11
Nov

Sila dan Sila [Cerpen Shinta Miranda]

Tidak nyaman berjalan kaki di trotoar Ibu Kota pada siang yang tinggi. Jejari matahari mulai panjang dan tajam. Meski begitu, Sila tetap berjalan kaki dari rumah menuju tempat yang tiada asing. Ia pernah tinggal di situ, bersama dengan beberapa perempuan lain yang hampir senasib kala itu. Suster Mariane tak bisa memberi jawaban yang diminta Sila. Bukan tak bisa, tetapi tak boleh. Sudah kesepakatan antara yayasan yang dipimpinnya dengan Sila, termasuk  keluarganya. Alasan apa pun tak memungkinkan. Bukan karena Suster Mariane tak berhati, bukan karena tak sedih melihat air mata yang jatuh di pipi Sila, tetapi begitu seharusnya. Sila tak memaksa karena sebenarnya ia pun telah menduga jawaban yang akan diberikan oleh Suster Mariane. Ia hanya berharap lebih dari apa yang telah ia ketahui. Ada banyak kecamuk hatinya yang mesti ia tata satu demi satu sebelum ia pergi.

Sila berjalan lamban, menyeret kakinya perlahan, keringat mengucur satu demi satu, air mata tak tertahankan.  Tak akan pernah datang untuk  jumpai Suster Mariane lagi. Barangkali harus melupakan hari-hari muram, meski tak nampak cerah hari mendatang. Penyesalan telah lama membalut dirinya. Kebencian atas kebodohan sendiri membuat Sila selalu teringat peristiwa itu. Kemarahan pada Ibunya ia endapkan ke dasar perigi kalbu. Sila berpikir bahwa kesalahan yang telah ia lakukan kepada Erna, kakaknya seperti tidak terampuni. Betapa perih saat menghadapi sikap Erna yang mendendam akibat kejadian yang ia sendiri tak pernah menyangka.

Sila dan Ibu

Teringat hari-hari tanpa ayah yang menjadikan ia harus berbantah kata dengan ibu tanpa ada yang membela atau menyudahi pertengkaran mereka.  Apa yang ia perbuat tak pernah mampu menyenangkan hati ibunya. Erna selalu dijadikan perbandingan terhadap dirinya. Erna yang enerjik, yang melihat masa depan, yang tidak sepandai dirinya di sekolah namun pandai memilih yang terbaik. Semua tentang Erna!

“Mengapa jadi guru?” Ibunya bertanya dengan hati jengkel ketika Sila memutuskan untuk mengajar di sebuah sekolah swasta.

“Karena aku mau jadi guru !”  jawab Sila.

“Gaji guru kecil! Kepandaianmu berbahasa asing bisa untuk bekerja di kantor, atau di kedutaan asing, atau di mana saja yang gajinya lebih baik!” Sila sebenarnya tak mau lagi berbantah-bantah dengan ibunya. Pasti akan terjadi keributan seperti yang sering terjadi dengan bapaknya bila berbantahan dengan ibu. Kali ini ia sudah di penghujung, tak lagi bisa membendung.

“Mengapa Ibu selalu mendesak tanya? Bila berjawab pun tak pernah terpuaskan. Itu juga yang membuat Bapak berpaling!”

“Selalu bapakmu yang kamu jadikan perlindungan! Dia sudah tidak di sini! Dengar, kukatakan pada Erna untuk mendapat laki-laki bermasa depan. Aku yang bodoh mau menikah dengan Bapakmu. Mungkin ketampanannya mempesona masa mudaku, seperti perempuan muda yang mengambil Bapakmu itu!”

“Bapak itu sabar dan lembut bagiku,” Sila berkata dengan lirih.

“Jadi, kamu bela bapak yang pergi karena perempuan lain? Kamu salahkan Ibu?” suara ibu menjadi lebih tinggi.

“Rumah kita berdiri layak, sekolahmu selesai di perguruan tinggi! Uang dari Bapak? Kalau bukan karena warisan nenekmu, tak akan pernah terjadi! Kalau dulu ibu tidak menjadi peragawati, tak akan kita hidup layak, bahkan sampai hari ini!”

Sila meninggalkan ibunya yang masih ingin berkata banyak kepada dirinya. Ia masuk ke dalam kamar tempat ia sering mengurung diri sepulang dari kuliah. Ia ingin berlari kepada bapaknya, tetapi itu tak akan mungkin. Ia pun marah kepada bapak meski tak diperlihatkan kepada ibunya. Ia lebih condong memperlihatkan rasa marah kepada ibunya yang dianggap telah menjadikan keadaan semakin kacau. Seorang Herman mengingatkan Sila pada Bapak. Lembut dan sopan, meski tak bisa dibilang tampan. Lelaki itu seorang pekerja keras, tak pernah menggubris masalah gengsi. Kepahitan hidup adalah batu asahan yang membuat dirinya bertahan di kerasnya kehidupan. Ibu tak pernah menganggap Herman bermasa depan seperti apa yang dilihat pada Dito, menantunya, suami Erna.

“Berharapkan apa dari seorang tukang bakso yang berjualan di kantin sekolah? Pernah di penjara pula!  Menurunkan gengsi diri!  Masakan seorang guru bersuamikan tukang bakso yang dicap PKI?”

“Apa yang salah pada seorang penjual bakso, Ibu? Herman punya pendidikan setara denganku.  Seorang sarjana yang terpaksa berwiraswasta. Tak ada hambatan berkomunikasi dengannya, tak ada yang memalukan dengan pekerjaannya. Lalu, siapa yang PKI?  Bapaknya ditangkap karena hanya memberi tumpangan kepada seorang guru  yang aktif di gerakan tani pada waktu itu! Lalu siapa yang telah membuktikan bapaknya seorang PKI? Negara pun tidak! Ada banyak korban yang tidak bersalah sedikit pun yang dianiaya oleh pemerintah! Herman harus dianggap seperti itu? Ibu memang tidak punya nurani!”  Sila pun digesek amarah.

“Pokoknya Ibu tak mau kamu menikah dengannya. Heran, berapa kali Dito mengenalkan teman-temannya pada kamu! Tak seorang pun digubris! Mereka punya kedudukan bagus di kantor dan bukan anak seorang…!”

“Itu saja yang dipandang Ibu, harta, kaya, gengsi! Baik, mungkin aku tidak akan pernah menikah dengan siapa pun!” Sila meninggalkan Ibunya. Tak tahan lagi mendengar hinaan ibunya kepada Herman. Hinaan orang-orang yang masih termakan oleh propaganda-propaganda rezim di masa lalu.

Sila dan Dito

Satu, dua dan entah berapa kali Dito telah berusaha lagi memenuhi pesanan Ibu mertua. Tak ada yang berhasil. Tak seorang pun laki-laki yang dihiraukan Sila. Rambut hitam tebal dan ikal, dengan raut wajah yang manis dan berkulit kuning langsat akan selalu membuat setiap laki-laki menoleh kepadanya di mana pun ia berada. Dito mencoba membujuk Sila untuk membuka hati setelah berpisah dari Herman.

“Telah kuikuti kemauan Ibu, masih belum cukup? Kalau saja Ayah masih di rumah,” keluhnya pada Dito.

Dito seorang lelaki biasa seperti lelaki lain. Pertama kali ia melihat Sila di sebuah hajatan perkawinan temannya,  ia ingin mengenalnya lebih dekat. Apa boleh buat, sikapnya dingin.

Berbeda dengan Erna kakaknya yang hangat dan bersahabat. Maka jadilah Dito dan Erna semakin akrab, sampai menjadi suami isteri.

Cinta sering datang terlalu cepat dan atau mungkin datang sangat terlambat. Cinta sering hadir di waktu yang tidak tepat, mungkin juga pada orang-orang yang tidak tepat. Benar atau tidaknya pengertian sebuah cinta, cuma Dito dan Sila yang dapat mengartikan dalam situasi yang mereka sendiri pun tidak mengerti. Mereka menjalani hubungan yang seharusnya tidak terjadi. Mereka berdua saling mengungkapkan isi hati dan kemudian jatuh hati. Dito merasakan Sila telah mencair setelah dibekukan sekian lama. Pertemuan setiap hari memungkinkan itu terjadi dan membuahkan hasil yang sama sekali tidak diharapkan oleh Sila.

Di dalam perkawinannya selama lima tahun, Erna dan Dito mendambakan anak yang tak kunjung hadir juga. Dalam waktu setelah itu, benih Dito tumbuh di rahim tubuh Sila. Tentu saja tak mungkin didiamkan, apalagi disembunyikan. Cuma butuh keterus-terangan dan siapa pun yang mengetahuinya, terutama ibu dan Erna, bukan seperti menampung jatuhnya bulan di pangkuan.

“Akan kubujuk Erna untuk mengadopsi anak kita, Sila,” begitu kata Dito.

“Apa yang membuatmu yakin kalau aku akan memberikan anakku?” Sila bergulung amarah dan bingung.

“Aku inginkan anak itu, sebab itu kerinduanku.” Dito menyentuh lengan Sila.

“Ini anakku, bukan anak kakakku !” Sila mendorong dada Dito.

“Sekarang aku tahu maksudmu mendekati aku, apa maksudmu bercerita tentang ketertarikanmu padaku sejak lama! Sekarang aku tahu bahwa apa yang dibanggakan ibu pada dirimu, adalah kebodohan ibu! Tetapi aku yang lebih bodoh dari ibu maupun Erna!” Sila menahan isaknya.

Kemarahan Erna adalah kemarahan Ibu. Keinginan Erna adalah keinginan Ibu. Sila disembunyikan di sebuah yayasan sampai saat melahirkan. Bermacam-macam pikiran dan akhirnya kebuntuan menyumbat benak Sila. Ia tak mampu berbuat yang lain selain patuh. Tak seorang pun kerabat dan tetangganya tahu. Mereka berusaha menutup malu dengan cara seperti itu.

Bayi merah, anaknya, buah hatinya, tak pernah ia lihat. Kesepakatan tanpa hatinya. Sila harus merelakannya untuk diadopsi keluarga lain, tanpa perlawanan, tanpa kata-kata lagi. Menandatangani berkas yang diserahkan Suster Marianne dan disaksikan Ibu dan kakaknya, Sila melakukannya seperti berjalan di atas awan. Dito menyerah dengan mudah. Seorang pengecut yang mencuci tangannya berkali-kali dan mengira dirinya telah bersih.

Tak terlihat perubahan apa pun ketika Sila kembali ke rumah. Seolah ia habis bepergian lama dari luar kota. Itu yang dikatakan Ibunya kepada para tetangga dan kaum kerabat. Habis sudah semua rasa diserap ke dalam dirinya. Ia bagai tak lagi mengenal siapa dirinya. Berhari-hari, berminggu-minggu ia membisukan diri, menghindar dari pembicaraan ibunya dan Erna, menulikan telinganya ketika segala ucap yang menyakitkan sempat terdengar saat ia keluar dari kamarnya. Ia hanya berkomunikasi dan bertemu dengan seseorang. Seseorang dari masa lalu yang masih bersamanya.

Sila dan Kepergiannya

Meski lunglai dan merasa terabai seusai bertemu Suster Marianne, Sila singgah di kapel kecil sebelah rumah penampungan, tempat ia pernah berdiam selama hampir sepuluh bulan menanti kelahiran anaknya. Ia cuma merasa teduh di tempat kecil yang dinaungi banyak pohon besar. Tak pernah ia masuk ke dalamnya, namun kali ini di dalam kegamangannya, ia masuk dan duduk di barisan kursi belakang. Cuma duduk dan berkata dalam hati, “Orang-orang berkata, KasihMu ada dan mengalir. Sekarang atau nanti, anakku akan mencari dalam pinta yang kusertai setiap hari. Kini cuma aku dan anakku yang entah di mana, akan hidup dengan kasih yang mengalir itu.”

Erna tak henti mengumbar sindiran karena rasa dendam di setiap kedatangannya. Di setiap saat itu pula, tak ingin Sila menggubrisnya. Penyesalan dalam meninggalkan kepedihan yang tak terkatakan, tapi  tak ingin mencari sebab untuk disalahkan. Bapaknya yang ia puja karena kesabaran dan kelembutan hatinya seperti sirna begitu saja dalam hidupnya. Ibu memberi bumbu yang getir pada hidangan kemarahan yang selalu tumpah karena serapah. Namun kali ini mereka berdua terperangah. Sila akan pergi dari rumah tempat ia tak pernah menjadi sesiapa.

“Kemana akan kamu bawa dirimu sekarang, Nak?” Ibunya bertanya menahan heran dan gusar.

“Ke tempat aku akan mendapatkan hidupku,” katanya datar.

Tak membutuhkan waktu lama untuk membenahi barang yang tak banyak ke dalam koper berukuran sedang. Sila telah menekan tombol pada raganya, menyalakan lampu sebagai penerang jalan ke depan. Ia ingin mencari anaknya. Ia ingin mendapatkan dirinya lagi.

Sila dan Sila

Di Bandara Changi, Herman dan isterinya menuntun seorang anak laki-laki berusia setahun. Mereka menanti kedatangan Sila. Tak pernah terbayangkan oleh Sila bahwa restoran terkenal di Singapura tempat ia diterima bekerja adalah milik Herman si penjual bakso di kantin sekolah. Karena jasa Asih, temannya dan juga teman Herman sejak di tanah air maka Sila memutuskan untuk pergi dari rumah. Sejak kehamilannya, Sila hanya berkomunikasi dengan Asih, satu-satunya teman tempat ia mencurahkan segala.

“Inikah jawaban dari pintaku?” berdegup kencang jantung Sila.

“Aku selalu menjadi yang terbelakang dalam setiap langkah. Seandainya saja kujalani waktu itu tanpa perduli pada keinginan Ibu yang tidak mencintaku. Ibu hanya mencintai dirinya dan aku tidak mau terjadi padaku. Aku harus terus mencintai anakku yang belum pernah kusentuh!”

Hampir saja langkah Sila limbung melihat Herman menghampirinya.

“Seharusnya aku tidak di sini, namun Asih telah meyakinkanku bahwa semua telah diatur Herman, tanpa pretensi apa pun,” Sila memantapkan langkahnya menemui mereka.

“Suatu hari nanti, bila Sila telah benar-benar siap, akan kukatakan padanya bahwa anak yang ada pada kita, adalah anak yang kita adopsi di Yayasan Fatima, setahun lalu,” begitu niat Herman yang telah disetujui isterinya sejak awal.

“Aku yakin Herman telah mengetahui semua yang terjadi padaku. Berkali-kali kuabaikan pesan singkatnya ketika aku di rumah penampungan itu.” Sila bergumam dalam hati. “Aku akan menghadapi situasi yang sangat berbeda, yang seperti sebuah kebetulan. Aku harus membuat bingkai kuat untuk gambar kehidupan yang akan kumulai saat ini. Selamat tinggal masa silam!” Sila melempar senyum pada suami isteri yang menjemputnya.

05062012


Shinta Miranda, Karya-karyanya telah diterbitkan dalam berbagai media massa. Antologi puisinya berjudul “Constance” dan telah menyelesaikan sebuah novel berjudul “Langit Dam Square”.

Tag: ,

There are no comments yet

Why not be the first

Tinggalkan Komentarmu

%d blogger menyukai ini: