Surat Ahok dari Penjara dan Intoleransi yang Menenggelamkan Indonesia

Mudheng dot com – Sepenggal kutipan “Surat dari Penjara Birmingham” yang ditulis dalam bentuk surat terbuka pada 16 April 1963, ketika Dr. Martin Luther King Jr. dihukum penjara karena berpartisipasi dalam demonstrasi hak-hak sipil di Birmingham, Alabama.

“We know through painful experience that freedom is never voluntarily given by the oppressor; it must be demanded by the oppressed.” –  Martin Luther King Jr.

Kami tahu lewat pengalaman yang menyakitkan. Bahwa kebebasan tak pernah diberikan dengan sukarela oleh si penindas; kebebasan itu harus dituntut oleh kaum tertindas itu sendiri. Begitulah kira-kira terjemahan bebasnya, dan dalam sejarah Indonesia, kita menyaksikan berkali-kali penindasan itu terjadi. Keadilan pun begitu mahal dan langka, dan ongkos untuk meraih kebebasan adalah nyawa manusia. Hal tersebut tertuang pula dalam surat Ahok dari jeruji Mako Brimob yang dibacakan oleh istrinya Veronica Tan.

Sebelumnya, sempat tersiar kabar mengenai sikap keluarga yang mencabut upaya banding atas vonis hakim yang menjebloskan Ahok 2 tahun penjara. Alasan pencabutan upaya banding itu dijelaskan Ahok.

“Saya tahu tidak mudah bagi saudara-saudara yang terus mendukung untuk menerima kenyataan ini, apalagi saya sendiri. Tapi, saya telah belajar untuk menerima semua ini guna kebaikan berbangsa dan bernegara,”

Menurut Ahok, dirinya memutuskan tidak melanjutkan upaya banding yang diikrarkan dalam sidang terdahulu karena tak ingin merugikan masyarakat Ibu kota.

“Alangkah ruginya warga DKI dari sisi kemacetan dan kerugian ekonomi akibat adanya unjuk rasa yang mengganggu lalu lintas. Saya juga khawatir banyak pihak yang menunggangi unjuk rasa. Apalagi lawan yang tak suka terhadap perjuangan kita,”

Apakah Ahok telah menyerah berjuang demi negeri dan tanah airnya? Bisa jadi. Namun ia sadar kini posisinya cuma sebagai bumper kepentingan elite yang lebih tinggi. Ia sadar bahwa, dalam kondisi di mana keadilan telah mati di Republik ini, semua orang memilih main aman sendiri. Karena itu, ia tidak ingin bersikap serupa jika menyerukan perlawanan. Ia tidak ingin adanya jatuh korban.

Di Indonesia, cuma kalangan intoleran saja yang sudah siap untuk angkat senjata. Dan mereka berkumpul dalam wadah ormas-ormas, dibekingi politisi-politisi dan jenderal-jenderal hitam, dan didiamkan aparat-aparat yang semestinya menegakkan hukum. Ongkos politiknya jauh lebih besar.

Pilihannya jatuh ke tangan rakyat itu sendiri, utamanya kelas menengah berisik yang menginginkan kebhinekaan tetap utuh. Misalnya, undang-undang penodaan agama yang didesak oleh Dewan HAM PBB untuk ditinjau kembali, dan Amnesti Internasional yang menyerukan agar pasal karet tersebut dihapuskan. Kapankah mereka bersatu padu agar Presiden dan DPR mencabut UU usang nan diskriminatif tersebut.

Kalangan menengah pro-pluralisme tampaknya masih gamang. Karena sekarang nasionalisme juga lagi diangkat Presiden Jokowi dan kabinetnya, maka tekanan internasional pun tidak akan didengarkan. Antara kalangan ormas intoleran dan kubu nasionalis juga sedang berebut identitas nasional. Dan pada saat genting perebutan identitas nasional ini, pihak pro-pluralisme kalah.

Kelas menengah Indonesia enggan menggunakan politik Kontensi. Mereka tidak akan pernah mau karena kelas menengah cenderung menghendaki gerakan moral. Namun gerakan moral itu, walaupun mewah-mewahan pakai karangan bunga, atau sesederhana lilin dari sabang sampai merauke sekalipun, tapi tetap cuma gerakan moral. Tidak akan membawa dampak. Tidak mungkin disruptive. Tidak masuk hitung-hitungan politik untuk mendesak suatu kebijakan strategis.

Prediksi pun berubah. Mungkin Ahok dan keluarga telah menyerah. Tidak akan ada penyelamatan dari Jokowi. Menyerahnya Ahok berarti, i’m done with this country. Mungkin kalau bisa bebas pun Ahok lebih memilih plesir ke luar negeri, atau cari kerja di perusahaan asing yang lebih membutuhkan pikiran dan dedikasinya. Jakarta telah runtuh. Indonesia semakin terbenam di jurang intoleransi.


K. El-Kazhiem, penulis kelas ‘siapa elu’, penerima jasa sunting naskah, dan soliter.

, , , , , ,

Tinggalkan Komentarmu