi kembali fitrah, dan segala tektek bengek absurditas kehidupan di Jakarta. Sementara di sisi lain, tiada kecintaan pada kota yang sejak dulu kala selalu menjadikan penghuninya kian terasing.

Keterasingan atau alienasi adalah wacana yang tumbuh bersama lahirnya sebuah kota, tempat manusia tak dihubungkan oleh kesatuan adat, apalagi darah, seperti dalam masyarakat tradisional dalam pola kekerabatan di kampung, melainkan oleh kesatuan kepentingan. Di negeri seperti Indonesia yang apa boleh buat harus disebut miskin, Jakarta menjadi tumpuan kepentingan bernama survival. Orang datang ke Jakarta untuk menyambung dan mempertahankan hidup, dalam arti kiasan maupun sebenarnya, bukan karena cinta kepada Jakarta.

Seno Gumira menutup tulisan ini dengan Minal ‘Aidin wal Faizin yang kurang lebih artinya ‘(semoga kita bagian) dari orang-orang yang kembali (pada fitrah) dan menang’.

Saya cuma ingin menambahi; ‘kembali’ dan ‘menang’ pada apa bagi makhluk Homo Jakartensis ini? Pada teater bertahan hidup yang absurd di Jakarta dan penuh simulacra, barangkali.


Judul: Tiada Ojek di Paris

Penulis: Seno Gumira Ajidarma

Penerbit: Mizan, 2015

,

Tinggalkan Komentarmu