Virus Baru Bernama N1A9H

Mudheng dot com – Kekerasan lahir dari personalitas yang otoriter. Pribadi yang memiliki karakter otoriter biasanya cenderung melakukan kekerasan fisik ataupun psikis kepada orang lain supaya kehendaknya terpenuhi. Pribadi-pribadi otoriter biasanya dikenal dominan, selalu berusaha memengaruhi atau memaksa orang lain untuk mengikuti kehendaknya. Kebanyakan korban adalah orang-orang yang kurang memiliki kepribadian kuat. Sebagai contoh, dalam lingkungan terkecil adalah keluarga. Sosok istri menjadi sub-ordinat dari suami. Tak jarang ada sosok suami yang terkenal bertutur baik, taat beribadah, disukai rekan-rekan kerja, tapi ternyata melakukan tindak kekerasan terhadap istri dan anak-anaknya. Kekerasan yang paling tragis adalah yang menyerang psikis manusia, apalagi menggunakan wahana seksualitas sebagai alat melancarkan kekerasan tersebut.

Dalam Novel 1 Akal 9 Hati (N1A9H), wacana kekerasan itu digambarkan dengan bagaimana Maria, tokoh utama, berhadapan dengan fantasi seksual sang suami yang menggunakan cara-cara kekerasan dan memperlakukan dirinya seperti pelacur saat berada di ruang paling intim dari kehidupan pernikahan mereka. Ada adagium yang mengatakan bahwa ‘kalau tidak mau suamimu mengencani perempuan lain maka jadilah pelacur untuknya di rumah’. Ungkapan ini jelas sekali keliru dan berasal dari budaya patriarkat (patriarchy) yang sudah telanjur hidup membudaya di Republik ini. Perempuan mirip hewan peliharaan, harus didomestifikasi dengan segala peran domestik sehingga menjadi sub-ordinat lelaki. Tunduk pada sistem patriarkat sampai menjadi agen-agen yang menjerumuskan sesama perempuan.

Peminggiran perempuan ke ranah domestik (kasur, sumur, dapur) adalah wacana yang dipertukarkan dalam praktik berkeluarga, dan apabila si istri menolak maka sang suami mengeluarkan mantra ajaibnya, ‘lebih baik suamimu berzina atau nikah lagi?’ Inilah yang ditentang oleh sosok Maria dalam N1A9H. Dunianya serasa menghimpit. Tiba-tiba ia melihat bahwa, semua hal di sekitarnya dan kepedihan hidupnya disebabkan oleh laki-laki, dan ia begitu muak walau tidak sanggup berbuat apa-apa. Suatu saat ia mendapatkan gagasan untuk menuliskan semua pengalaman hidup dan apa yang ia rasakan. Menurutnya, jika rasa itu tidak ditumpahkan maka ia bisa menjadi gila. Ia akhirnya memilih jalan perceraian dan menjadi orang tua tunggal. Tiba-tiba ia menyadari bahwa seluruh harapan dan impiannya runtuh. Dalam keadaan demikian, sebisa mungkin ia berusaha bertahan.

Di sisi lain, seorang perempuan bernama Mawar datang memasuki kehidupannya. Ia menjadi karakter lain yang menguatkan Maria. Dalam diri Mawar ada wacana kegilaan yang diperbincangkan oleh pengarang novel ini. Namun, ia membantu Maria mengatasi trauma yang dihadapi dan persoalan hidup dengan membuka jalan kepenulisan. Efek dari kekerasan psikis dapat menjadikan seseorang mengalami gejala gangguan jiwa, tapi yang namanya ‘kegilaan’ juga merupakan produk dari normalisasi yang dilakukan oleh apparatus sosial. Mawar melawan konsepsi ‘normal’ dalam masyarakat. Ketika Mawar dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh keluarganya sendiri, ia bahkan sengaja menunjukkan reaksi histeria untuk memuaskan nafsu dari orang-orang yang telah menyebutnya gila. Menghakimi atau menjustifikasi orang lain dengan label-label adalah hawa nafsu sendiri yang sekarang ini sedang mewabah di kalangan masyarakat Indonesia. Ada orang-orang yang merasa lebih suci, lebih baik, lebih beradab atas orang lain dan berusaha agar yang berbeda dengan mereka harus dinormalisasi agar seragam.

Hawa nafsu ini muncul dari pribadi otoriter. Barangkali penyakit yang diidap masyarakat sekarang lantaran benih-benih otoriter dan intoleran telah tumbuh kembang di dasar hati. Terutama sistem patriarkat yang selalu mengunggulkan bahwa, laki-laki memiliki 1 Nafsu dan 9 Akal, sementara perempuan mempunyai 1 Akal dan 9 Nafsu. Namun dalam sistem patriarkat ini, laki-laki tak dapat mengekang 1 nafsunya dengan 9 akal yang mereka punya. Oleh karena itu, novel ini menggunakan judul 1 Akal 9 Hati sebagai dekonstruksi dari stigma yang dibenamkan sekian lama kepada perempuan oleh tatanan masyarakat patriarkat.

Endorsement:

“Buku ini dibuka dengan drama cinta, tapi jangan harap para pembaca dibuai dengan kisah Cinderella. El-Kazhiem menguak berbagai kepahitan karena hidup memang tak sekedar gula-gula. Dalam usia yang muda El-Kazhiem telah menulis dengan cukup mendalam dan dewasa. Adalah sebuah ‘dosa’ bila novel ini tidak diperhitungkan dalam khazanah sastra kita” — Soe Tjen Marching, penulis novel Mati, Bertahun yang Lalu.


Judul buku: 1A9H; 1 Akal 9 Hati

Penulis: K. El-Kazhiem

Editor (Penyunting): Tim Redaksi

Penerbit: Bhinneka

Cetakan pertama: Mei, 2016

Tebal: 233 Hlm.

ISBN: 978–602–70617–1–2

Untuk pemesanan dan informasi harga dapat menghubungi WA 08994126376 atau email: kupret@gmail.com

, ,

Tinggalkan Komentarmu