Peduli Rohingya, Tapi Lupa Ahmadiah, Syiah, Gafatar, dan Minoritas Lain di Indonesia

Mudheng dot com – Ketidaktahuan ditambah keyakinan buta melahirkan kefanatikan dan kebencian, yang lalu dengan mudah menjadi kekerasan. Indonesia punya seabrek persoalan kemanusiaan dan kekerasan terhadap warga minoritas, baik agama, etnis, maupun persoalan LGBT. Bahkan buta terhadap bagaimana kekerasan aparat polisi dan militer di Papua yang terus berlangsung sampai sekarang. Demikian pula lupa terhadap genosida negara tahun 1965 kepada jutaan orang yang dituding sebagai PKI. Namun apabila menyangkut Palestina dan Rohingya, media massa Indonesia (termasuk masyarakatnya) tiba-tiba menjadi bodoh sebodoh-bodohnya. Padahal, media internasional pun kesulitan mengakses informasi untuk mempublikasikan apa yang terjadi di Myanmar.

Akhirnya terjadi pengamatan dari kejauhan yang dilakukan oleh media-media kita. Ada bias bahwa, yang menjadi korban di Myanmar cuma Rohingya, atau kalau di Timur Tengah cuma Palestina. Lupa bagaimana kelakuan Arab Saudi terhadap Yaman, atau bagaimana organisasi HAMAS memperlakukan warga Palestina. Akibatnya, timbul asumsi-asumsi di kalangan orang awam (ditambah kipas-kipas lewat corong pengeras suara di mimbar-mimbar dakwah) yang diklaim dan dianggap sebagai kebenaran. Apalagi di Indonesia, sedang terjadi perang hoax. Alih-alih membuat undang-undang anti-disinformasi, justru negara membiarkan masyarakatnya saling perang hoax. Walhasil, yang memerangi hoax juga termakan hoax. Sungguh miris memang di Indonesia, di mana masyarakatnya tidak bisa belajar menganalisis informasi.

Saat ini orang-orang sedang sibuk membicarakan Rohingya. Yang jadi ironis adalah ketika arus informasi apa pun sedemikian massif di era digital sekarang, tapi pertumbuhan orang bodoh pun semakin banyak. Pasalnya, orang bodoh itu cepat ambil kesimpulan, cepat menghakimi dan cepat tersinggung. Apakah mereka yang teriak dan demonstrasi di depan Kedubes Myanmar itu peduli terhadap nasib pengungsi Syiah di Sampang, atau Ahmadiah NTB, atau Gafatar, atau Papua, dan minoritas lainnya?

Kompleksitas Polemik Rohingya – Myanmar – Bangladesh

Masalah Rohingya sangat kompleks karena ada dosa-dosa sejarah masa lalu yang tidak diungkap, yang jadi bara untuk setiap saat dieksploitasi siapa pun yang berkepentingan. Meskipun konflik belakangan ini sebenarnya baru (urusan yang lain), tapi ia tidak akan menjadi demikian buruk tanpa adanya persoalan masa lalu, yang terutama akibat ulah kolonial Inggris.

Dahulu Inggris memasukan orang-orang Pakistan Timur (kini menjadi negara sendiri Bangladesh) menyampur dengan etnis lokal di Rakhine, dan menggunakannya sebagai milisi yang membantai orang Myanmar/Burma. Seperti bagaimana orang Gurkha dibawa masuk Indonesia dulu. Bedanya, yang dibawa Inggris masuk bukan cuma occupying force, tapi juga penduduk sipil yang bekerja untuk kepentingan Inggris.

Bayangkan bila dulu orang Belanda atau Inggris mendatangkan orang India masuk Indonesia sementara Gurkha membantai orang indonesia. Dendam itu adalah luka sejarah yang tidak pernah dituntaskan sampai saat ini Myanmar/Burma sudah merdeka. Ketika Inggris pergi, mereka tidak membawa pergi orang-orang Bangladesh dan sudah menyampur dengan penduduk lokal di Rakhine. Bangladesh saat ini juga tidak mau menerima mereka kembali. Selama sejarah itu tidak diselesaikan, dan selama integrasi tidak dilakukan, problem ini akan selalu ada terus.

Ditambah lagi, orang Rohingya juga tidak satu suara. Ada yang ingin kembali ke Bangladesh, ada yang ingin tetap jadi warga negara, ada yang ingin mendirikan negara sendiri di Rakhine, ada yang ingin Rakhine menjadi bagian dari Bangladesh, dsb. Jadi ini mempersulit dunia Internasional untuk melakukan sesuatu. Satu-satunya jalan adalah membuat savezone dulu, dan orang-orang Rohingya, entah bagaimana caranya, berdemokrasi dulu, apa yang mereka inginkan. (Karena, sekali lagi, orang Rohingya belum satu suara soal ini.) Setelah itu baru masyarakat Internasional bisa berbuat sesuatu, bernegosiasi dengan pemerintah Myanmar.

Bangladesh sendiri menawarkan bantuan militer kepada Myanmar untuk “memerangi tentara Arakan” (militan Rohingya) di perbatasan Myanmar Bangladesh. Jadi, misalnya, ada suatu negara atau badan PBB / pihak ketiga yang ingin mediasi kasus Rohingya pada Myanmar, posisi manakah yang ingin dinegosiasikan mewakili orang Rohingya?

Melampiaskan Kemarahan kepada Orang Budha Indonesia?

Bagi Anda yang berniat mendesak pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan dalam kasus Rohingya, Anda harus mendesak negara-negara yang penting bagi ekonomi Myanmar untuk melakukan itu.

Negara-negara Barat saat ini tidak bisa melakukan apa-apa kerena mereka memang sudah meng-embargo Myanmar. Sanksi ekonomi Uni Eropa terhadap Myanmar sudah diperbaharui sampai tahun 2018. A.S juga statusnya masih mengembargo Myanmar. Jadi mereka tidak bisa lagi menjatuhkan sanksi. Karena hubungan diplomatik Barat dengan Myanmar sangat minim.

Indonesia tidak ada dagang yang signifikan dengan Myanmar. Jadi mau nego tidak punya bargain power. Silakan desak China, Jepang, India, Thailand, atau Singapore, yang adalah partner dagang utama Myanmar. Tapi masalahnya, perdagangan Myanmar dengan negara-negara tersebut adalah negative trade, artinya Myanmar lebih banyak mengimpor daripada mengekspor, alias sanksi ekonomi akan lebih merugikan China, Jepang, India, Thailand dan Singapore daripada Myanmar. Dan itu artinya, less bargaining power.

Atau Anda bisa mendesak Bangladesh, daerah asal pendatang Bengali yang sekarang adalah sebagian orang Rohingya, untuk mendesak Myanmar menghentikan kekerasan. Bangladesh bisa ikut mendesak karena terlibat dalam BCIM corridor (Bangladesh, China, India, Myanmar Corridor), semacam FTA (Free Trade Area) regional. Tapi masalahnya, Bangladesh lebih butuh Myanmar daripada Myanmar butuh Bangladesh, karena Myanmar punya GDP ratio dan pertumbuhan ekonomi lebih besar (7%).

Setelah membaca ini, semoga semua ketololan seperti mengancam-ancam orang Budha Indonesia berhenti. Mohon pintarlah sedikit. Dunia tidak sekecil dan sesederhana seperti yang Anda mungkin pikirkan. Bangladesh saja, yang punya hubungan sejarah dengan orang Rohingya tidak bisa berbuat apa-apa (bahkan menawarkan bantuan militer untuk melawan militan Rohingya), karena masalahnya memang kompleks, dan bukan soal ras atau agama. Apalagi orang Budha Indonesia!

Mari kita kembali kepada orang Indonesia yang berkoar-koar #SaveRohingya. Jika memang kalian peduli terhadap isu kemanusiaan, jangan menjadi hipokrit. Duka di negeri lain tampak jelas, malah di negeri sendiri sengaja lupa dan buta.


Verdi Adhantapengamat amatiran yang hobi audio visual.
, , , , , , , ,

Tinggalkan Komentarmu