Tubuh Perempuan, Seksualitas, dan Isu Moral, untuk Menjatuhkan Lawan

Mudheng dot com – Kita boleh tidak setuju bahkan menentang dengan sikap politik Habib Rizieq Shihab (HRS) dan Front Pembela Islam (FPI), terutama terkait pandangan mereka yang sangat antipati terhadap pemimpin non-muslim, di negeri ini. Akan tetapi, wacana dominan publik dalam beberapa hari terakhir yang menyorot kasus HRS dari lensa seks terkait dugaan hubungan spesialnya dengan Firza Husein (FH) patut direspons dengan hati-hati.

Mengapa Harus Kasus Perbincangan Mesum antara HRS dan FH yang Diprioritaskan?

Siapa saja boleh berargumen bahwa, inilah kecerdikan seorang Kapolri Tito Karnavian, atau inilah gebukan Jokowi. Dengan mengangkat kasus ini maka akan sedikit bahkan tidak ada umat yang membela HRS lagi lantaran itu tindakan yang sangat memalukan bagi seorang ulama panutan umat. Sementara kalau yang diangkat kasus lain, tentu HRS akan dianggap sebagai pahlawan oleh pengikutnya dan akan dibela mati-matian dengan mungkin demo besar-besaran.

Justru argumen seperti ini merupakan sesat pikir dan kesalahan besar. Ingat perkataan Friedrich Nietzsche dalam bukunya Beyond Good and Evil;

“He Who fights with monsters should look to itu that he himself does not become a monster. And when you gaze long into an abyss, the abyss also gazes into you.”

Karena polisi memfokuskan pada kasus perbincangan mesum maka masyarakat ikut-ikutan merayakannya, dan menuntut kepolisian bersikap konsisten sebagaimana dalam kasus Ariel-Cut Tari-Luna Maya. Di sinilah letaknya apa yang diibaratkan Nietzsche agar jangan sampai seseorang yang bertarung melawan monster, justru malah menjadi monster itu sendiri.

Geliat komentar, celoteh, hujatan, bernada seksisme—dalam kaitannya dengan tubuh atau identitas perempuan—menyeruak di ruang publik, dan sangat ampuh menjadi alat untuk menjatuhkan lawan. Namun, pada akhirnya perempuan tetaplah menjadi “sasaran empuk” objektifikasi. Itu tampak dari betapa mudahnya seseorang mendapat stigma negatif dari lingkungan dan masyarakat jika isu-isu seputar seks sudah menyeruak di ruang publik. Dugaan hubungan gelap antara HRS Shihab dan FH perlu dilihat dalam penilaian yang sensitif gender dan pro-perempuan.

Foto-foto tubuh FH dan pesan seksualnya dengan HRS merupakan dua pertanda utama yang digunakan dalam membentuk opini publik. Dalam hal ini, FH sudah dipersonifikasikan sebagai perempuan yang terlihat seksi, menantang, dan mengundang hasrat. Tanpa gambaran visualisasi dan daya imajinasi yang kuat, masyarakat tidak akan terpengaruh oleh berita apa pun. Terlebih datangnya dari seorang HRS yang kerap mengklaim dirinya sebagai ulama besar umat Islam di Indonesia.

Sexism is a social diseaseMenjatuhkan Lawan Menggunakan Tubuh Perempuan, Seksualitas, dan Isu Moral

Lagi-lagi perempuan dikaitkan dengan seksualitas dan moral untuk menjatuhkan seseorang? Dan masyarakat akar rumput dipertontonkan bahwa, menjerat seseorang dengan cara-cara seperti itu sah-sah saja. Walhasil, antara aparat dan warga sipil menjadi sama seksisnya dan misoginisnya.

Tubuh perempuan bukanlah senjata atau aset untuk menjatuhkan lawan. Masih banyak kasus yang menjerat HRS yang harusnya didesak masyarakat agar polisi lebih serius menangani. Misalnya, kasus penghinaan Pancasila. Bagi mereka-mereka yang mengaku nasionalis, pancasilais, NKRI harga mati, atau memuja Pancasila, bukankah seharusnya lebih serius mendesak kepolisian perihal kasus tersebut, bukan ikut mengurusi selangkangan orang lain? 

Atau mau yang lebih penting lagi adalah kasus intoleransi dan rasisme. Desak polisi untuk menangani ini. Namun yang terjadi sekarang adalah segala cara dihalalkan asal HRS bisa masuk bui. Bukankah itu sama saja seperti yang dibilang Nietzsche, atau bisa diganti kata-katanya dengan; melawan FPI dengan cara-cara FPI. Lantas apa bedanya kalau juga buta Hak Asasi Manusia?

Kasus Lain Lebih Penting Daripada Soal Selangkangan

Adanya dalih bahwa, kasus selangkangan menjadi pintu masuk untuk kasus lain juga sama sesat pikirnya. Artinya, urusan selangkangan, seksual, perempuan, dan moral akan selau dikait-kaitkan. Nantinya polisi bisa cuci tangan. Yang penting HRS masuk penjara apa pun kasusnya. Sedangkan kasus yang lebih mendasar bagi kemanusiaan tak disentuh sama sekali. Yang penting isu HRS senyap, tidak bikin bising pemberitaan dan membebani kerja kepolisian. Padahal, siapa saja kelak bisa menjadi pengobar kebencian terhadap ras, suku/etnis, dan agama. Lalu akan didiamkan saja sampai kebongkar perihal kehidupan seksnya di ruang publik? Baru kemudian polisi mau menyikapi dengan serius?

Kita tidak bisa membiarkan politik dan hukum menjadi arena yang tidak ramah kepada perempuan terus-menerus. Jika kita tidak sama sekali berbenah maka kita akan menjadi sama seksisnya dan sama misoginisnya. Sama bigotnya. Cuma beda sisi mata uang saja.


K. El-Kazhiem, penulis kelas ‘siapa elu’, penerima jasa sunting naskah, dan soliter.

, , , , , , , ,

Tinggalkan Komentarmu