Pancasila dan Aksi Persekusi FPI

Mudheng dot com – Video persekusi sejumlah anggota ormas terhadap anak yang diduga berinisial PMA, beredar di media sosial. Remaja berusia 15 tahun itu mendapat intimidasi dan penganiayaan dari warga yang diduga sebagai anggota FPI.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas.

Video persekusi FPIDalam video berdurasi 2 menit 20 detik itu, seorang pria tampak mengintimidasi PMA yang dikelilingi sejumlah orang di sebuah ruangan. PMA disebut-sebut menyudutkan tokoh ormas dan ulama di media sosial. Karena itu, dia diminta meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan itu lagi.

Besok temen-temen lo yang sama kaya etnis kayak lo juga, lo bilangin, lo nasihatin, lo inbox, kalau bisa jangan deh bro, ini kejadian udah gue alamin. Lo masih mendingan gak diapa-apain, di Jakarta Barat lo udah gak berbentuk,” desak pria itu pada PMA, dikutip dari video itu.

Pri tersebut juga mengaku sebagai anggota Front Pembela Islam atau FPI untuk mengancam PMA. Pria lainnya ikut mengintimidasi remaja itu dengan meminta mengulangi ucapan temannya, yang ditertawakan orang-orang di ruangan itu.

Tak hanya itu, pada saat PMA diinterogasi, seorang pria lainnya mengancam akan membunuh bocah bertubuh kurus itu. Bahkan, pukulan dan tamparan pun mendarat berkali-kali di wajah polos itu.

Memburu Pengguna Medsos Terkait Rizieq Shihab

Belakangan ini muncul keresahan tentang ‘ancaman’ dari antara lain kelompok yang menamakan diri Muslim Cyber Army, yang dinilai memburu para pengugguna media sosial yang memposting ucapan ‘tidak simpatik, atau mempertanyakan, mengecam, meledek, atau mengolok-olok, menghina dan memfitnah’ pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab.

Muncul pula sebuah laman di Facebook yang berjudul Database Buronan Umat Islam, yang memuat sejumlah nama pengguna medos lengkap dengan postingnya dan seruan penuh hasutan.

Akun ini kemudian dihapus pihak Facebook, Minggu (28/05) malam, setelah mendapat laporan masyarakat. Lalu terjadi sejumlah penggerebekan terhadap para pemilik akun, antara lain, yang menyita perhatian nasional, adalah yang terjadi pada dokter Fiera Lovita yang berdinas di RSUD Solok,

Juru bicara Polri Irjen Setyo Wasisto, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Minggu mengatakan, keadaan di Solok sudah diatasi, namun kasus-kasus lain, masih diselidiki. Setidaknya terdapat 46 orang pengguna media sosial yang dipersekusi, kata Damar Juniarto, koordinator regional Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), sebuah jaringan relawan kebebasan ekspresi di Asia Tenggara.

“Ini mulai berlangsung sejak 27 Januari, bersamaan persidangan terhadap Ahok, dan makin masif sesudah putusan hakim yang menyatakan Ahok bersalah dalam kasus penodaan agama,” kata Damar.

Hentikan Persekusi, Buktikan Pancasila Bekerja

Di negara yang anak-anak harusnya dididik secara beradab dan berpancasila, malah anak-anak belajar bahwa, Pancasila tidak bekerja melindungi mereka. Negara harus menjamin Hak Asasi Manusia bagi warganya, dan melindungi kebebasan bersuara. Kabar terbaru mengatakan bahwa polisi sudah mengambil langkah pengusutan terhadap pelaku persekusi dan intimidasi tersebut.

PMA (Remaja 15 thn) Sedang diambil keterangan oleh team Reskrim Polda dan didampingi oleh teman2 ANSOR NU.

Aparat penegak hukum sepertinya terus-menerus kecolongan terhadap aksi-aksi FPI, baik di jalanan maupun yang bergerilya. Bahkan, terkadang malah membiarkan. Paling tidak, jika polisi serius menangani ini, ada beberapa pasal yang bisa dikenakan terhadap pelaku persekusi, di antaranya;

1. Masuk rumah orang lain tanpa izin

Pasal 167 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP):

“Barang siapa memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan atau pekarangan tertutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum atau berada di situ dengan melawan hukum, dan atas permintaan yang berhak atau suruhannya tidak pergi dengan segera, diancam dengan pidana penjara paling lima sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

Perbuatan yang diancam hukuman dalam pasal ini adalah:

1. Dengan melawan hak masuk dengan paksa ke dalam rumah, ruangan tertutup, dan sebagainya;
2. Dengan melawan hak berada di rumah, ruangan tertutup, dan sebagainya, tidak dengan segera pergi dari tempat itu atas permintaan orang yang berhak atau atas nama orang yang berhak.

2. Pengancaman

Pasal 368 ayat (1) KUHP

Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Perbuatan yang diancam hukuman dalam pasal ini adalah:

1. Memaksa orang lain;
2. Untuk memberikan barang yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang itu sendiri atau kepunyaan orang lain, atau membuat utang atau menghapuskan piutang;
3. Dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak;
4. Memaksanya dengan memakai kekerasan atau ancaman kekerasan.

3. Penganiyayaan yang tidak menimbulkan luka/sakit

Pasal 352 KUHP:

(1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau menjadi bawahannya.

(2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 354 KUHP:

(1) Barang siapa sengaja melukai berat orang lain, diancam karena melakukan penganiayaan berat dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.

(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian. yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun.

4. Rasisme dan Diskriminasi

Ucapan: “Besok temen-temen lo yang sama kaya etnis kayak lo juga, lo bilangin, lo nasihatin, lo inbox, kalau bisa jangan deh bro, ini kejadian udah gue alamin. Lo masih mendingan gak diapa-apain, di Jakarta Barat lo udah gak berbentuk,” seperti dalam video persekusi remaja tersebut bisa dikenakan sanksi;

Pasal 4 UU Penghapusan Diskriminasi):

a. memperlakukan pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya; atau,

b. menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis yang berupa perbuatan:

1. membuat tulisan atau gambar untuk ditempatkan, ditempelkan, atau disebarluaskan di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dilihat atau dibaca oleh orang lain;

2. berpidato, mengungkapkan, atau melontarkan kata-kata tertentu di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat didengar orang lain;

3. mengenakan sesuatu pada dirinya berupa benda, kata-kata, atau gambar di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dibaca oleh orang lain; atau,

4. melakukan perampasan nyawa orang, penganiayaan, pemerkosaan, perbuatan cabul, pencurian dengan kekerasan, atau perampasan kemerdekaan berdasarkan diskriminasi ras dan etnis.

Pasal 16 UU Penghapusan Diskriminasi: Setiap orang yang dengan sengaja menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras dan etnis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b angka 1, angka 2, atau angka 3, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 315 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”), yang berbunyi:

“Tiap-tiap penghinaan dengan sengaja yang tidak bersifat pencemaran atau pencemaran tertulis yang dilakukan terhadap seseorang, baik di muka umum dengan lisan atau tulisan, maupun di muka orang itu sendiri dengan lisan atau perbuatan, atau dengan surat yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya, diancam karena penghinaan ringan dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”


K. El-Kazhiem, penulis kelas ‘siapa elu’, penerima jasa sunting naskah, dan soliter.

, , , , , , , ,

Tinggalkan Komentarmu